BPUN KUDUS 2016 : “Man Jadda Wa Jadda”

1:42 PM Add Comment
Rabu(27/04) kemaren bertempat di SMK Assa’idiyyah 2 Kudus berlangsung dengan hikmat pembukaan Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) Kudus Tahun  2016 ini.

BPUN merupakan program yang dijalankan PC IPNU IPPNU Kab Kudus setiap tahunnya dengan memberikan bimbingan belajar secara gratis kepada pelajar yang ingin menempuh pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. “Para peserta BPUN ini akan kita asramakan selama 1 bulan penuh terhitung 27 April s/d 27 Mei 2016 dengan harapan para peserta dpt menggodok mata pelajaran sebelum mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri” terang Rekan Abu Hasan selaku Manajer Kota di sela sela pembukaan.
Kali ini terasa spesial Kudus sebagai penyenggala dapat menggelar di 2 titik sekaligus yakni di SMK Assa’idiyyah 2 Kudus di Mejobo dan Pon Pes Zainal Husein Golantepus.

BPUN ini sebagai media dan jembatan para pelajar yang beruntung mendapat bimbingan ini untuk masuk ke PTN, Student Today Leadher Tomorrow adalah menjadi slogan. “sekarang kita adalah pelajar tapi siapkan diri rekan rekanita karena dimasa yang akan datang kitalah pemimpinnya” tandas Rekan Joni Ketua PC IPNU dalam sambutannya.

Selain diasramakan selama 1 bulan, fasilitas yang diberikan adalah bimbingan dari para tentor, modul pembelajaran, asrama yang nyaman, bimbingan konseling putri, out bond, motivationt, capasity building tentang leadhersip, kewirausahaan, pengembangan diri, pembekalan sebelum masuk kedunia kampus dan lain sebagainya.


“Man Jadda wa Jadda” sepenggal kata semangat dari Bapak Drs. Abdul Hadi yang sekaligus membuka BPUN 2016 ini mejadi pemercik api semangat tersendiri bagi para peserta. (ws)

Poros Kaderisasi IPNU

10:00 PM Add Comment



"Mengingat Pentingnya Proses Kaderisasi yang terstruktur dengan standar kinerja yang bermutu, maka Pimpinan Pusat IPNU menginstruksikan semua jajaran kaderisasi tiap tingkat kepengurusan mulai dari PW, PC, PAC, PR, hingga PK untuk mengajukan surat permohonan Buku Pedoman Kaderisasi IPNU ke PP IPNU dalam format pdf” Dwi Syaifullah, Ketua Kaderisasi PP IPNU.
Bagi Rekan yang membutuhkan - Buku Pedoman Kaderisasi IPNU - dalam bentuk .pdf dapat mengajukan surat permohonan dengan mengirim surat resmi (via scan) dari Pengurusan IPNU masing-masing tingkatan ke email: redaksi@ipnu.or.id

Kartini, Santriwati Kesayangan Mbah Sholeh Darat

11:51 AM Add Comment
Oleh M. Rikza Chamami (Dosen dan Mahasiswa Program Doktor UIN Walisongo Semarang/ Alumni IPNU)


Raden Ajeng Kartini yang lahir di Mayong Jepara 21 April 1879 M bertepatan dengan 28 Rabi’ul Akhir 1297 H memang selalu menarik untuk dikaji. Ia adalah perempuan Jawa yang seakan memang sudah dewasa. Padahal dilihat dari sejarah hidupnya, ia hanyalah anak muda yang ketika menikah berusia 24 tahun dan meninggal berusia 25 tahun (17 September 1904).

Bisa dibayangkan bahwa dengan usia 25 tahun saja, ia menjadi inspirasi dunia, bagaimana kalau Kartini hidup lebih lama lagi? Tentunya angan-angan itu tidak bisa diteruskan. Sebab itulah takdir Allah yang sudah digariskan. Yang perlu dibahas disini adalah bagaimana Kartini mampu menerobos pintu sejarah yang demikian ketat, sehingga dirinya mampu menjadi tauladan bangsa?


Jawabnya adalah bahwa Kartini merupakan perempuan Jawa yang peduli pendidikan. Hari-harinya dimanfaatkan untuk belajar, membaca, beribadah dan berdiplomasi dengan gaya perempuan Jawa. Yang dimaksud adalah diplomasi gaya korespondensi. Itu ia lakukan karena tradisi Jawa tidak memperbolehkan perempuan keluar jauh-jauh dari rumah. Maka, tembok Kadipaten yang ia huni tidak dijadikan penghalang untuk tetap semangat belajar.

Satu hal yang masih belum terkuak secara mendalam adalah soal hubungan Kartini dengan KH Muhammad Sholeh bin Umar (Mbah Sholeh Darat). Seakan kisah ini tidak bisa dijadikan hal biasa dan perlu diperdalam kembali. Apalagi saat pengajian rutin Kitab Mbah Sholeh Darat di Masjid Agung Kauman Johar Semarang (17/4/2016), KH Dr Imam Taufiq MAg menyebutkan tegas hubungan Kartini dan Mbah Sholeh Darat. Bahkan Kyai Imam meminta saya secara khusus menulis tentang itu. Akhirnya saya putuskan untuk membaca 10 buku tentang Kartini dan dua Kitab Tafsir Mbah Sholeh Darat.

Tugas menulis tentang itu tidak mudah. Dan saya merasakan kegalauan sejak diminta menulis tentang itu. Sahabat saya Amirul Ulum, santri Mbah Maimun Zubair yang sudah menjadi penulis ikut membantu kajian ini. Apalagi Gus Amir sudah menulis buku “Kartini Nyantri”. Dalam buku itu dibuatkan bab khusus (bab 5) yang berjudul: “Islam, Agama Kartini”. Dan ada sub bab dengan sebutan: “Hadiah Tafsir Pegon untuk Kartini”. Gus Amir sudah sangat rinci membuat kisah pertemuan dan dialog Kyai-Santriwati itu.

Imron Rosyadi dalam buku “RA Kartini Biografi Singkat 1879-1904” pada halaman 79-90 juga mengungkap kisah yang sama. Bahkan dua buku Biografi ditulis khusus oleh panitia Haul Mbah Sholeh Darat juga menyebutkan pertemuan dan hubungan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat. Buku biografi Mbah Sholeh Darat yang pertama ditulis oleh Drs H Abdullah Salim pada tahun 1982 dan disempunakan kembali edisi kedua pada 16 Juli 1983 M/5 Syawwal 1403 H. Pada halaman 10-11 disinggung secara tegas pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat.

Biografi Mbah Sholeh Darat juga dibuat oleh panitia Haul pada tahun 2012. Dua penulis yang berkolaborasi adalah Gus Agus Taufiq (menyamarkan namanya dengan Abu Malikus Salih Dzahir) dan Gus Mohammad Ichwan. Pada halaman 14-15 juga diungkapkan tentang persinggungan Mbah Sholeh dengan Kartini. Mastuki dan M. Ishom Elseha dalam bukunya “Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Pertumbuhan Pesantren” juga mengungkap tentang figur Kartini dengan Mbah Sholeh Darat sebagai Kyai akhir abad 19 yang menulis dengan huruf pegon.

Dari berbagai cacatan dan oral historyyang berkembang itu, maka garis singgung antara Kartini dan Mbah Sholeh Darat sudah tidak bisa dipatahkan lagi. Maka oleh Wiwid Prasetyo, kisah pertemuan Kartini dan Mbah Sholeh dilukiskan dalam novel :The Chronicle of Kartini: Gadis Ningrat Pengubah Wajah Wanita Jawa dan Pencetus Sekolah Wanita Pertama”. Ada banyak inspirasi dari garis singgung dua tokoh ini. Kisah itu bisa dibaca dalam buku ini halaman 378-406. Sungguh menarik sekali.

Tergeraklah saya kemudian membaca surat-surat Kartini yang sudah terpublikasikan rapi dalam “Door Duisternis tot Licht” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ada dua buku yang saya beli khusus terkait surat Kartini. Satu buku “Door Duisternis tot Licht” cetakan Penerbit Narasi (2011) dan satu buku lagi berjudul asli  “Brieven aan Mevrouw R.M. Abendanon-Mandri en Haar Echtgenoot Met Andere Documenten” yang sudah diterjemahkan bahasa Indonesia dengan judul “Surat-Surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya” cetakan Penerbit Djambatan 1989.

Sahabat saya Amirul Ulum secara tegas menuliskan surat demi surat Kartini pada sahabat penanya terkait agama dan al-Qur’an. Dalam dua surat Kartini kepada Tuan EC Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902 dan 17 Agustus 1902 secara eksplisit menyebut gurunya adalah seorang tua. Bahkan Kartini menyebut bahwa orang Jawa menulis naskah dengan menggunakan huruf Arab (dalam tradisi pesantren disebut huruf Pegon atau huruf Jawi).

Kita simak surat Kartini 15 Agustus 1902 kepada kepada Tuan EC Abendanon: “Saya sungguh gembira melihat perkembangan kesenian bangsa bumiputera... Bahagia mendapatkan segala sesuatu yang indah. Cahaya Tuhan ada dalam diri manusia, dalam apa daja, bahkan juga sesuatu yang tampaknya paling buruk... Saya berharap dengan pendidikan dapat membantu pembentukan watak, dan paling utama adalah cita-cita... Saya hendak berbicara dengan kamu tentang bangsa kami, dan bukan tentang pendidikan. Tentang hal itu nanti bukan? Disini ada seorang orang tua, tempat saya meminta bunga yang berkembang di dalam hati. Sudah banyak yang diberikan kepada saya, sangatlah banyak lagi bunga simpanannya. Dan saya ingin lagi, senantiasa ingin lagi... Saya tidak mau lagi belajar membaca al-Qur’an, belajar menghafal amsal dalam bahasa asing, yang tidak saya ketahui artinya. Dan boleh jadi, guru-guru saya, laki-laki dan perempuan juga tidak mengerti. Beritahu saya artinya dan saya akan mau belajar semua. Saya berdosa, kitab yang suci mulia itu terlalu suci untuk diterangkan artinya kepada kami”.

Surat yang sangat panjang itulah kata hati Kartini dalam mengungkapkan betapa dirinya mendapatkan ilmu dari orang tua dalam hal isi kandungan al-Qur’an. Bahkan kalimat setelah itu ia menegaskan: “Tahun berganti tahun, kami namanya orang Muslim, karena kami turunan orang Muslim. Dan Kami namanya saja Muslim, lebih daripada itu tidak. Tuhan, Allah, bagi kami hanya semata-mata kata seruan. Sepatah kata, bunyi tanpa arti dan rasa. Demikian kami hidup terus, sampai tiba hari yang membawa perubahan dalam kehidupan jiwa kami. Kami telah menemuka Dia, yang tanpa disadari telah bertahun-tahun dirindukan oleh jiwa kami.

Surat Kartini yang lebih dahsyat lagi adalah tertanggal 17 Agustus 1902 kepada Tuan EC Abendanon, ia menulis: “ Selamat pagi, melalui surat ini Adik datang lagi untuk bercakap-cakap... Kami merasa senangnya, seorang tua yang telah menyerahkan kepada kami naskah-naskah lama Jawa yang kebanyakan menggunakan huruf Arab. Karena itu kini kami ingin belajar lagi membaca dan menulis huruf Arab. Sampai saat ini buku-buku Jawa itu semakin sulit sekali diperoleh lantaran ditulis dengan tangan. Hanya beberapa buah saja yang dicetak. Kami sekarang sedang membaca puisi bagus, pelajaran arif dalam bahasa yang indah. Saya ingin sekali kamu mengerti bahasa kami... Patuh karena takut! Bilakah masanya datang firman Allah yang disebut cinta itu, meresap ke dalam hati manusia yang berjuta-juta itu?... Demikianlah saya, anak yang baru berumur 12 tahun hanya seorang diri berhadapan dengan  kekuasaan musuh...  Tuhan itu besar, Tuhan itu kuasa!”

Dua surat itu sudah cukup untuk menggambarkan siapa sosok Kartini itu. Dan jelas bahwa Kartini dan agama Islam merupakan harga mati yang tidak bisa dipisahkan. Maka menyebut Kartini sebagai non-Muslim sama dengan dzalim dan tidak mengenal dan membaca sejarah. Bahkan KH Asrori Al Ishaqi menyebutkan bahwa Kartini adalah Waliyullah (kekasih Allah). Sebagai putri keturunan Raja, maka Kartini menguatkan dirinya dengan mengaji dan belajar agama. Dan yang menginspirasi isi agama Islam dalam al-Qur’an bagi Kartini adalah Mbah Sholeh Darat.

Pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat bukan hanya dalam satu kali pengajian saja sebagaimana disebutkan beberapa penulis. Ternyata Kartini selalu hadir dalam pengajian-pengajian Mbah Sholeh Darat saat mengisi pengajian di Demak, Kudus dan Jepara. Maka wajar jika terjadi perbedaan pendapat kapan pertemuan itu dilaksanakan. KH Musa Machfudh sebagaimana dituliskan oleh Abdullah Salim menyebut bahwa pertemuan Mbah Sholeh dengan Kartini pada tahun 1901 (dua tahun sebelum pernikahan Kartini). Amirul Ulum meyakini pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh sebelum 19 Februari 1892 sebab Kartini mulai menjalani pingitan (penjara keluarga) sejak awal 1892 (ada yang menyebutkan akhir tahun 1891).

Sangat menarik mengamati sejarah Kartini yang sangat mempesona dan harum namanya ini. Oleh karena semangatnya Kartini dalam mempelajari isi kandungan al-Qur’an, Mbah Sholeh selalu memberikanpretilan (tulisan tangan dengan satu dua lembar kertas) kepada Kartini. Dari situlah Kartini mulai belajar huruf Arab Pegon. Bagi Kartini, belajar Arab bukanlah sulit. Sebab ia juga dikenal sebagai wanita Jawa yang menguasai bahasa Belanda, Perancis dan Inggris. Maka saat itulah santri menjadi santri kalong kesayangan Mbah Sholeh Darat. Kartini sangat kritis, maka tidak aneh jika di usia 12 tahun ia sendiri mengatakan sudah berani melawan penjajah.

Tunggu kisah berikutnya tentang bagaimana Mbah Sholeh Darat melukiskan sosok Kartini dalam Kitab Tafsirnya Faidlur Rahman.

Bersambung....

SRIKANDI PEJUANG NU

1:29 PM Add Comment

Di dunia pewayangan, dikenal seorang wanita tangguh yang bernama Srikandi. Bersama sang suami, Arjuna, keduanya berjuang bersama membela panji Pandawa. Sosok Srikandi itu, rasanya patut kita sematkan pada diri Umroh Machfudzoh, ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang pertama.<>

Jalan cerita Umroh bersama sang suami, KH Tolchah Mansoer, sekilas mirip kisah Arjuna-Srikandi. Hanya saja pada waktu itu, keduanya bukan membela panji Pandawa, melainkan panji pelajar putera-puteri NU (IPNU-IPPNU). Di organisasi itulah mereka bertemu, berjuang bersama, dan akhirnya meneruskan menuju ke jenjang pelaminan.

Umroh Lahir di Gresik 4 Februari 1936 M dari pasangan KH Wahib Wahab (Menteri Agama ke 7 yaitu  1958 - 1962) dan Hj Siti Channah. Beliau adalah cucu dari KH Abdul Wahab Hasbullah (pendiri NU dan Rais Aam PBNU 1946 - 1971). Sebagai cucu pendiri NU, masa kecil Umroh banyak dilalui di lingkungan pesantren, khususnya pada masa liburan yang banyak dihabiskan di Tambak Beras, Jombang, tempat kelahiran ayahnya.

Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, sejak kecil Umroh dididik untuk bisa hidup mandiri. Umroh mengawali pendidikan dasar di kota kelahirannya. Sempat berhenti sekolah hingga tahun 1946 karena clash II, Umroh kemudian melanjutkan ke MI NU di Boto Putih, Surabaya. Hasrat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah sekaligus mewujudkan impian merantaunya terpenuhi ketika diterima sebagai siswa SGA (Sekolah Guru Agama) Surakarta.

Ketika partai-partai politik meluaskan sayapnya pada pertengahan 50-an, Umroh mulai menerjunkan diri sebagai Seksi Keputrian Pelajar Islam Indonesia (PII) -organisasi pelajar afiliasi partai Masyumi- ranting SGA Surakarta. Namun, sejak berdirinya NU sebagai partai politik sendiri tahun 1952, Umroh mulai berkenalan dengan organisasi-organisasi di lingkungan NU.

Sembari mengajar di Perguruan Tinggi Islam Cokro, Surakarta, Umroh yang nyantri di tempat Nyai Masyhud (Keprabon Solo) mulai menerjunkan diri sebagai wakil ketua Fatayat NU Cabang Surakarta. Semangat Umroh yang menyala-nyala membawa pada kesadaran akan perlunya sebuah organisasi pelajar yang khusus menghimpun putra-putri NU.

Membidani Lahirnya IPPNU
Di mata kader IPPNU saat ini, Umroh merupakan sosok wanita inspiratif . “Beliau adalah inspirator bagi kami. Beliau adalah kebanggan kami,” kata Margaret Aliyatul, ketua IPPNU periode lalu kepada NU Online, saat wafatnya Umroh tahun 2009 lalu.

“Ini adalah hal yang luar biasa karena kondisi pada saat itu pasti lebih sulit dibandingkan saat ini, dan beliau bisa merealisasikan pendirian organisasi pelajar puteri dan kemudian berkembang menjadi organisasi nasional. Beliau adalah perintis dan kami tinggal melanjutkan saja,” lanjutnya.

Berdirinya IPNU yang khusus menghimpun pelajar-pelajar putra pada awal tahun 1954, memang tak lepas dari perjuangan Umroh dan kawan-kawan untuk membuat organisasi serupa khusus untuk para pelajar putri. Gagasannya dituangkan lewat diskusi intensif dengan para pelajar putri NU di Muallimat NU dan SGA Surakarta yang sama-sama nyantri di tempat Nyai Masyhud. Kegigihan Umroh memperjuangkan pendirian IPNU-Putri (kelak berubah menjadi IPPNU) membawanya duduk sebagai Ketua Dewan Harian (DH) IPPNU. DH IPPNU adalah organ yang bertindak sebagai inkubator pendirian sekaligus pelaksana harian organisasi IPPNU.

Aktivitas di IPPNU yang tidak begitu lama diisi dengan sosialisasi dan pembentukan cabang-cabang IPPNU, khususnya di Jawa. Umroh juga tampil sebagai juru kampanye partai NU pada pemilu 1955. Tidak genap setahun menjabat Ketua Dewan Harian, Umroh meninggalkan Surakarta untuk menikah dengan M. Tolchah Mansoer, Ketua Umum PP IPNU pertama.

Meskipun menetap di Yogyakarta, Umroh tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap organisasi yang ikut dia lahirkan. Kedudukan Dewan Penasehat PP IPPNU yang dipegang hingga saat ini, membuatnya tidak pernah absen dalam setiap perhelatan nasional yang diselenggarakan IPPNU.

Riwayat organisasi Umroh berlanjut pada tahun 1962 sebagai seksi Sosial PW Muslimat NU DIY. Kedudukan ini mengantarkan Umroh sebagai Ketua I Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta hingga tahun 1987.

Kesibukan keluarga tidak mengendurkan hasratnya untuk melanjutkan ke Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pendidikan S-1 diselesaikan dalam waktu enam tahun sembari aktif sebagai Wakil Ketua Pengurus Poliklinik PW Muslimat NU DIY. Sementara itu, perhatian di bidang sosial disalurkan dengan menjabat sebagai Ketua Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK) yang membidangi kegiatan-kegiatan di bidang peningkatan kesejahteraan sosial di wilayah Yogyakarta.

Berjuang Lewat Parpol

Jabatan Ketua PW Muslimat NU DIY diemban selama dua periode berturut-turut sejak tahun 1975. Kesibukan ini tidak menghalangi aktivitas sebagai Seksi Pendidikan Persahi (Pendidikan Wanita Persatuan Sarjana Hukum Indonesia) dan Gabungan Organisasi Wanita wilayah Yogyakarta. Naluri politik yang tersimpan selama belasan tahun ternyata tidak bisa dipendam Umroh begitu saja. Aktivitas sebagai bendahara DPW PPP mengantarkannya terpilih sebagai anggota DPRD DIY periode 1982-1987.

Karir politiknya terus meningkat dari Wakil Ketua menjadi Pjs. Ketua DPW PPP DIY. Jabatan terakhir ini membawa Umroh ke Jakarta sebagai anggota DPR RI dari FPP selama dua periode. Umroh pernah menjabat sebagai Ketua Wanita Persatuan Pusat, organisasi wanita yang bernaung di bawah PPP. Sebagai anggota dewan, Umroh tercatat beberapa kali mengadakan kegiatan internasional diantaranya muhibah ke India, Hongaria, Perancis, Belanda, dan Jerman. 

Domisili di Jakarta memudahkan Umroh melanjutkan aktivitas ke-NU-an sebagai Ketua Departemen Organisasi PP Muslimat NU, berlanjut sebagai Ketua III sampai sekarang. Sempat menikmati pensiun pasca pemilu 1997, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan oleh Pengurus Besar NU mendorong Umroh terjun kembali ke dunia politik sebagai salah satu anggota DPR RI hasil pemilu 1999.

Sesepuh pendiri Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Hj Umroh Machfudzoh meninggal dunia pada Jumat (6/11/2009) pagi sekitar pukul 06.45 WIB di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Almarhumah meninggal pada usia 73 tahun dan dimakamkan sekitar pukul 15.30 WIB di pemakaman dekat kediaman Komplek Pondok Pesantren Sunni Darussalam, Tempelsari, Manguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. (Ajie Najmuddin/red:Anam)