Tingkatkan Kualitas CBP KPP Kudus Adakan Diklat Protokoler Dan Administrasi

8:47 PM Add Comment
Kudus - Dewan Koordinasi Cabang (DKC) Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU Bersama Korp Pelajar Putri (KPP) IPPNU Kudus adakan pelatihan keprotokoleran dan administrasi. Kegiatan tersebut bertempat di Balaidesa Wates, Undaan, Kudus, Jum'at (24/11/2017).

       Tujuan diadakannya kegiatan tersebut untuk meningkatkan skill para kader. Dalam diklat tersebut diisi oleh 3 pemateri dari SATKORCAB BANSER KUDUS.

       "CBP KPP adalah kader lapangan, walaupun kita di luar ruangan jangan sampai kalah dengan yang ada di dalam ruangan," ucap Khoerul Anas Komandan DKC CBP Kudus.

       Anas, menambahkan, pelatihan ini juga untuk mempersiapkan SDM kita agar memiliki penguasaan keprotokoleran secara baik. Kedepannya organisasi ini memiliki banyak tim untuk sukseskan setiap kegiatan

        "Pelatihan keprotokoleran dan administrasi sangat penting untuk meningkatkan kualitas kader inti. Dengan digelarnya kegiatan tersebut, peserta mampu berinovasi dan mampu menerapkan ilmunya dalam mengelola acara dan keprotokolan,"kata Eko Saputro Komandan DKAC CBP Undaan.

       "Bukan hanya keprotokoleran saja, acara tersebut juga diisi dengan diklat administrasi yang pada kesempatan kali ini diisi oleh sekretaris Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kudus. Tujuannya agar para kader CBP KPP juga paham administrasi secara baik dan benar, karena CBP KPP juga punya aturan sendiri dalam bidang administrasi,"lanjutnya.

       Komandan Andi Selaku pemateri keprotokoleran menyampaikan "saya berharap dengan adanya diklat ini, peserta langsung mengaplikasikannya dalam sebuah kegiatan, supaya mengetahui hasil apa yang sudah didapatkan saat pelatihan.

       "Diharapkan lewat pelatihan ini para peserta yang terdiri dari DKAC CBP KPP se-Kabupaten Kudus bisa mengaplikasikan di DKACnya masing-masing," tutur Komandan Muh. (Maulana/ZAM)

People Jaman Now Tangkal Anti Hoax ala Gus Dur

3:33 PM Add Comment

Pertemuan hangat dengan putri bungsu Gus Dur yang berlangsung di Gedung NU pada Ahad Malam, (25/11) memberikan banyak inspirasi kepada para kader IPNU dan IPPNU untuk menjadi pribadi yang bijak, salah satunya tidak terseret berita hoax.

Berita hoax sudah ada sejak jaman Gus Dur, tetapi Gus Dur selalu menanggapi dengan pikiran yang terbuka dan sederhana. “Dahulu di sebuah media muncul foto bapak saya sedang memangku seorang perempuan, tetapi bapak saya menanggapinya sederhana dan hanya bilang gitu saja kok repot.” Jelas Inayah Wulandari menceritakan sosok Gus Dur ketika mendapati berita hoax.

Lebih lanjut, Inayah memberikan saran kepada seluruh kader IPNU dan IPPNU yang hadir dalam acara Kongkow Bareng itu untuk selalu menjaga keteraturan dan jangan langsung percaya pada berita yang disebar serta jangan malas untuk mencari sumber-sumber lain, jangan hanya percaya pada satu sumber saja. Ini menjadi salah satu bekal dasar supaya tidak terseret berita hoax yang sekarang marak di kalangan masyarakat, terkhusus kids jaman now.

Terakhir, dari pertemuan yang disempatkan oleh Inayah untuk bertemu kader NU, Inayah menegaskan lagi bahwa untuk mengurangi sesuatu kita harus memoerbanyak sesuatu yang berkebalikan. Jadi, untuk meminimalisir adanya berita hoax kita harus lebih banyak menyebarkan berita yang tidak hoax.

“Kalau ada berita hoax muncul, segera verifikasi sebelum lebih dari 4 jam. Kalau lebih dari 4 jam berita sudah menyebar dan susah untuk memverifikasi,” Inayah memberikan tips di akhir perbincangan hangatnya dengan para Kader NU Kudus. (Aang Riana Dewi)

Aktualisasi Gusjigang Pada Mahasiswa Jaman Now

Aktualisasi Gusjigang Pada Mahasiswa Jaman Now

7:51 PM Add Comment


Sejak tujuh-puluhan sampai sekarang pembangunan karakter dan pembangunan bangsa (character and nation building) tidak banyak mendapati perhatian, khususnya dalam kaitannya dengan pendidikan. Dunia pendidikan banyak dilontarkan tema-tema yang lebih praktis seperti menyiapkan lulusan siap pakai dan pendidikan berbasis kompetensi. Dengan kata lain, pendidikan cenderung dilihat hanya sebagai instrument untuk menyiapkan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan aktivitas ekonomi. Dalam perspektif ini manusia hanya dipandang sebagai faktor produksi.[1]
Dalam sejarahnya mahasiswa merupakan kelompok dalam kelas menengah yang kritis dan selalu mencoba memahami apa yang terjadi di masyarakat. Bahkan di zaman kolonial, mahasiswa menjadi kelompok elite paling terdidik yang harus diakui kemudian telah mencetak sejarah bahkan mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan. Adapun salah satu faktanya, mahasiswa menjadi pelopor terbentuknya organisasi terpelajar Budi Utomo.
Menurut esensinya, mahasiswa memiliki beberapa fungsi strategis. Pertama, penyampaian kebenaran (agent of control). Sebagai seseorang yang terdidik dengan ilmu yang mumpuni, maka menyebarkan kebaikan sebagai usaha untuk menuju perubahan yang lebih baik sudah menjadi kewajiban. Namun, tidak bisa dipungkiri mahasiswa sebagai contol perubahan terkadang juga kurang dapat mengontrol dirinya sendiri. Sehingga mahasiswa harus menghindari tindakan dan sikap yang dapat merusak status yang disandangnya, termasuk sikap hedonis-materialis yang banyak menghinggapi mahasiswa. 
Kedua, mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change). Hampir tidak ada yang mengingkari bahwa sejarah perjalanan bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari peranan mahasiswa. Periode sebelum kemerdekaan hingga awal kemerdekaan sampai era reformasi, mahasiswa mampu menampilkan dirinya sebagai agen perubahan (agent of social change) dan agen intelektual (agent of intellectual).[2]
Mahasiswa sudah terlanjur di kenal dalam masyarakat sebagai agent of change, agent of modernization, dan agen-agen lainnya. Hal ini memberikan konsekuensi logis kepada mahasiswa untuk bertindak sesuai dengan gelar yang disandangnya. Mahasiswa harus menyadari bahwa banyak hal di Negara ini yang harus diluruskan dan diperbaiki. Kepedulian terhadap Negara dan komitmen terhadap nasib bangsa di masa depan harus di interpretasikan oleh mahasiswa ke dalam hal-hal yang positif.
Dalam lingkungan masyarakat, semisal di Desa Kedungsari yang menjadi bagian dari desa yang ada di Kota Kudus, keaktifan mahasiswa dalam lingkungan masyarakat sangat diharapkan. Sebagai seorang yang sudah dewasa dan berkompeten, mahasiswa dipercaya dapat memegang kendali untuk menertibkan dan memakmurkan sebuah desa. Hal itu terbukti ketika misalnya kalau ada acara 17 agustusan, seorang mahasiswa dipercaya dapat memeriahkan dan mensukseskan acara tersebut. Tidak hanya itu, dalam hal lain misalnya, kalau di Desa Kedungsari akan mengadakan sebuah pengajian maka mahasiswa diberikan amanat untuk memegang tanggungjawab penuh atas acara tersebut, mulai dari pencarian dana, merencanakan rangkaian acara sampai mensukseskan acara ketika berlangsung.[3] Maka, peranan mahasiswa dalam masyarakat menjadi hal yang vital
Ketiga, mahasiswa sebagai generasi penerus masa depan. Sebagai seseorang yang telah matang usianya, kritis daya pikirnya dan mempunyai segenap ilmu yang mumpuni, mahasiswa tepat sekali menjadi generasi penerus perjuangan bangsa dan sudah saatnya berkontribusi nyata untuk kebaikan Indonesia masa depan. Hal itu dapat dilakukan dengan mengasah keahlian dan spesialisasi di bidang ilmu yang mereka pelajari di perguruan tinggi, agar dapat meluruskan berbagai ketimpangan social ketika telah terjun dalam masyarakat.
Sebagai seorang mahasiswa yang mempunyai tanggungjawab besar, yakni menjadi agen control social, agen control perubahan dan penerus generasi masa depan sudah seyogianya memiliki karakter baik untuk menjalankan segenap tanggungjawabnya dengan maksimal.Pembentukan karakter sangat diperlukan demi terciptanya masyarakat yang harmonis. Sebab bila seseorang telah kehilangan karakter baiknya, ia akan kehilangan sisi geniusnya dan kehadirannya di public kehilangan kebermanfaatan.
Seorang pendiri dan guru bangsa kita beliau K.H. Hasyim Asy’ari dalam karya klasiknya Adabul ‘Alim wal Muta’allimin: semua amal ibadah, baik rohani maupun jasmani, perkataan maupun perbuatan tidak akan dihitung kecuali disertai dengan perilaku serta budi pekerti yang terpuji. Sebuah ajaran Sunan Kudus yang sarat dengan karakter baik dalam hal ini tepat sekali untuk dijadikan referensi dalam bermoral bagi generasi millennial yang sedang dilanda ‘sakit’ adalah Gusjigang.
Di Kudus, ada sebuah istilah yang dinisbatkan untuk masyarakat Kudus yang suka berdagang, yaitu istilah Gusjigang. Istilah dan filosofi Gusjigang (bagus, ngaji dan dagang) selama ini diyakini sebagian orang sebagai citra diri masyarakat Kudus. Filosofi ini merupakan warisan budaya yang konon dicetuskan oleh Sunan Kudus sebagai peletak dasar Kota Kudus. Gusjigang mengisyaratkan bahwa tapak laku Muslim itu haruslah bagus (baik), bisa mengaji dan pandai berdagang. Ada semacam integritas antara perilaku agama dan pekerjaan, yang ketiga hal tersebut tentu saja menjadi karakter bagi setiap manusia.[4]
Melihat berbagai fenomena aneh yang terjadi di kalangan remaja atau generasi millennial sedang darurat moral, maka diperlukan pencegahan segera agar perilaku yang nyeleneh tidak semakin membudaya. Generasi yang diharapkan Negara ini malah sibuk melakukan hal nyeleneh, berebutan viral dan menjadi sosialita. Generasi yang seharusnya meneruskan estafet perjuangan bangsa ini malah sibuk membudayakan hal negative yang memberikan dampak pada masyarakat melalui social media. Mahasiswa sebagai insan dewasa yang terdidik, terkhusus mahasiswa STAIN Kudus seyogianya mampu memberikan contoh dalam bersikap dan berkarakter dengan baik dengan menerapkan Gusjigang yang menjadi salah satu buah ajaran Sunan Kudus seorang Waliyullah di Kota Kudus.
Lance Morrow mengatakan, “Transmisi nilai-nilai kebaikan adalah kerja peradaban. Sejarah mengingatkan kita bahwa peradaban tak selamanya tumbuh. Kadang bangkit, kadang runtuh. Ia meruntuh saat moral merosot –kala suatu masyarakat gagal mewariskan kebaikan utama –kekuatan karakternya –kepada generasi barunya.”  Jelaslah, bahwa semakin rusaknya moral generasi bangsa semakin rusak pula tatanan masyarakat dan hilanglah keharmonisan dalam masyarakat.
Gusjigang yang merupakan gabungan dari beberapa makna menyimpan beberapa nilai karakter yang penting sekali untuk diterapkan pada setiap pribadi generasi masa kini terkhusus mahasiswa. Pertama, gus yang berarti bagus dalam hal akhlak. Jika pesan ini di aktualisasikan dalam lingkup mahasiswa, maka bagusnya akhlak mahasiswa adalah salah satunya dengan memiliki rasa tanggungjawab dengan ‘title mahasiswanya.’ Berdasarkan survey kepada beberapa mahasiswa terdapat mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang) dan ketika diberi tugas hanya menggantungkan diri kepada teman; tidak mau bekerja sendiri. Jika hal ini dibiarkan terus berkelanjutan, maka untuk menciptakan generasi yang handal dan mandiri menjadi hal yang mustahil. Maka, salah satu ikhtiar untuk mencetak generasi yang mandiri adalah dengan menginternalisasikan nilai gus ini pada setiap pribadi.
Memiliki pikiran yang merdeka merupakan salah satu kriteria karakter baik yang harus dimiliki oleh mahasiswa masa kini. Semisal dalam membuat makalah, seharusnya seorang mahasiswa tidak menyalin semua kalimat yang terdapat dalam sebuah buku, karena itu sama saja dengan mengcopy paste. Seyogianya dalam membuat makalah seorang mahasiswa boleh mengambil teori dari seseorang yang ahli lalu dikembangkan dengan daya pikirnya sendiri. Selain melatih pikiran supaya ‘merdeka’ hal ini juga mentradisikan untuk mengasah daya pikir yang mandiri, kreatif dan inovatif.[5]
Kedua, ji yang bermakna ngaji. Ngaji yang dimaksud dalam hal ini tidak hanya mengaji dalam agama saja, tetapi mengaji ilmu-ilmu umum yang merupakan manifestasi dari ayat-ayat kauniyah seperti ilmu bahasa, ekonomi, teknologi, sains, dan ilmu-ilmu lainnya. Jadi tidak perlu ada dikotomi ilmu karena sejatinya semuanya ilmu dari Allah yang seyogianya dipelajari.[6] Menjadi mahasiswa, khususnya di STAIN Kudus, banyak sekali ilmu agama dan ilmu umum yang dipelajari untuk setiap prodi. Maka ini menjadi kesempatan emas yang sebaiknya dimanfaatkan untuk sekaligus mempelajari ilmu-ilmu agama dan umum supaya pengetahuan makin berkembang dan mampu berkontribusi untuk kemajuan bangsa ini.
Ketiga, gang yang berarti dagang mempunyai maksud seyogianya menjadi seorang mahasiswa yang kreatif dalam berdagang; berlatih berwirausaha untuk mempersiapkan personal yang mandiri dan dapat membantu perekonomian Negara. Mahasiswa dapat memulai belajar berwirausaha sejak masih di bangku perkuliahan. Adapun beberapa usaha yang dijalankan oleh mayoritas mahasiswa adalah dengan menjadi reseller atau penjual. Dengan usaha ini, meski belum bisa menciptakan hal kreatif ciptaan sendiri, tetapi setidaknya sudah memulai belajar untuk berwirausaha. Karena untuk menciptakan hal besar harus dimulai dengan langkah-langkah sederhana.[7] Dengan usaha ini, setidaknya seorang mahasiswa dapat membuktikan bahwa mahasiswa tidak selalu meminta uang kepada orang tua saja, tetapi mahasiswa juga dapat memberikan untuk orang tua.  
Di tengah-tengah kita ada sebuah istilah “adat-istiadat”. Dalam bahasa Arab, artinya suatu kebiasaan (‘adah) yang diminta untuk diulang-ulang (isti’adah-wazan istif’al). Artinya, kebiasaan baik perlu upaya transformasi nilai secara terus menerus sehingga menjadi budaya suatu masyarakat. Prosesnya dari kebiasaan akan menjadi tradisi dan selanjutnya akan menjadi budaya, dan inilah modal paling mahal dalam membangun peradaban bangsa.[8] Mengetahui dan memahami sesuatu tanpa diamalkan dalam keseharian adalah sebuah kebodohan besar. Maka dari itu, setelah mengetahui poin penting ajaran karakter dalam Gusjigang langkah selanjutnya adalah dengan menerapkannya dalam keseharian dan menjadikannya sebuah kebiasaan.
Dengan mengimplementasikan karakter Gusjigang dalam diri seorang mahasiswa, terkhusus mahasiswa STAIN Kudus dapat menjadi langkah vital untuk menciptakan karakter agami, berbudi pekerti dan mandiri. Maka mahasiswa jaman now STAIN Kudus akan dapat menjadi referensi dalam bermoral untuk mahasiswa di seluruh Indonesia. Dengan begitu, terciptanya Negara yang damai dan berdaulat sudah bukan menjadi impian. 


[1] Ida I Dewa Gede Raka, Pembangunan Karakter dan Pembangunan Bangsa, Bandung: Institute Teknologi Bandung, Last Lecture, November, 2008, hal 8.
[2] Ali Ashgar dan Aridho Pamungkas, Perpecahan HMI, Jakarta: Bumen Pustaka Emas,2013, hal 1.
[3] Noor Setia Budi, Wawancara  Pribadi, 13 November 2017.
[4] Ahmad Bahruddin, Spirit Gusjigang Kudus dan Tantangan Globalisasi Ekonomi, Jurnal Penelitian, Volume 9, Nomor 1, Februari 2015, hal 21.
[5] Nur Said, wawancara pribadi, 23 September 2017.
[6] Nur Said, Wawancara Pribadi, 23 September 2017.                                                                             
[7] Noor Faizah, W  awancara Pribadi, 13 November 2017.
[8]Muhammad Nuh, Menyemai Kreator Peradaban, Jakarta: Penerbit Mizan, 2013,  hal 56.

Gelar RAPIMANCAB Untuk Sukseskan KONFERANCAB PAC IPNU IPPNU Jekulo

7:50 PM Add Comment
Kudus - PAC IPNU IPPNU Jekulo adakan rapat koordinasi KONFERANCAB IPNU ke-XV dan IPPNU ke-XIV. Kegiatan tersebut bertempat di SMK NU Ma'arif 2 Kudus, Ahad (19/11/2017).

       Kegiatan yang digelar selama 2 jam ini dimulai dari jam 15.00-17.00 WIB berjalan lancar. Tujuan diadakannya rapat tersebut untuk memberitahukan kepada semua Pimpinan Ranting (PR) dan Pimpinan Komisariat (PK) se-Jekulo bahwa akan dilaksanakan KONFERANCAB.

       "Rapat koordinasi ini dihadiri semua ketua dan sekretaris PR/PK se-Jekulo," ucap Achmad Syaichuddin Wibowo Ketua PAC IPNU Jekulo.

       Bowo, menambahkan, bahwa semua PR/PK se-Jekulo harus tau kalau PAC IPNU IPPNU Jekulo akan melaksanakan kegiatan KONFERANCAB (Konferensi Anak Cabang) atau pemilihan ketua dan pengurus baru pada tanggal 1 Desember 2017 di SMK NU Ma'arif 2 Kudus.

       "Kurang 2 minggu periode kami akan selesai, semoga ketua dan pengurus yang baru bisa meneruskan perjuangan kami dan lebih baik lagi dari periode ini," kata Siti Rokhimah Ketua PAC IPPNU Jekulo.

       Mengenai juklak dan ketentuan peserta diantaranya yaitu masing-masing PR/PK IPNU IPPNU membawa foto copy Surat Pengesahan, membawa surat mandat dari PR/PK IPNU IPPNU, mengisi biodata peserta, melampirkan foto copy KTA, masing-masing PR/PK IPNU IPPNU memiliki 1 hak suara dan lain sebagainya.

       "Diharapkan lewat rapat koordinasi ini, nanti pada saat KONFERANCAB setiap PR/PK wajib mengirimkan 6 orang (3 IPNU 3 IPPNU)" tutur M. Aulal Faqih. (ZAM)

'Selametan' Pelantikan PK IPNU IPPNU Al-Hidayah Dengan Potong Tumpeng

3:04 PM Add Comment
Kudus - Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) merupakan organisasi pelajar di bawah naungan LP Ma'arif NU yang berada di lingkungan lembaga pendidikan formal.

Pimpinan Komisariat IPNU IPPNU MTs, MA, dan SMK NU Al-Hidayah melaksanakan kegiatan sakral dan wajib dilakukan bagi pengurus baru, yakni pelantikan (Ahad, 19/11/2017). Kegiatan tersebut bertempat di halam utama Madrasah NU Al-Hidayah Getasrabi, Gebog, Kudus.

"Hari ini dan di tempat ini akan menjadi saksi bisu terbentuknya pengurus baru PK IPNU IPPNU MTs, MA, dan SMK NU Al-Hidayah," kata M. Ridlwan selaku Ketua PAC IPNU Gebog.

Ridlwan, menambahkan, bahwa prosesi pelantikan IPNU dipimpin langsung oleh saya, dengan pembaca Surat Pengesahan adalah Rekan Asfil Ajib. Begitu juga dengan IPPNU dilantik langsung oleh Ketua PAC IPPNU Gebog Rekanita Dwi Ratnasari dengan pembaca Surat Pengesahan oleh Rekanita Izzatuddaroini.

"Selamat dan sukses atas pelantikan rekan-rekanita PK IPNU IPPNU MTs, MA, dan SMK NU Al-Hidayah masa khidmah 2017/2018. Selamat kepada pengurus baru yang dilantik, semoga kalian bisa menjadi kader yang di harapkan oleh NU, yakni mabadi khoiro ummah atau umat yang terbaik. Dengan semboyan belajar, berjuang, bertaqwa menambah semangat dalam berorganisasi IPNU IPPNU," tutur Bapak Zainuddin S.Ag selaku Ketua Yayasan Manafiul Ulum dalam sambutannya.

"Setelah prosesi pelantikan, dilanjutkan dengan acara potong tumpeng bersama. Tumpeng merupakan akronim dalam bahasa Jawa, yakni yen metu kudu sing mempeng (kalau keluar harus sungguh-sungguh)," imbuhnya.

Diharapkan lewat pelantikan ini kader PK IPNU IPPNU MTs, MA, dan SMK NU Al-Hidayah mampu menjadi motor penggerak kegiatan di sekolah. (Ridlwan/ZAM)

Pengurus PC. IPNU Kudus Ziarahi Makam Pendiri IPNU

9:49 AM Add Comment
Jogjakarta – Dalam rangka memeringati hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November, ketua dan bendahara PC. IPNU Kudus adakan ziarah ke makam pendiri IPNU, Senin (13/11/2017).

"Saya dan bendahara PC. IPNU Kudus berziarah ke makam pendiri IPNU Prof. KH. Tolchah Mansoer yang dimakamkan di Bantul, Jogjakarta," kata M. Wahyu Saputro Ketua PC. IPNU Kudus.

Wahyu, menambahkan, bahwa untuk mengenang jasa para pahlawan khusunya pahlawan IPNU harus ada bukti konkret yaitu berziarah ke makam beliau. Beliau saat itu berjuang sangat berat untuk mendirikan organisasi pelajar ini. Berbagai rintangan, halangan, dan cobaan beliau alami semuanya. Dari hasil pengorbanan beliau dapat kita rasakan sekarang dengan semakin eksisnya IPNU di Indonesia.

"Saat ziarah, kita didampingi komandan DKW CBP Jogjakarta," tutur Triasno Putranto Bendahara PC. IPNU Kudus.

"Setelah selesai ziarah komandan DKW mengajak kita keliling Jogja dan menikmati kopi ala Jogja sembari ngobrol tentang IPNU. (ZAM)

Makesta Raya Sebagai Motor Penggerak IPNU IPPNU Seluruh Sekolah Di Kudus

9:10 AM Add Comment
Kudus - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kudus adakan makesta raya yang bertempat di SMK NU Ma'arif Kudus.

Kegiatan yang digelar selama 2 hari ini pada tanggal 9-10 November 2017 berjalan lancar. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut agar peserta mampu menjadi motor penggerak organisasi IPNU IPPNU di sekolahnya masing-masing dan membawa Pimpinan Komisariat (PK) di sekolahnya unggul, Selasa (14/11/2017).

"Makesta Raya yang diselenggarakan oleh PC. IPNU IPPNU Kudus diikuti 64 sekolah SMP/Sederajat dan SMA/Sederajat di bawah naungan LP Ma'arif NU Kudus," kata M. Wahyu Saputro ketua PC IPNU Kudus.

Wahyu, menambahkan, bahwa makesta raya diikuti oleh ketua atau pengurus harian PK di bawah naungan LP Ma'arif NU se-Kab. Kudus. Sesuai dengan tema "membangun karakter pelajar berjiwa patriotism yang sukses akademis dan organisasi. Harapannya output dari makesta raya dapat meningkatkan rasa cinta tanah air dan senantiasa semangat belajar, berjuang untuk organisasi IPNU IPPNU. Pelajar NU harus cerdas dalam segala hal, cerdas intelektual, emosional, dan spiritual.

"Untuk MA 8 kelas dan MTS 8 kelas dengan rata-rata 30 peserta per kelas," ucap Nurul Arifah Wakil Ketua Bidang PSPM PC IPPNU Kudus.

"Diharapkan lewat kegiatan ini, siswa siswi di sekolah dalam naungan LP Ma'arif NU Kudus mempunyai jiwa patriotisme dan cinta tanah air," tutur M. Ahrisin Najib. (ZAM)

Berbenah Diri, PAC IPNU IPPNU Kota Adakan Diklat Administrasi

9:51 PM Add Comment
Suasana Pemberian Materi Pembuatan Surat Menyurat Yang diberikan oleh Sekretaris PC IPNU Kudus
Kudus, ipnuippnukudus.or.id administrasi merupakan hal yang melekat terhadap organisasi. Karena melalui administrasi seluruh kegiatan organisasi terisusun rapi dan sistematis. Pentingnya penantaan administrasi membuat PAC IPNU IPPNU Kota Kudus mengadakan diklat administrasi 17/11.

Bertempat di MI NU Banat Kudus, diklat  administrasi ini dibuka langsung oleh ketua MWC NU Kota yaitu Bpk. Miftah Baidlowi dan dihadiri langsung oleh PC IPNU IPPNU Kabupaten Kudus. Dalam diklat tersebut diikuti sebanyak 53 peserta yang berasal dari Pimpinan Ranting (PR) dan Pimpinan Komisariat yang ada dikecamatan kota.

Restu Hermawan selaku ketua PAC IPNU Kota ketika ditemui oleh tim media pelajar nu kudus mengungkapkan” ini adalah langkah awal kita untuk menata seluruh administrasi yang berada di komisariat maupun di ranting. Karena baru-baru ini banyak PR maupun PK yang sudah melaksanakan RA mauapun akan melaksanakan RA.”

“Sehingga kami merasa mempunyai kewajiban untuk mengawal dan sekaligus membenahi administrasi yang ada di PR maupun PK untuk keberlangsungan secara organisasi yang secara kondusif” imbuh Restu sapaan akrabnya.

“Saya selaku ketua PC IPNU Kudus memberikan apresiasi terhadap PAC IPNU IPPNU Kota Kudus yang telah menyelengarakan diklat administrasi ini. Inilah harapan kami yang sudah terealisasikan dan sudah sampai kebawah yaitu PR maupaun PK. Sebagaimana kita ketahui bahwasannya Administrasi merupakan oleh wajah dari organisasi yang sangat penting bagi keberlangsungan organisasi. Sehingga itu merupakan kewajiban kami untuk mengadakan Diklat Administrasi yang dilaksanakan pada Rakercab II. Kegiatan  ini merupakan follow Up dari  kegiatan diklat administrasi yang diselengarakan oleh PC IPNU beberapa waktu yang lalu.” Ujar M. Wahyu Saputro selaku ketua PC IPNU Kudus.

.”Harapannya setelah ada diklat administrasi yang diselengarakan oleh PAC IPNU IPPNU Kota, seluruh PR dan PK lebih teliti dalam menata administrasi. dan Ini adalah diklat keorganisasian yang kedua setelah PAC IPNU IPPNU Dawe. dan Harapannya diklat administrasi ini bisa berjalan di seluruh PAC IPNU IPPNU Se-Kabupaten Kudus” Imbuh Yoyok Sapaan Akrabnya

Dalam diklat administrasi yang diselengarakan oleh PAC IPNU IPPNU Kota. terdapat beberapa materi yang diberikan terhadap PR maupun PK diantaranya adalah materi Beda Peraturan Organisasi, Bedah Administrasi dan praktek membuat surat yang diisi langsung dari Sekretaris PC IPNU Rekan M. Tausi’ul Ilma dengan Sekretaris PC IPPNU Rekanita Asriyani Awaliyah. (MA)

Makesta Raya: Cikal Bakal Berdirinya PK IPNU IPPNU di Kabupaten Kudus

8:53 PM Add Comment

Kudus, ipnuippnukudus.or.id Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) merupakan jenjang pengkaderan pertama di IPNU IPPNU. Makesta merupakan wahana untuk memperkenalkan dan perekrutan IPNU IPPNU terhadap anggota baru yang berada di ranting atau komisariat. Namun kurangnya perhatian yang serius terhadap penanganan komisariat IPNU IPPNU yang ada dikudus menyebabkan banyaknya PK IPNU IPPNU yang vakum dan hanya sebatas kepengurusan saja. Sehingga PC IPNU IPPNU menyelengarakan Makesta Raya Pimpinan Komisariat 09/11.

Bertempat di SMK NU Ma'arif Kaliwungu Kudus, makesta raya dihadiri ole ketua PC LP Ma'arif  Didik Hartoko, PC NU yang diwakili oleh Sodikun, dan ketua PC IPNU M. Wahyu Saputro, ketua PC IPPNU Khotimatus Saadah. Makesta Raya ini diikuti 250 peserta yang berasal dari sekolah di bawah naungan LP Maarif yag terdiri dari MTs dan MA/SMA/SMK.

Didik Hartoko dalam pidatonya saat pembukaan Makesta Raya " kegiatan ini merupakan kerja sama kami LP Maarif dengan IPNU IPPNU yang sudah lama terjadi. dengan adanya Makesta Raya ini diharapkan para peserta dapat mengikuti dengan baik dan dapat diaplikasikan di sekolahnya masing-masing."

Rekan Nurul Arifah selaku ketua SC Makesta raya dan Wakil Ketua PC IPPNU bidang Santri, Pelajar dan Mahasiswa ketika ditemui oleh redaksi pelajar nu kudus mengatakan "Kudus merupakan kota santri, banyak santri dan madrasah-madrasah yang notabenya adalah di bawah naungan NU, namun ketika dijumpai malah banyak organisasi Osis dari ketimbang IPNU IPPNU."

"Sehingga kami dari awal periode konsen terhadap pembentukan komisariat yang ada di sekolah-sekolah LP Maarif. Maka dari itu kami membentuk Makesta Raya, mealui Makesta Raya ini diharapkan pala pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut bisa mendirikan PK IPNU IPPNU di sekolahan masing-masing"

Makesta Raya  berjalan selama dua hari dimulai tanggal 09 November sampai 10 November 2017 dan diakhiri dengan Pembaiatan para peserta menjadi angta resmi IPNU IPPNU dan akan diserahkan langsung oleh PAC IPNU IPPNU terkait. (mus)

Tokoh Nasional Hadiri ISPT Kab. Kudus

1:53 AM Add Comment

Kudus, Islamic Student Patriotism Training (ISPT) merupakan kegiatan yang memberikan wawasan terhadap pelajar khususnya pelajar yang ada di Sekolah Negeri di Kabupaten Kudus. Kegiatan yang luar biasa ini membuat para tokoh lokal dan  Nasional turun langsung demi memberi pengetahuan dan wawasan terhadap pelajar dikabupaten Kudus. Tokoh nasional Nusron Wahid dan Dwi Saifullah hadir langsung dalam kegiatan ISPT Kab. Kudus 04/11.

Nusron Wahid selaku Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNPTTKI) memberikan semangat terhadap pelajar disekolah negeri yang ada dikabupaten Kudus, karena Nusron prihatin dengan keadaan pelajar yang sekarang. Banyak pelajar indonesia yang tidak mempunyai cita-cita yang tinggi. Jika keadaan ini diterus-teruskan indonesia kedepannya hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Maka dari itu kami berharap pelajar yang ada dikabupaten Kudus ini mempunyai cita-cita yang tinggi untuk menjadi bos di negeri sendiri.

Pelajar disamping kewajibannya belajar dengan sunguh-sunguh, pelajar juga harus mengetahui gerakan-gerakan yang mengatas namakan Islam dan ingin mendirikan Negara Islam di Indonesia. Indonesia sejadinya sebagai negara yang baldatun toiyyibatun warabbun ghofur harus di jaga dengan sunguh-sunguh, karena yang para pelajar sekarang jika tidak diberi pengeahuan tentang pentingnya menjaga NKRI, kami tidak akan mengerti wajah Indonesia 50 tahun kedepan. Ujar Nusron

Selain Nusron Wahid, ISPT Kab. Kudus dihadiri oleh Ketua PP IPNU. Dwi Saifullah yang sekarang menjabat sebagai Ketua PP IPNU Bidang Kaderisasi juga turut hadir dalam ISPT Kab. Kudus. Dwi Saifullah Mengharap para pelajar yang mengikuti kegiatan ini bisa terbuka wawasannya dan bisa menjadi Patriot di sekolahnya masing-masing. Disamping itu Dwi (sapaan akrabnya) juga menghimbau terhadap pelajar khususnya disekolah negeri agar jangan mudah terpancing untuk ikut-ikutan mendirikan Negara Islam. Karena kita belajar dari timur tengah, banyak negara Islam tapi negara tersebut tidak lama perang antar saudara, perang antar suku, dan perang-perang lainnya. Indonesia sebagai negara pluralisme yan menjunjung tingi nilai-nilai keagamaan harus tetap dijaga karena yang mendirikan Indonesia bukan hanya Islam saja namun agama lain uga terlibat dalam pembentukan NKRI.

Kegiatan ISPT di Kabupaten Kudus ini merupakan pembuka diantara ISPT-ISPT yang akan diselenggarakan oleh cabang-cabang lainnya yang ada di Jawa Tengah Maupun di seluruh Indonesia.

ISPT Langkah Awal Tumbuhkan Rasa Nasionalisme

1:48 AM Add Comment


Kudus, Indonesia sekarang digunang dengan adanya gerakan yang mengatasnamakan Islam yang ingin mendirikan negara Islam. Gerakan tersebut semakin hari semakin memprihatinkan, IPNU IPPNU yang fokus terhadap pelajar tergugah semanganya untuk mengadakan Islamic Student Patriotism Training (ISPT) Kabupaten Kudus.

Bertempat di Wisma Muslimin Jangalan Kudus, ISPT diikuti 60 peserta dari SMA 1, SMA 2, SMA 1 Jekulo, SMA 1 Mejobo, SMA 1  Bae, dan MAN 2 Kudus yang dikategorikan sebagai sekolah negeri favorit di Kabupaten Kudus 03/11. Acara tersebut dihadiri oleh Kesbangpol Kab. Kudus Eko Harijatmiko, Ketua PW IPNU Jawa Tengah Ferial Farkhan Ibnu Ahmad, Ketua PP IPNU Dwi Saifullah.

Wahyu Saputro selaku ketua PC IPNU Kudus menuturkan bahwa kami meliha kondisi pelajar sekarang semakin resah, karena mereka menerima informasi, ngaji berasal dari sumber yang tidak kurang berkualitas. Sehingga inilah yang membuat pemikiran dari para pelajar secara langsung ingin mendirikan negara Islam. Melalui ISPT ini kami mencoba meluruskan pemikiran-pemikiran pelajar sekarang menjadi lurus sehingga lebih mencintai Indonesia.

Ferial Farkhan Ibnu Akhmad selaku ketua PW IPNU Jawa Tengah menghimbau terhadap pelajar agar mengklarifikasi setiap berita yang ada, karena berita yang sering diterima oleh pelajar pasti kebenaran berita tersebut masih dipertanyakan. Disisi lain pelajar tersebut juga harus menanamkan cita-citanya setingi mungkin, karena pada tahun 2045 Indonesia akan menduduki puncak kejayaannya dengan didukung 70% dari rakyat Indonesia yang mendominasi adalah usia produktif sehingga ini perlu juga didukung oleh pelajar yang sekarang belajar untuk tetap belajar dengan sunguh-sunguh supaya kita bisa menghadapi tantangan kedepan yang semakin hari semakin kompetitif.

Pelajar seharusnya bisa menjadi pelopor untuk menjadi manusia yang lebih cinta terhadap Indonesia, karena pelajar mempunyai sifat idealisme yang tinggi untuk memberikan pengetahuan betapa berharganya Indonesia. Ujar Eko Harijatmiko selaku Kesbangpol Kab. Kudus
Acara ISPT dimulai dari hari Jum’at dan diakhiri pada hari Ahad. Direncanakan berbagai tokoh Regional dan Nasional akan menghadiri ISPT kabupaten Kudus.