Sempat Disambangi Ketua IPPNU Cabang Kudus, Makesta Bulungcangkring Sukses

11:24 AM Add Comment

Kudus (28/12) PR IPNU IPPNU Desa Bulungcangkring adakan Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) bertempat di SD 5 Bulungcangkring, Jekulo, Kudus.
Acara tersebut di mulai jam 14.00 WIB ditandai dengan adanya pendaftaran peserta ke panitia dan menyerahkan foto untuk sertifikat. Setelah pendaftaran, peserta disuruh menjawab pertanyaan post tes yang ada di lampiran yang sudah disediakan instruktur.
Acara yang berlangsung 3 hari ini mulai Jum'at-Ahad (25-27/12) di ikuti sebanyak 78 peserta yang berdomisili di Bulungcangkring.
"Makesta harus dilakukan, karena dengan Makesta kita dapat kader-kader baru yang dapat meneruskan perjuangan NU di Desa ini dan agar IPNU IPPNU di Desa ini tidak tinggal nama" ucap M. Afendi selaku ketua panitia Makesta.
Ketua PR IPNU Bulungcangkring M. Syarif Hidayat menambahkan, "Pengkaderan adalah hal yang sulit, tapi dengan kerja keras dan kekompakan kita untuk mencari kader, insyaallah Allah memberi jalan yang terbaik"
Pada hari kedua, kita semua dikejutkan dengan kedatangan Rekanita Futuhal Hidayah selaku ketua PC IPPNU Kudus.
"Saya kesini tidak terpikirkan, tujuan saya ta'ziah ke ibunya Bapak Masrikan (Pengurus NU Bulungcangkring) sekaligus mampir menyambangi kader-kader IPNU-IPPNU yang melaksanakan kegiatan Makesta ini" didampingi Rekanita Novita Sari Komandan KPP Kudus yang juga kader Bulungcangkring.

Di harapkan lewat Makesta ini, kader-kader yang intelektual dapat bermunculan ke permukaan supaya IPNU IPPNU di Bulungcangkring tidak tinggal nama. (Zam)
Cerpen Aang Riana Dewi

Cerpen Aang Riana Dewi

8:42 AM Add Comment
Sesal
  

-Benar, roda kehidupan itu berputar.-
            “Kau mau Papa belikan apa, Ken? Kebetulan Papa habis bayaran.” Papa menawarkan kesempatan kepada anak perempuan yang amat dibanggakannya itu. Yang ditawari tersenyum kegirangan, mulai menerawang apa paling diinginkannya.
            “Aku mau dibelikan ponsel saja, Papa. Karena kulihat ponsel temanku banyak yang baru, canggih pula. Aku kan nggak mau ketinggalan, dan biar berita terupdate selalu kudapatkan. Kan malu dong, anak yang Papa banggakan ini tertinggal pesatnya pengetahuan dan teknologi?” Niken menyusun alasan sedetailnya agar Papanya membelikan apa yang diinginkannya.
            Papanya mengangguk perlahan, menuruti. “Baiklah, besok papa belikan.”
            Begitulah, Papanya selalu memberikan apa yang dimaunya, tanpa memberikan kesempatan kepada anak perempuannya itu untuk berusaha lebih dulu.
            “Oya, kemarin temanku habis dari wisata ke Raja Ampat pah. Besok kesana ya, kan ini habis ulangan, refreshing. Yaa Pa?” Niken meminta lagi, Papanya pun mengangguk, menyetujui begitu saja.
            Kehidupannya memang dikelilingi dengan kebahagiaan yang lengkap dan serba ada. Papanya adalah seorang pekerja kantoran yang biaya perbulannya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, maka tak heran setiap yang dimintanya lantas dipenuhi. Karena sikap memanjakan yang terlalu inilah, yang menimbulkan sebuah rasa yang kelak akan mengganggu masa depannya; malas.
            Ponsel canggih dan terbaru sudah ada dalam genggamannya, asyik bermain ponsel hingga semua pekerjaan rumah yang biasanya rajin dilakukannya terabaikan. “NIKEN!” suara keras membuatnya terperanjat hingga ponselnya hampir terjatuh
            “A-ada apa, Pa?” jawabnya terbata melihat wajah seorang lelaki yang selalu memanjakannya itu memerah penuh amarah.
            “Lihat! Nilaimu memprihatinkan, kau mendapatkan peringkat terakhir Niken! Memalukan! Mana janji yang kau katakan pada papa dulu? Katanya dengan dibelikannya ponsel itu kau akan update dengan semua informasi. Buktinya? Nol besar, Ken! Papa kecewa.” Papa nya melempar buku laporan prestasinya, tepat diwajahnya.
            Tak mau membuat papahnya kecewa, ia mendekati perlahan dan mulai menjelaskan “Pa, maaf bukan niatku mengecewakan hatimu, Pa. kesalahan itu terjadi karena seringnya aku ikut organisasi, jadi aku kelelahan dan sakit Pa.” Niken beralasan, memasang wajah melas.
            “Iya sudah, tidak usah ikut lagi organisasi! Tidak ada gunanya, malah menurunkan prestasimu saja!” Papanya berkata tegas mengambil keputusan.
            Ia berhasil menjadikan organisasi sebagai kambing hitam dalam hal ini. padahal sejatinya tidaklah demikian, justru banyak orang yang dibesarkan dari organisasi.
            “Iya Pa.”
            “Fokuskan pada belajarmu dan tak usah ikut organisasi itu!” Tegas papanya lagi. Ia mengangguk, menuruti, tersenyum bahagia kemanjaan yang didapatkannya tidak hilang.
            Ia telah mencemarkan nama baik organisasi di depan seseorang yang amat membanggakan dirinya itu. Padahal yang salah bukanlah organisasi, karena organisasi bukanlah manusia yang bersifat buruk yang menghancurkan, tetapi organisasi adalah wadah tempat orang hebat yang ingin melatih sikap kedewasaannya. Ia telah meninggalkan wadah kehidupan yang amat berharga itu. bagaimana kah jadinya nanti, sosok dirinya yang semakin tak terkendali itu?
            “Nanti setelah pembelajaran di kelas jangan langsung pulang ya, ada rapat sebentar.” Kata ketua Osis padanya. Ia hanya diam, mengabaikan dan berlasan.
            “Maaf, aku ada acara keluarga.” Itulah alasan sederhana yang selalu dijadikannya senjata untuk menolak ajakan temannya untuk beroganisasi lagi.  Awalnya temannya menyetujui alasan itu, namun karena terlalu seringnya ia mengatakan itu sebagai alasan, terdapatlah rasa curiga teman-teman terhadapnya.
            Salah satu teman organisasi memberanikan bertanya padanya, “Kau kenapa sekarang perlahan menghilang dari organisasi? Apakah ada yang melukai hatimu di organisasi ini? Atau kau sedang ada permasalahan dengan salah satu anak organisasi ini?”
            Tanpa melihat yang menanyai dirinya, dan tetap bermain ponsel ia menjawab santai “Malas. Apa gunanya ikut organisasi, jika hanya menghancurkan prestasi? Nggak penting banget!”
            “Apakah sejahat itu organisasi menghancurkan prestasi? Bagiku tidak!”
            “Itu bagimu, bagiku tidak dan sangat menghancurkan. Jangan samakan aku denganmu. Aku akan keluar dengan tidak sopan jika kau katakan itu lagi.” Niken mengancam
            “Bukan menyamakan, itu hanya pendapatku saja.” kata orang itu membela. Niken tetap bersikeras mempertahankan argumennya.
            “Sudah. Jangan banyak omong, dan jangan tanya lagi keberadaanku jika perlahan kumenghilang dari organisasi tak berguna ini!” Niken menghina, dan dengan tanpa merasa bersalah ia melangkah pergi tanpa mengucap salam seperti yang dilakukan biasanya.
            Astagfirullah… Tidak ingatkah dia? Dahulu ia yang amat bersemangat berorganisasi, mengajakku organisasi hingga kini aku sangat paham sejatinya beroganisasi ia justru menjelekkan organisasi itu sendiri. Niken, organisasi tidaklah seburuk yang kau pikirkan. Yang buruk hanyalah persepsimu, pandanganmu terhadap organisasi itu dan kurangnya kesadaranmu dalam mempertahankan prestasimu sendiri. Kau salah, Ken!” orang itu berkata dalam hati melihat setiap langkah Niken meninggalkannya
            “Organisasi? Apa gunanya? Membuang waktu saja, lebih baik aku ikut kata papa agar apa yang aku minta selalu diberikannya.” Kata Niken dalam hati
            Kehidupan Niken tidak lagi bergelut dengan organisasi, bebas. Ya, bebas karena sebelumnya kebanyakan waktunya dihabiskan untuk organisasi. Namun, semenjak tak mengikuti organisasi ada yang berubah dalam dirinya, sifat malas amat memenjarakan hidupnya. Ia mulai malas belajar, dan melakukan kegiatan lainnya padahal dahulu sejak awal mengikuti organisasi ia selalu diajarkan disiplin menyelesaikan tugas. Tetapi, pada akhirnya ia justru menyalahkan organisasi yang begitu baik mendewasakan dirinya?
***
            “Pa, belikan aku laptop keluaran terbaru dong.” Niken dengan sikap manjanya meminta pada papanya. Kali ini papanya tidak langsung menyetuju, diam lumayan lama.
            “Belikan ya, Pa? Mau kan?” Niken menatap papanya penuh harap, berharap jawaban anggukan persetujuan.
            Ingin sekali papanya menuruti, memberi apa yang diinginkan putri kesayangannya itu. Tetapi, keadaan dan waktu tidak memungkinkan. Keadaan ekonomi keluarga ini mulai menurun, pendapatan papanya perbulan makin berkurang, papanya sudah turun jabatan begitu juga dengan pendapatan yang menurun.
            “Tapi, papa sedang tidak ada uang…”
            “Biasanya kan uang papa banyak. Harus belikan!” Niken berkata setengah memaksa, tidak peduli dan tidak mengerti bahwa sulitnya mendapatkan uang. Ia menjadi sosok egois dari kebiasaan permintaanya yang sering disetujui papanya itu.
            Ia lupa satu makna kehidupan; perjuangan.
            “Biasanya kan papa selalu ada uang,”
“Mengertilah, Ken. Pahami keadaan keluarga ini, utamanya ekonomi keluarga kita yang makin merosot ini”
            “Argh, mengerti apa?! Aku pergi saja. Jangan cari aku lagi, kelak aku akan mendapatkan semua yang kuinginkan! Jangan cari aku lagi!” tegas Niken sembari melangkah keras, berlari keluar dari rumahnya. Tangan ibunya segera menarik lengannya, “Jangan pergi, kau mau kemana?”
            “Ah, tidak penting aku dimana. Aku akan baik-baik saja dengan penghasilanku sendiri!” Niken yakin dengan keputusannya, pergi.
            “Tapi kau belum melaksanakan ujian terakhirmu, sebagai persyaratan lulusnya kau dari sekolah itu. Masa depanmu akan hancur karena-”
            Niken dengan cepat memotong perkataan ibunya, “Sudahlah. Aku pergi.”
            Langkah yang salah telah diambilnya, bagaimanakah jadinya nanti? Akankah kebaikan Tuhan berpihak padanya, dan lantas Tuhan memberikan kesadaran padanya?
            Satu tahun berlalu memberikan jawaban
            “Kau, Niken ‘kan?” tanya seorang perempuan berkulit putih yang mengenakan jas menunjukkan identitasnya seorang pekerja kantoran.
            Niken menoleh kearah suara itu, “I-iya. Kau, Fiska teman organisasiku dulu. Nggak kuliah?”
            “Kuliah.”
            “Kok seragammu seperti seorang pekerja kantoran?”
            “Aku kuliah sambil kerja, sebagai editor disalah satu penerbitan yang ada di Jakarta. Kau?” Fiska balik bertanya, menatap sedih temannya itu. hidupnya dahulu jelas bergelimang harta, sekarang ia temukan temannya itu dipinggiran jalan, sebagai pencuci piring.
            “Ya, seperti yang kau lihat sekarang.” Jawabnya malas. Fiska tak menjawab, diam.
            “Kau bagaimana ceritanya bisa menjadi seorang editor? Hebat sekali. Dan bagaimana juga bisa menyambung kuliah?” tanya Niken lagi. Sebuah pertanyaan yang menarik sekali untuk dijawab. Dan semoga jawabannya mampu menyadarkan Niken, bahwa hidup butuh proses dan perjuangan.
            “Aku menjadi seorang editor sebenarnya tidak karena kepandaianku dalam meneliti naskah dan menguasai bahasa. Aku tahu sedikit, bahkan tak cukup menjadi syarat seorang editor. Namun, aku punya relasi dengan teman organisasiku dulu, disana dia jadi manager utama, jadi aku ditariknya untuk masuk kesitu dengan mudah. Lalu ceritanya bagaimana aku bisa kuliah panjang, dan aku akan segera menceritakan padamu, semoga memotivasimu,”
            Fiska menghela nafas, menatap sedih Niken yang mulai menitikkan air matanya, “Aku dari keluarga tidak mampu, miskin. Makan pun tak menentu, membeli buku pun tak mampu, aku sering mengambil buku sisa adikku. Begitulah keadaan ekonomi keluargaku, miris! Sementara aku ingin sekali kuliah. Aku berusaha keras mencari uang kesana kemari, karena aku sadar hidup butuh proses dan perjuangan. Aku pun pernah sama denganmu sebagai pencuci piring, sampai akhirnya aku bertemu dengan Arda teman organisasiku itu, hingga ditariklah aku ke penerbitan itu. Aku mulai bekerja, uangnya untukku biayai kuliah dan kuberikan separuh untuk keluargaku.” Fiska memegang erat tangan Niken, menyemangati.
            Niken tersenyum getir menangis semakin deras, “Aku malu pernah menyalahkanmu dulu, bahwa organisasilah yang menghancurkan prestasiku, padahal sejatinya aku yang menghancurkan prestasiku sendiri dan organisasi justru kujadikan ‘kambing hitam’ menurunnya prestasiku. Maafkan aku, Ka. Aku salah!” Niken menyalahkan dirinya sendiri, memeluk Fiska.
            “Aku menyesal tidak menggunakan waktuku dulu, disaat ekonomi keluargaku sedang berkembang pesat aku justru menghamburkannya untuk kesenanganku sendiri. Aku lupa menyisihkan separuh harta itu untuk masa depanku. Satu tahun yang lalu, aku meminta sesuatu yang amat aku inginkan pada ayahku, tetapi karena ekonomi keluargaku menurun aku memilih pergi dari rumah itu, hingga terdamparlah aku dipinggiran kota sebagai pencuci piring seperti yang kau liat sekarang.” Niken menangis deras, menunduk lemah.
            “Aku tidak mau mendengar penyesalan yang terucap dari mulutmu. Tidak akan ada penyesalan, selama kau mau memperbaiki keadaan ini. Sekarang, pulanglah.” Fiska menasehati, Niken menatap sedih.
            “Tapi-”
            “Tenanglah, papamu amat merindukan putri kesayangannya. Ibumu juga amat merindukan keberadaanmu. Adikmu merindukan kakaknya yang cerdas untuk membantunya menyelesaikan PR-nya. Semua merindukanmu, pulanglah…”
            Niken mengangguk, “Baiklah, Ka.”
            Aku pulang…
            Niken memeluk papanya, “Papa…”
            “Papa amat merindukanmu, Ken. Rindu yang teramat rindu…”
            “Ibu juga Ken…”
            Kebahagiaan itu sudah lengkap. Kembali, setelah sekian lamanya hilang. Setelah merasa tenang, Niken mulai menyampaikan keinginan hatinya untuk melanjutkan kuliah.
            “Pa, bolehkah Niken meminta satu permintaan? Kuharap Papa dapat mengabulkan.”
            Papa takut kehilanganmu ketika papa tak berhasil mengabulkan permintaanmu.’ Bisik papa dalam hati
            “Kok diam, Pa? Ini nggak aneh-aneh kok. Niken ingin kuliah…”
            Wajah ayahnya berbinar namun terdapat separuh guratan sedih “Kuliah?”
            “Iya Pa, Papa mau mengabulkan ‘kan?”
            “Mau, tapi-”
            “Tapi apa?” Butiran bening mulai menetes perlahan dari kedua matanya, papanya menatap sedih putrinya itu.
            “Papa sekarang tidak bekerja di kantor lagi. Papa sekarang jadi padagang sayur.”
            “APA?!  PEDAGANG SAYUR?” Niken bertanya dengan nada keras, kaget, papanya mengangguk perlahan.
            Niken menangis makin deras, memeluk erat papa dan ibunya, “Niken ingin sekali kuliah.”
            Lama berada dalam pelukan kedua orang yang amat berharga dalam hidupnya itu, perlahan ia melepas pelukan itu, tersenyum menatap yakin, “Tidak mengapa, Pa. Tidak mengapa Papa sebagai pedagang sayur. Tidak mengapa jika Papa tidak mampu membiayai biaya kuliahku, aku akan tetap kuliah. Aku yakin mampu, aku akan memulianya dari nol. Hanya restu dari kalian yang kuharapkan, yang restu itu akan memudahkan jalanku.”
***
*Pelajar MA NU Ibtidaul Falah, Dawe.
Cerpen ini pernah termuat di Radar Kudus edisi 18 Oktober 2015

LIBUR MAULID, FORKAPIK LAKSANAKAN AMT BERSAMA 46 PELAJAR

2:56 PM Add Comment



Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama bersama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama melaksanakn Achievemen Motivation Training (AMT) untuk puluhan pelajar tingkat SMA di kabupaten Kudus, Kamis (24/12) di kampus STAIN Kudus.

Acara ini diikuti oleh 45 peserta delegasi dari SMA/SMK/MA se-Kabupaten Kudus. Acara ini berlangsung selama dua hari dari Kamis sampai Jum'at sore. Turut hadir dalam acara pembukaan Dr. H. Kisbiyanto, M.Pd., Kepala Jurusan Tarbiyah dan H. Agus Hari Ageng, S.Ag., M.Pd., Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kudus. Dalam sambutannya, H. Kisbiyanto menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kapada tim Cabang IPNU-IPPNU Kudus yang meskipun tanggal menunjukkan masa liburan seperti ini tetap semangat mengkader.


"Masih banyak pelajar yang tidak hanya menghabiskan waktunya untuk bermain dan berlibur. Tapi mereka semangat belajar dalam suasana yang baru. Di sini nereka dapat belajar keorganisasian dan kepemimpinan," ungkap H. Kisbiyanto.


H. Ageng yang membuka secara resmi acara ini menyampaikan bahwa pelajar kita harus memahami betul bahwa satu-satunya tugas sejati ialah belajar. "Jangan pernah berhenti untuk belajar, di mana dan kapan pun. Jadikanlah setiap tempat yang kita temui sebagai kelas. Pelajar harus belajar. IPNU dan IPPNU adalah tempatnya orang-orang yang belajar. Kalau kalian tidak mau belajar, maka keluar sajalah dari IPNU dan IPPNU," terang peraih tiga besar guru terbaik tingkat kabupaten itu.

Joni Prabowo, menggadang kegiatan ini menjadi ajang pengkaderan awal untuk para generasi muda NU yang tersebar di pelbagai sekolah atau madrasah tingkat menengah atas Kudus.
"AMT adalah kegiatan yang bertujuan memberikan motivasi bagi para pelajar di PK IPNU dan IPPNU se-Kudus agar ke depan mampu menjadi agen penggerak kegiatan IPNU-IPPNU, sekaligus menjadi penerus Forum Komunikasi Antar Pimpinan Komisariat (Forkapik) di Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Kudus. Semoga kegiatan di hari kelahiran Rasulullah ini benar-benar membawa berkah dan menjadikan kita termasuk generasi umat yang membuat beliau berbangga hati, amin," harap Prabowo.[]

 http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,64564-lang,id-c,daerah-t,Liburan++IPNU+IPPNU+Kudus+Gaet+Kader+Baru-.phpx

Haflah Maulid Nabi Muhammad SAW oleh PR IPNU – IPPNU Karangbener

9:47 PM Add Comment
Bulan Maulud telah tiba, bulan dimana kekasih Allah yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Berbagai peringatan sholawat berkumandang di masjid dan musholla di setiap daerah, tak terkecuali di desa Karangbener.

Usai melaksanakan kegiatan PORSENI (18/12), PR IPNU-IPPNU mengadakan Haflah Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman Balaidesa Karangbener pada Ahad (20/12) kemarin. “Kegiatan ini dalam rangka menghormati kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa perubahan dari zaman yang gelap menuju zaman yang terang”, ujar Saiful Huda selaku Ketua Ranting IPNU Karangbener.
Acara ini ditujukan untuk masyarakat umum, juga dihadiri oleh tamu undangan dari Pemerintah Desa, PR NU se-banom, PAC IPNU-IPPNU Kec. Bae, PR. IPNU-IPPNU se-Kec. Bae, dan PC. IPNU-IPPNU Kab. Kudus. Dalam acara ini juga sekaligus pembagian hadiah lomba Porseni kepada para pemenang dari TPQ se-Karangbener. Andre Alfianto sebagai ketua panitia menambahkan bahwa moment ini juga merupakan sosialisasi kepada masyarakat tentang eksistensi IPNU-IPPNU di Karangbener, “ini merupakan kesempatan bagi kami untuk mengajak segenap masyarakat dan membuka mindset mereka bahwa IPNU-IPPNU adalah organisasi yang sangat positif bagi para pelajar dan pemuda, sehingga kami sangat mengharapkan kerjasama dan support masyarakat dalam setiap event yang kami laksanakan” Imbuhnya.

Dalam haflah ini juga dimeriahkan oleh Grup Rebana Asy-Syauq dari STAIN Kudus sekaligus mengisi acara pembacaan Maulid, dan diakhiri Mauidloh Hasanah serta do’a dari KH. Abdurrahman Syamsuri dari Kudus, beliau menyampaikan dan memberi pesan khususnya para kaum hawa untuk bersyukur dan berterima kasih dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW, “Dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW ke dunia, membuat perempuan itu menjadi sama derajatnya dengan kaum laki-laki, Beliau lah yang telah menyelamatkan wanita agar dapat dihormati dan diberikan hak yang sama, maka ingatlah dan bersyukurlah kepada semua kaum hawa akan hal itu”, Terang beliau dalam Mauidloh Hasanahnya.

Kegiatan ini berjalan dengan sangat khidmah, walaupun hujan mengguyur sejenak, tetapi tidak menyurutkan niat sedikitnya 300 pengunjung untuk mengikuti acara itu sampai selesai.

“Semoga haflah ini dapat meningkatkan mahabbah kita kepada Nabi Muhammad SAW, dan senantiasa berusaha untuk mengikuti sunnah beliau, sehingga kelak kita akan mendapatkan Syafa’at al-Udhma, aminn.”, tambah Saiful Huda Ketua IPNU Karangbener.

Tingkatkan Ekonomi Organisasi IPNU IPPNU Dengan Pasarkan Produk Unggulan Lokal

2:12 PM Add Comment
IPNU IPPNU adalah salah satu organisasi yang paling rajin membuat agenda kegiatan secara terbuka dan kreatif. Ajang Porseni di Kecamatan Mejobo salah satunya menjadikan media silaturrahim para anggota IPNU IPPNU dan ajang tersebut juga dimanfaatkan untuk membuka stand-stand kreatif dari Pimpinan Ranting.

Rekan Ahmad Said Wakil Ketua IPNU Kudus Bidang Perekonomian secara langsung berkesempatan meninjau rekan-rekanita IPNU IPPNU yang tengah membuka stand pada sebuah kegiatan Bazar dan Porseni tersebut. Salah satu diantaranya adalah PR IPNU IPPNU Gulang Mejobo Kudus yang dimana Desa Gulang salah satu desa dengan ciri khas usahanya yakni tas. Rekan-rekanita PR IPNU IPPNU Gulang memasarkan hasil produk home industri dari Desa mereka. “Dengan usaha dibidang ekonomi secara bersama-sama, rekan rekanita berkesempatan melatih diri untuk menjadi wirausahawan dan bermanfaat untuk membekali diri secara pribadi, terlebih untuk organisasi” ungkap Rekan Said yang juga pelaku profesi dibidang ekonomi.
“kami membawa produksi hasil home industri di desa kami diantaranya produk unggulan tas dan konveksi, selain memperkenalkan produk yang menjadi ciri khas desa kami, juga untuk menambah pemasukan organisasi IPNU IPPNU” terang Rekanita Ayuk Ketua IPPNU Desa Gulang.

Satu hal yang mungkin jarang menjadi perhatian rekan rekanita adalah meningkatan dibidang kewirausahaan dan perekonomian organisasi. Dimana jika bidang ini dilakukan secara berkelanjutan dan profesional maka dampak yang akan kita dapat untuk organisasi IPNU IPPNU kedepan akan sangat besar karena akan menambah pemasukan organisasi, lebih-lebih secara pribadi. (sadega)
1:10 AM Add Comment


Sidorekso ; Pelantikan

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Sidorekso yg dilaksanakan pada hari Rabu, 11 November 2015 Pukul 19.39 - selesai di Gedung Balai Desa Sidorekso. Acara ini dihadiri oleh Pengurus IPNU bersama IPPNU Sidorekso , Pembina, Muslimat, PAC IPNU bersama IPPNU Kaliwungu, dan Tamu Undangan.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tema "Menumbuhkan Semangat Dalam Ber IPNU-IPPNU". Dengan tema yang singkat penuh makna diharapkan Pengurus Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Sidorekso Masa Khidmah 1437H-1439H / 2015-2017M bisa lebih semangat dalam berorganisasi di IPNU-IPPNU di masa mendatang.

"PORSENI TPQ Se-Karangbener sebagai Ajang Silaturrahim dan Pengenalan IPNU-IPPNU Sejak Dini"

1:06 AM Add Comment





Pimpinan Ranting IPNU bersama IPPNU Desa Karangbener Kec. Bae Kab. Kudus mengadakan PORSENI TPQ Se-Karangbener di MI NU Nurus Shofa Karangbener pada hari Jum'at, 18 Desember 2015.
Ketua Ranting IPNU Karangbener menyebutkan kegiatan ini merupakan program kerja dari PR IPNU bersama IPPNU Karangbener yang bertujuan mengenalkan IPNU dan IPPNU kepada santri-santriwati TPQ sebagai generasi dini dalam meneruskan perjuangan para ulama nantinya. "Porseni ini sebagai langkah awal dalam mengenalkan dan menjaga aset NU ke depan, santri-santriwati adalah generasi penerus IPNU-IPPNU yang harus kita jaga dan kenalkan NU dari awal, sehingga nantinya mereka tidak asing lagi dan tertarik untuk mengikuti organisasi ini". Terang Saiful Huda Ketua PR Karangbener.

Sebanyak 100 peserta dari 7 TPQ yang ada di Karangbener ikut serta dan turut berpartisipasi dalam Porseni ini. Beberapa cabang lomba dilaksanakan sesuai dengan jenjang yang telah ditempuh masing-masing santri, di antaranya Lomba Cerdas Cermat, Pildacil, Wudlu, Adzan, Praktek Sholat Subuh, merangkai Puzzel logo NU serta IPNU-IPPNU, Estafet Kelereng, dan lomba Gurita.

Ketua IPPNU Ranting Karangbener Fitria Irvianti menambahkan Porseni ini juga sebagai wahana mengembangkan potensi dan bakat santri serta menumbuhkan mental mereka di tengah era globalisasi ini. “Kami juga menaruh harapan kepada para santri untuk dapat berprestasi lebih jauh lagi, serta dapat berkompetisi dengan siswa-siswi yang hanya belajar di pendidikan umum”. terangnya.

Porseni yang diselenggarakan mulai jam 13.00 s/d 17.00 WIB ini berjalan dengan lancar dengan dihadiri juri dari para Alumni Ranting dan PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Bae. (SH)

Pendidikan Tak Bermutu Semakin Merambak

9:15 PM Add Comment
            Berbagai tayangan televisi makin berkembang setiap harinya, mulai dari iklan yang diperbagus sedemikian rupa demi menarik minat pembeli, sinetron yang dibungkus sedemikian indahnya demi menarik penonton untuk menyaksikannya hingga usai.
             Bermacam tayangan dan seperangkatnya dibingkai dengan apik untuk membuat betah penonton, tanpa memedulikan nilai moral atau pesan yang seharusnya terdapat dalam tubuh tayangan. Mulai dari pihak iklan, yang semakin mempercantik promosinya dengan cara meminjam artis yang lagi trend dibubuhi dengan kata manis untuk menarik minat pembeli, tanpa memedulikan sopan tidaknya, baik tidaknya pengaruh bagi masyarakat. Mereka terlalu berambisi untuk memasarkan produknya sebanyak mungkin, agar keuntungan yang besar didapatkannya. Karena ambisi terlalu itulah yang dapat membutakan diri dalam berpikir cerdas, mengiklankan dengan cara cerdik yang berujung pada hancurnya moral siapa saja yang menyaksikan.
            Selain iklan, terdapat film atau sinetron yang dampaknya mengobrak-abrikkan diri yang semula sudah tertanam moral baik, menjadi amburadul. Seperti sinetron yang tayang setiap harinya tentang percintaan remaja yang tidak ada manfaatnya sama sekali, dan ceritanya hanya itu-itu saja. Makin hari tayangan sinetron yang ada memang berubah, namun kenyataanya semua itu masih dalam satu cerita seperti tayangan sebelumnya. Inti ceritanya pun sama, seorang anak remaja yang pacaran tidak disetujui kedua orangtua, dan memperjuangkan cintanya. Atau cinta yang bertepuk sebelah tangan yang mengharuskan tokoh utama berjuang mati-matian memperjuangkan kasihnya. Lalu pesan apa yang dapat diambil dari cerita ‘kosong’ ini? Apa yang mendidik dalam hal ini? Yang ada malah menghancurkan moral anak bangsa, yang seharusnya sudah tertanam apik dalam diri.
            Film yang sedang trend saat ini salah satunya adalah BMX. Sebuah film yang berisi tentang seorang yang jago dalam permainan sepedanya. Film ini berhasil menyedot perhatian pembaca, karena jarang yang bisa melakukan ini. Utamanya anak kecil yang memang kesehariannya tidak terlepas dari mainan unik (sepeda) itu, tertarik untuk mencoba. Tetangga saya, anak berumur 7 tahun terinspirasi dari film tersebut, sampai membuatnya jatuh lebam dan hampir terhempaslah nyawanya. Bersusah payah ia mencoba memainkan sepedanya, tanpa memedulikan nyawanya. Tak henti kedua orangtuanya mengingatkan, berusaha mencegah agar anaknya tidak melakukan hal ‘ekstrim’ itu, tetapi tak ada hasil. Anak sekecil ini memang tidak tahu arti berharganya nyawa, yang ia pedulikan hanyalah bisa dan terlihat sebagai jagoan dimata teman-temannya.
            Sinetron selanjutnya yang sedang trend dan diidamkan hampir semua kalangan, adalah “Anak Jalanan” yang dibintangi oleh tokoh utama Stefan William dan Natasha Willona. Sinetron yang berisi tentang genk motor dan dicampur aduk dengan percintaan diimbuhi pemain yang cantik dan tampan semakin membuat penonton betah untuk duduk santai menikmati rentetan adegan dan melupakan aktifitas pentingnya. Sinetron yang dimulai pukul 18.05 WIB ini, menimbulkan dampak yang buruk bagi penonton. Misal seorang anak yang biasanya sehabis magrib belajar membaca Al-Qur’an sekarang terburu menyaksikan sinetron tersebut. Sinetron yang membuat lupa seseorang terhadap kitab suci Allah, Al-Qur’an!
            Beragam tayangan yang muncul dengan kapasitas waktu banyak seperti dijelaskan diatas, kadang lebih rendah nilainya dibanding dengan tayangan film kartun untuk anak kecil, semisal Upin-ipin, Sarief Carries, dan Sofia The First. Ada yang tayang setiap jam enam pagi (Sofia The First), yang mengajarkan tentang cara berteman yang baik dan berkomunikasi dengan orangtua. Sarief Carries yang mengajarkan tentang pentingnya tolong menolong dengan sesama.
            Signifikansi menayangkan tayangan yang lebih berfaedah untuk anak bangsa saat ini diharapkan kehadirannya. Tayangan yang mampu memupuk kesadaran dalam diri, bahwa kita (anak bangsa) adalah sandaran bangsa untuk memajukan negara kita Indonesia lebih jaya! (Aang RD)

Urgensi Imajinasi dan Observasi Dalam Penulisan Cerpen

9:06 PM Add Comment
Proses kreatif seorang penulis tentu saja berangkat dari acuan realitas kehidupan, yang meskipun pada akhirnya, kenyataan itu digubah, dimodifikasi, dan diperindah sedemikian rupa demi terciptanya sebuah cerita karngan yang lebih menarik, sesuai dan bermakna - Lenang Manggala
Atas dasar argumen tersebut, saya menyimpulkan dan sekaligus menyampaikan pengalaman yang saya dapat selama proses kepenulisan cerpen. Bahwa seelok apapun penyajian isi cerpen, ia tetaplah sebuah rekaan yang dibalut dengan imajinasi. Tetapi, imajinasi bukan menjadi penjamin indahnya sebuah karya cerpen, karena keindahan cerpen meliputi banyak hal dan yang paling berperan adalah ketersediaan penulis untuk menyisihkan sedikit waktu guna mengamati berbagai fenomena yang ada, lalu mengartikan dengan sudut pandang berbeda.
Mengartikan dengan sudut pandang berbeda adalah menginterpretasikan realita yang ada dengan pendapat pribadi penulis. Cara ini dapat diterapkan dalam keseharian kita. Semisal, anak kecil yang bertengkar dengan temannya, anak kecil yang mencuri mangga tetangga, dan tingkah lainnya yang masih labil sebenarnya semua sikapnya itu dapat berubah menjadi kedewasaan karena kecerdasan penulis menginterpretasikannya.
Melihat anak kecil bertengkar dengan teman sepermainannya memang sudah menjadi hal biasa, dan jarang ada orang yang mau memperhatikan sikapnya ini. Pernah suatu kesempatan, tidak sengaja saya mendapati anak kecil yang asyik bertengkar, saya diam dan memang duduk dari kejauhan mengamati. Dan apa yang terjadi? Memang anak kecil tidak peduli penyebab kemarahan yang ada dalam hatinya, karena masalah sederhana pun dapat menimbulkan pertengkaran hebat, saling kejar-mengejar, saling adu jotos hingga lempar batu. Tetapi, cobalah lihat apa yang akan terjadi setelah itu? Permasalahannya selesai. Jika bertemu esok hari pun sudah akrab kembali, seolah pertengkaran kemarin hari layaknya barang udik yang tak lagi diminati dan harus dibuang jauh-jauh. Disini yang saya maksud dengan mengartikan dengan sudut pandang berbeda.

Selanjutnya, penulis yang baik tidak hanya berhenti disitu. Ia akan terus menggali data, salah satunya dengan menghubungkan dengan problem lain. Anak kecil yang bertengkar karena masalah sederhana yang berujung pada pertengkaran, esok hari ketika bertemu saja sudah akrab kembali. Lalu dengan orang kita (remaja-dewasa-tua), apakah permasalahan yang ada diantara mereka dapat dengan cepat runtuh dalam ruang hatinya ketika esok hari bertemu, meski adu mulut dan sebagainya telah berlalu? Begitulah.
Penulis yang baik bukanlah dia yang hanya mengandalkan imajinasi semata, melainkan kesabarannya, keuletannya, ketelitiannya dalam menangkap berbagai realita yang sedang berkembang di lingkungannya.
Karena sesungguhnya disekitar kita, ada banyak pelajaran dan berbagai hal yang mulai diabaikan orang-orang yang sesungguhnya mempunyai makna yang dalam. (Aang RD)