Pelajar NU Kudus Asah Kemampuan Menulis Lewat Workshop Jurnalistik

12:55 PM Add Comment


Kudus, NU Online

Lembaga Jarkominfo Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pimpinan Cabang Kabupaten Kudus mengadakan Workshop Jurnalistik yang bertempat di Pondok Pesantren Tanwirul Qulub, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus pada 23-25 Oktober 2015 kemarin.



Workshop Jurnalistik yang diadakan atas kerjasama antara Majalah Pilar dan Buletin Adz-Dzaka’ Forum Komunikasi Antar Komisariat (Forkapik) se-Kabupaten Kudus mengundang banyak antusias dari anggota PR/PK/PAC se-Kabupaten Kudus. Sebanyak 37 peserta yang mengikuti Workshop Jurnalistik mulai dari awal pembukaan sampai akhir acara. Di samping itu launching Website Resmi PC IPNU-IPPNU Kabupaten Kudus yang di resmikan oleh Ketua PC IPNU Kabupaten Kudus, Joni Prabowo.



Berbagai materi yang di sampaikan dalam Workshop Jurnalistik diantaranya Teknik Pembuatan Berita, Sastra, Opini, Features, dan lain sebagainya. Tidak hanya materi, namun peserta dilatih untuk terjun langsung untuk mencari berita di Masjid At Taqwa (Masjid Wali) Loram Wetan, Bandeng Presto Pak Kumis, Pabrik Jenang Barokah 55 Kudus.



Beragam media masa yang menjadi garapan dari alumni Workshop Jurnalistik yakni menjadi redaksi dari Majalah Pilar, Website, Fanspage PC IPNU IPPNU Kudus, dan Buletin Adz-Dzaka’ Forkapik Kabupaten Kudus.



Ketua Panitia Workshop Jurnalistik Abu Yazid Al Bustomi mengatakan, dari kegiatan ini diharapkan para kader bisa bersinergi memajukan Jurnalistik di kalangan Pelajar NU di Kabupaten Kudus.



“Sehingga Junalistik di kalangan Pelajar NU Kabupaten Kudus bisa lebih maju daripada sebelumnya,” tuturnya. (Dedi Hermanto/Fathoni)

Memaknai “Sumpah” bagi Yang Muda

10:56 AM Add Comment
Sumpah adalah kata dimana diucapkan untuk hal-hal tertentu yang bersifat harus. Tak jarang seseorang melakukan Sumpah karena ingin membuktikan hal tertentu, hal lain juga saat memiliki hasrat yang harus dipenuhi kerap seseorang mengucapkan Sumpahnya.

Sumpah dalam Jawa juga merupakan makna suci yang diungkapkan atas pembuktian kedikdayaan seseorang karena memiliki maksud yang besar dan tinggi, maka sebagai pembuktian tersebut para raja dan pemimpin pada masanya melakukan Sumpah-Sumpah demi menjaga nama dan kredibilitasnya. Semisal Sumpah Palapa Patih Gajah Mada.

Sumpah juga sebagai sikap pembuktian atas kasus atau tuduhan yang buktinya samar-samar dan bahkan hampir tidak ada. Seperti halnya Sumpah Pocong, meski dalam islam tidak ada ajaran tersebut, namun sumpah ini merupakan tradisi lokal yang masih kental menerapkan norma-norma adat.

Dalam kalangan profesional juga kita kenal sumpah-sumpah yang tercermin dalam sumpah profesi. Pada profesi-profesi kusus diterapkan sumpah karena profesi tersebut menyangkut kemanusiaan yang tidak dapat disepelekan atau profesi yang menyangkut rahasia-rahasia negara.

Ngegombal juga butuh sumpah lho... seperti yang sering kali seorang lelaki ungkapkan pada calon pasangannya “Sumpah Gue Sayang sama loe...”. Merayu terhadap lawan jenis dan menyampaikan kata-kata untuk berusaha menaklukan seseorang yang dikasihi dalam hidupnya...
Sebuah kesepakatan yang diucapkan secara bersama dan disaksikan kalayak luas bahkan disebar luaskan keseluruh penjuru negri juga memiliki makna Sumpah. Maka sumpah tidak dapat disepelekan maknanya, tidak dapat diremehkan artinya dan jangan sekali-kali mengesampingkan niatnya.

Dalam IPNU IPPNU, ketika kita masuk sebagai anggota, ikrar dan janji juga wajib terucap melalui ritual dan amalan sebagaimana yang kita laksanakan pada pembaiatan MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) ikrar dan sumpah tersebut tidak main-main karena selain kita mengucap janji, juga diawali dengan lafal Bismillah dan Syahadat, tak ada kata yang indah untuk mengawali selain 2 hal tersebut. Juga ditutup dengan lafal Lahaula... sebagai pengharapan semoga kita kuat dalam mengucap ikrar dan sumpah sebagai anggota IPNU IPPNU.
Pada Pelantikan pengurus juga nilai kesakralannya tak dapat diragukan lagi. Pembaitan pengurus baru merupakan cara inti pada Pelantikan tersebut. Dengan disaksikan para sesepuh, para tokoh dan halayak ramai, kita juga mengucap ikrar dan janji tersebut dengan dipandu pembaiat yang kurang lebih prosesinya sama pada pembaiat Makesta tadi.

Maka apakah makna sesungguhnya sumpah-sumpah yang telah tercetus pada kejadian kejadian mas lampau kususnya pada negri kita tercinta ini. Dan sumpah-sumpah yang telah dan masih berlaku pada diri kita dan mungkin akan kita laksanakan dimasa yang akan datang. Oleh hal tersebut ulasan-ulasan perlu kita ungkap kembali guna meneladani sikap-sikap baik, sikap cinta tanah air, sikap cinta terhadap sesama dan sikap saling menghormati. Juga guna mengevaluasi hal-hal yang harus kita hindari bilamana hal tersebut dirasa tidak dan kurang pas.



Ikrar para pemuda Indonesia 87 tahun silam yang tercermin dalam 3 butir dikenal dengan “Sumpah Pemuda” Satu Tanah Air, Satu Bangsa dan Satu Bahasa yakni Indonesia. Sumpah tersebut adalah pengharapan suci para kaum muda terpelajar waktu itu ketika dalam masa penjajahan bangsa asing, untuk berikrar dan bersumpah serapah mempersatukan semua wilayah, mempersatukan semua pemuda yang tergabung satu dalam negara Indonesia yang di idam-idamkan atas dasar satu nasib satu penanggungan dan satu rasa, ingin merdeka.
Sumpah Pemuda waktu itu lebih condong memaknai tentang bagaimana bersatu merebut kemerdakaan, nah jika kita refleksikan hal tersebut pada peringatan Sumpah Pemuda ke-87 ini ada beberapa poin yang dapat kita urai. Peringatan Sumpah Pemuda yang ke-87 kali ini mengambil tema “Revolusi Mental Untuk Kebangkitan Pemuda Menuju Aksi “Satu Untuk Bumi””. Sedikitnya ada 2 hal yang dapat kita urai.

Pertama revolusi mental kebangkitan pemuda menjadi penting karena dirasa pola pikir pemuda sekarang telah bergeser seiring perkembangan zaman dan pesatnya teknologi sehingga pemuda sekarang dirasa lebih individualis dan pragmatis. Hal ini jelas adanya karena sistim informasi dan internet telah mendominasi kamu muda dalam bersosial, mereka lebih kerap menghabiskan waktu didepan laptop atau menggenggam hp-nya. Dalam hal kebijakan ekonomi, pemuda juga dirasa harus bangkit dalam rangka meghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) karena dirasa pemuda Indonesia akan mampu menguasai pasar berpijak pada pada Badan Pusat Statisti tahun 2013 yang menyebutkan bahwa angka angkatan kerja kita lebih unggul dari negara-negara lain di Asean. Maka dengan revolusi mental kita harus bangkitkan kembali rasa persaudaraan dan rasa persatuan antar pemuda demi masa depan bangsa dan negara.

Kedua, adalah terkait fenomena pengelolaan Sumber Daya Alam kita yang belum sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Sebagai Negara tropis, Indonesia menjadi tumpuan dunia untuk menjaga keseimbangan iklim melalui pasokan oksigennya. Namun, hari ini justru kita menjadi Negara yang menyumbang polusi terbesar di kawasan Asia Tenggara melaui kabut asap. Kita sendiri sudah merasakan dampaknya. Dampak kesehatan adalah yang paling nyata. Selanjutnya, dampak perekonomian akibat system transportasi yang tidak bisa berjalan dengan baik. Dan melalui Aksi “Satu Bumi” lah langkah yang dapat kita lakukan.

Akhirnya, atas nama PC IPNU IPNNU Kab. Kudus mengucapkan SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA KE-87, Melaui Revolusi Mental Pemuda kita harapkan lahir generasi muda Indonesia yang tangguh, berkarakter, mandiri dan rela berjuang untuk kepentingan bangsa dan negaranya berlandaskan Faham Ahlussunah Wal Jamaah. Rela berkorban menanggalkan ego masing-masing demi kepentingan yang lebih besar, yaitu INDONESIA, seperti yang pernah dilakukan oleh pemuda pendahulu kita. Inilah tanah air kita, bumi kita inilah masa depan kita.

(Wahyu Hidayat/ Sekretaris IPNU Kudus)

Undaan Didik Kader Siap Bela Negara

2:46 PM Add Comment
UNDAAN, Dewan Koordinasi Anak Cabang (DKAC) CBP bersama KPP Kec. Undaan Kudus sukses adakan Pendidikan dan Latihan Pertama (DIKLATAMA) CBP IPNU dan KPP IPPNU, Kamis sampai Ahad (22-25 Oktober 2015), diikuti 73 peserta dari berbagai pelosok Kecamatan Undaan Kudus.

Layyina Mawaddah, Komandan DKAC KPP Undaan, menerangkan kegiatan yang dikemas semi militer ini mengacu pada semangat bela negara dengan tema yang diusung yakni Merajut Semangat Bela Negara. “Kami berharap para kader dapat loyal dan kreatif memajukan DKAC Undaan kedepan serta mampu mengembangkan kualitas untuk mejadi penggerak dimasing-masing Ranting” terangnya pada kegiatan di lapangan Undaan Tengah kemarin (24/10).

“Juga mampu menjadi penerus DKC dari kader Undaan” tambah Korlap kegiatan. Materi yang disajikan dalam pelatihan tersebut diantaranya adalah SAR Air dan SAR Darat dengan mengambil lokasi di Sungai Bakinah Ngemplak, yang menjadi salah satu materi favorit para paserta Diklatama tersebut.

Serta didampingi oleh Tim Instruktur DKC CBP-KPP Kudus dan Tim KPBA Nahdlatul Ulama (Korp Peduli Bencana Alam NU) Kab. Kudus. Mengingat daerah Undaan sebagian merupakan daerah rawan banjir. Sedang dari DKC melalui Komandan Abu Hasan Asy'ari yang juga merupakan kader dari Undaan, siap membimbing peserta pasca kegiatan tersebut yang tergabung dalam Alumni Diklatama Undaan 2015.

PAC Jekulo Siapkan Konfrensi Anak Cabang

6:54 AM Add Comment


JEKULO (25/10), menjelang Konferensi Anak Cabang (KONFERANCAB), PAC IPNU IPPNU Jekulo mengadakan rapat persiapan yang pertama di rumah Rekan Syaefullah, ketua PAC IPNU Jekulo sore tadi.

Konferensi yang rencana dilaksanakan di Gedung Jama’ah Haji Jekulo (JHJ) pada tanggal 29 November 2015 mendatang itu mempunyai beberapa kegiatan akan diadakan sebelum Konferensi. “Kami berencana mengadakan jalan sehat dan PORSENI yang disemarakkan oleh seluruh PR dan PK se Kecamat Jekulo.” Terang Arsyad dalam sambutannya selaku ketua OC.

Sebelum KONFERANCAB Jekulo lebih fokus untuk menghidupkan ranting-ranting yang fakum pada masa kepengurusan. Dengan menjalin kerjasama alumni dan tokoh-tokoh desa setempat, diharapkan ranting yang fakum dapat aktif kembali.

“Ada sedikitnya 4 ranting di PAC Jekulo yang fakum, meliputi Desa Pladen, Terban, Tanjung Rejo dan Sadang. Saya harap akhir dari kepengurusan saya nanti, setidaknya ada struktur kepengurusan dari setiap ranting yang akan menghidupkan rantingnya masing-masing. Tentunya dengan bimbingan dari kami.” Ujar Munadhiroh selaku Ketua IPPNU PAC Jekulo. (Siti Rokhimah)

MARS BANOM NU

3:58 PM Add Comment




MARS IPNU
Cipt: Drs. Shomuri
Bersemangat 2/4 c=1
Wahai putra Indonesia
Siapkanlah barisanmu
Bertekad bulat bersatu
Di bawah kibaran panji IPNU
Ayo hai putra Islam yang setia
Kembangkanlah agamamu
Dalam negara Indonesia
Tanah air yang kucinta
Dengan berpedoman kita belajar
Berjuang serta bertakwa
Kita bina watak nusa dan bangsa
Tuk kejayaan masa depan
Bersatu wahai putra Islam jaya
Tunaikanlah kewajibanmu yang mulia
Ayo maju pantang mundur
Dengan rahmat Tuhan kita perjuangkan
Ayo maju pantang mundur
Pasti tercapai adil makmur
===================================================
MARS IPPNU
download lagu di sini
Lagu: M. Embut
Lirik : Mahbub Junaidi

Tempo Demarcia
Sirnalah gelap terbitlah terang
Mentari timur sudah bercahya
Ayunkan langkah pukul genderang
Segala rintangan mundur semua
Tiada laut sedalam iman
Tiada gunung setinggi cita
Sujud kepala kepada Tuhan
Tegak kepala lawan derita
Di malam yang sepi
Di pagi yang terang
Hatiku teguh bagimu ikatan
Di malam yang hening
Di hati membakar
Hatiku penuh bagimu pertiwi
Mekar seribu bunga di taman
Mekar cintaku pada ikatan
Ilmu kucari amal kuberi
Untuk agama bangsa negeri
===================================================
MARS GP ANSOR
Darah dan nyawa telah kuberikan
Syuhada rebah Allahu Akbar
Kini bebas rantai ikatan
Negara jaya Islam yang benar
Berkibar tinggi panji gerakan
Iman di dada patriot perkasa
Ansor maju satu barisan
Seribu rintangan patah semua
Tegakkan yang adil hancurkan yang dzalim
Makmur semua lenyap yang nista
Allahu Akbar – Allahu Akbar
Pajar baja gerakan kita
Bangkitlah bangkit putra pertiwi
Tiada gentar dada ke muka
Bela agama bangsa negeri
===================================================
MARS FATAYAT NU
Fatayat Nahdlatul Ulama
Teladan pemudi utama
Berguna bagi nusa bangsa
Menjunjung tinggi agama
Fatayat Nahdlatul Ulama
Wanita berpribadi luhur
Setia, terampil, dan jujur
Menuju masyarakat adil makmur
**
Fatayat berasas Pancasila
Bersendi A-Quran dan Sunnah
Ahlussunnah wal jama’ah
Menuju ridho Allah
X2
===================================================
MARS MUSLIMAT NU
Marilah kaum ibu muslimat
Nahdlatul Ulama dan setia
Al-Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas
Menjadi pedoman utama
Demi agama, nusa, dan bangsa
Negara damai bahagia
**
Insyaflah hai kaum ibu
Bimbinglah putra-putrimu
Iman teguh, bijaksana
Muslimat Indonesia
X2
Majulah kaum ibu muslimat
Pengemban, pembawa amanat
Pendidik, pembina bunga bangsa
Menunaikan tugas mulia
Berilmu, beramal, dan berbakti
bertaqwa pada Ilahi
kembali ke **
===================================================

PUISI " IPNU-IPPNU"

4:37 PM Add Comment


IPNU-IPPNU
Organisasi pemuda pemudi
Dibentuk NU untuk melaksanakan kaderisasi
Dikalangan pelajar dan santri
Untuk membentuk kualitas tinggi
Unggul dalam prestasi
Serta berjiwa islami

IPNU-IPPNU
Organisasi berwawasan kebangsaan
Yang menjunjung tinggi persatuan
Mengutamakan keadilan
Tanpamemandang perbedaan
Bergerak dengan pedoman
Dalam mencapai tujuan

IPNU-IPPNU
Organisasi yang terikat kuat
Dengan danya masyarakat
Mengembangkan ajaran islam yang bersyariat
Untuk keslamatan di akhirat

IPNU-IPPNU
Organisasi yang bertujuan mulia
Dengan membentuk generasi bangsa
Yang ahli dalam agam
Serta unggul dalam ilmu dunia


Karya,
khoirun niam mahfudl
PK TBS

"Antusias Arus Bawah Dorong Suksesi Hari Santri"

7:19 PM Add Comment


Mejobo (18/10)

PAC IPNU IPPNU Kec. Mejobo langsung adakan k0ordinasi kepada manajer dan pimpinan Ranting diwilayah kecamatan mejobo.

"Mejobo adalah jalur pantura yang mejadi jalur Kirab Akbar hari santri dari PB NU, maka kami akan smaksimal mungkin menyambut rombongan tersebut" terang Rekan Adib Zamroni Ketua IPNU Mejobo.


Hari Santri 22 Oktober mendatang adalah hari bersejarah maka tak heran antusiasme arus bawah sangat besar "kami selalu mengkoordinasikan persiapan, kususnya pada hari-H kpd NU karena begitu besar tanggapan positip dr warga nahdliyin arus bawah" tambah Adib.

Semoga acara Hari Santri 22 oktober nanti berjalan dengan lancar. Amien

CERPEN : Oktober 2015

6:49 PM Add Comment
Sesosok jiwa yang mampu memberikan keteduhan di saat sunyi terasa menusuk seramnya malam di saat mata mengantuk di ujung kantuk disaat mentari terlihat merangkak di langit timur disaat semburat awan perak terlihat dari jendela dunia disaat sekawanan manusia sibuk mengembara di alam bebas di saat langit timur tampak ranum dengan gugusan oranye lembayung senja dan di kala itulah sapa terutas pada dataran yang berjauhan.
                                                                        *****
Malam merengkuh sunyi menyisahkan pekat kegelapan di pelupuk mata memunculkan asap kemerahan yang bergerak tak ubahnya arakan. malam ini, tanpa sinar lembut raja malam atau kedipan bintang yang biasa mengintai genit di balik gumpalan awan. Menohokku dikala angin menerpa rambutku sekedar membasuh pipi, udara menyusup halus ke dalam pori-pori. Ketika angin tetap terjaga dalam nafas panjangnya, saat itu pula puluhan dedaunan sampai ratusan dedaunan siap mendongak keatas, apakah mentari yang menatapnya atau segumpalan awan menangis sendu kepadanya. "Semuanya memiliki batas akhir", lirihku dalam keheningan malam pertengahan oktober.
"Ya, hidup itu pilihan kan? Kalo mau maju harus berani membuat pilihan kan? Semua ada resikonya. Kalo gak namanya gak hidup tapi di surga" penjabaran yang terus berputar putar memenuhi otakku, berbagai pertanyaan berlomba lomba meminta penjelasanku, menuntut jawaban qoth.i untuk melerai kerusuhan yang sedang berlangsung dalam benakku. "Tidaklah dikatakan hidup, jika tak memiliki masalah?", Desahku pada angin yang berhembus kencang dalam kesunyian malam pertengahan oktober.
"Ya, meskipun gak mau, tapi misalnya suatu saat itu benar benar terjadi kan sama saja kita gak bisa menghindar" sebuah kesimpulan yang membuat burung burung tertegun dikala menangkap kicauannya, mencoba berulang ulang untuk terus berkicau dan memberhentikannya dikala desir mengepakkan sayapnya untuk terbang tinggi di angkasa bebas. "Akalanya pandangan mata mendinginkan", syukurku dalam tasbih doa yang setia ku kecup pada pencipta desah nafas ini ..
  Sentuhan mulut mungil serangga malam membuyarkan rebah khusuk dalam doa yang sedang kutasbihkan, mengutuk tanganku dalam sentuhan kasar yang mendarat dipipiku, nyeri yang tertinggal meninggalkan bercak merah melukiskan bentuk tangan. "Lengkap sudah malam ini" pikirku menyelami diri untuk permasalahan permasalahan yang sejenak saja terlalui.

                                                            *****
Pagi menjelma mengusir malam dalam pekatnya, raja siang kembali bertahta menyapa dunia sembari mengumbar tatapan tajam. Sapaan yang menimbulkan getaran berbeda dari biasanya, sapaan yang biasa memperkuat jiwa ketika hendak berlayar mengarungi samudera bahtera kehidupan tak ubahnya kedipan sinis yang mampu membakar barisan pepohonan yang berbaris rapi di sahara luas. "Akankah embun menjadi pudar sebelum pagi berlalu", tanyaku penuh keheranan pada rerumputan yang berselimut embun pagi.

            Segala keraguan yang dibisikkan setan nafsu tak henti mendekatiku, tidaklah heran jika dia melakukannya sekedar bercumbu, hanya saja karnanyalah nafsu mampu menghalangi seseorang dalam menyempurnakan ketaatannya. Namun tidaklah lupa nurani membangun tembok kekuatan untuk memisahkan diri darinya, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengusir segala tempat tempat keraguan. "Ketika bayangnya di matamu dan tempat tinggalnya di hatimu, seorang kekasih tak kan hilang dari hati kekasihnya" nasihat nurani mencoba menenangkanku melenyapkan segala keraguan yang berusaha mengikuti di belakang koridorku.
                                                                        *****
            Sekedar riakkan awan yang turun menapakkan diri di bumi kretek mampu menghadirkan kesejukkan melalui debu yang berlalu lalang karna sentuhannya terasa menggoda penciuman belum lagi efek yang ditimbulkan olehnya berupa garis garis warna yang mencakkar kaki kaki langit Benar benar memanjakkan mata, Berbagai macam warna berpadu satu kesatuan. Namun hanya angan yang menarik simpulan indah pada sudut bibirku, karna realita mengabarkan bahwa raja siang sedang berdiri tepat diatas ubun ubun kepalaku ..
Kota kretek tempat dimana ku menghirup dalam dalam kehidupan, nafas yang tak pernah berhenti sedetik pun, Ilmu yang tak pernah lengser setetes pun, dan berbagai persoalan yang mengingatkanku akan pentingnya muhasabah diri untuk semua hal yang belum, akan, atau telah terjadi pada sebuah ajang bergengsi untuk taqorrub karna kesadaran akan muqorrobah.
 Kota kretek tempat sederhana yang terukur jarak dari desa kelahiran yang telah membesarkanku dan mengajarkanku banyak hal sekedar menangis dan tersenyum, menuntunku tuk menginjakkan kaki di datarannya. Sekelompok tim bersarung lengkap dengan kokoh dan peci berlalu lalang mengamati berbagai bentuk huruf tak berharokat terwujud. Serta tim berhijab meng turunkan suara melafalkan huruf huruf bertopi.
 Kota kretek tempat yang memperkenalkanku akan makna tangisan dan senyuman, merasakan kasih yang tersimpan dan tak pernah terucap sejauh hati merasakan kebahagiaan atau kesedihan. Mendewasakan jiwa dikala menemukan hal yang mungkin atau tidak sampai menuntun kemana arah hati harus bersandar ...


                                                                        *****

            Lantunan adzan maghrib yang menggema di dataran jawa bumi kretek membangunkanku dari berbagai analogis yang tak usai menerpaku dari semalam. kegundahan, keraguan terus saja mengakrabiku seperti seorang teman baru yang ingin menjadi sahabat karibku. Seiring bergeraknya detik Terdengar rencana adzan yang dilantunkan, pelan dan semakin pelan sampai benar benar menghilang tak terdengar. menyuruhku untuk segera bergegas merayap khusuk dalam timang ketenangan. Mengagungkan asma illahi robbi merunduk syukur tuk semua cerita yang telah Ia berikan.
             Maghrib telah berlalu, membawaku pada nyanyian nyanyian indah lembaran suci. Seketika kehangatan terasa di jiwaku, menimbulkan ketenangan yang sedang kucari. Lembar demi lembar terus kujelajahi, kucoba lagi mencari energy positif yang ditimbulkannya. Semakin terus ku buka lembar selanjutnya, ketenangan benar benar singgah memenuhi segala penjuru jiwaku sampai tak terasa adzan selanjutnya telah memasuki waktunya, terdiamku tuk mendengar dan merasakan KESYAHDUANNYA.
 Malam ini, lewat lantunan suci sanjungan asma tuhan yang berkumandang kuhapus segala keraguan dan kegundahan yang mencekam diriku, kutitipkan salam rinduku untuknya sesosok jiwa, biar tuhan yang mengobati segala kegundahan dan keraguan yang sempat singgah karnanya. Senyum simpul terbentuk dibibirku, teryata satu malam panjang sampai siang terlalui dan menemukan malam kembali aku dirundung rindu. Pada pertengahan Oktober 2015, mendekati hari pengulangan sesosok jiwa, sungguh aku benar benar tercekam kerinduan. Kepada sesosok jiwa, selamat menelaah perjalanan hidup.
                                         
Nama: Umnia Lailatur Rohimah
Kelas: XI-Keagamaan
Sekolah: MA NU Banat Kudus




Biografi KH Hasyim Asy'ari - Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)

4:00 PM Add Comment

Biografi KH Hasyim Ashari
Biografi KH Mohammad Hasyim Asy'ari.  Biasa disebut KH Hasyim Ashari beliau dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 atau menurut penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dan beliau kemudian tutup usia pada tanggal 25 Juli 1947 yang kemudian dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang, KH Hasyim Asy'ari merupakan pendiri Nahdlatul Ulama yaitu sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. KH Hasyim Asyari merupakan putra dari pasangan Kyai Asyari dan Halimah, Ayahnya Kyai Ashari merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. KH Hasyim Ashari merupakan anak ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis keturunan ibunya, KH Hasyim Ashari merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). dari Ayah dan Ibunya KH Hasyim Ashari mendapat pendidikan dan nilai-nilai dasar Islam yang kokoh.

Biografi KH Hasyim Asy'ari
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan KH Hasyim Ashari memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Kyai Cholil.

KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo. Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal. Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi..
Biografi KH Hasyim Ashari
Logo Nahdlatul Ulama
Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.

Tahun 1899, Kyai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal. Dari tratak kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Kyai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.

Setelah dua tahun membangun Tebuireng, Kyai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan. Kyai Hasyim kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini Kyai Hasyim dikaruniai 10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf. Pada akhir dekade 1920an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kyai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kyai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khotijah, (4) Muhammad Ya’kub.

Pernah terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan KH Mohammad Cholil, gurunya. “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, begitu Kyai dari Madura ini populer dipanggil. Kyai Hasyim menjawab, “Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.” Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kyai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.

Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya. Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan itu banyak terjadi. Namun yang ditunjukkan Kyai Hasyim juga Kyai Cholil; adalah kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita. Mbah Cholil adalah Kyai yang sangat termasyhur pada jamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus pemimpin Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, ini.

Sedangkan Kyai Hasyim sendiri tak kalah cemerlangnya. Bukan saja ia pendiri sekaligus pemimpin tertinggi NU, yang punya pengaruh sangat kuat kepada kalangan ulama, tapi juga lantaran ketinggian ilmunya. Terutama, terkenal mumpuni dalam ilmu Hadits. Setiap Ramadhan Kyai Hasyim punya ‘tradisi’ menggelar kajian hadits Bukhari dan Muslim selama sebulan suntuk. Kajian itu mampu menyedot perhatian ummat Islam. Maka tak heran bila pesertanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mantan gurunya sendiri, Kyai Cholil. Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim. Setelah lulus dari Tebuireng, tak sedikit di antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Wahid Hasyim (anaknya) dan KH Achmad Siddiq adalah beberapa ulama terkenal yang pernah menjadi santri Kyai Hasyim. Tak pelak lagi pada abad 20 Tebuireng merupakan pesantren paling besar dan paling penting di Jawa. Zamakhsyari Dhofier, penulis buku ‘Tradisi Pesantren’, mencatat bahwa pesantren Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura. Tak heran bila para pengikutnya kemudian memberi gelar Hadratus-Syaikh (Tuan Guru Besar) kepada Kyai Hasyim.

Karena pengaruhnya yang demikian kuat itu, keberadaan Kyai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah. Baik Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya. Di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya. Justru Kyai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci). Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana. Kedua, Kyai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas. Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya.

Namun sempat juga Kyai Hasyim mencicipi penjara 3 bulan pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kyai Hasyim. Mungkin, karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah. Uniknya, saking khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta ikut dipenjarakan bersama Kyainya itu. Masa awal perjuangan Kyai Hasyim di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Pasukan Kompeni ini tidak segan-segan membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah. Pesantren Tebuireng pun tak luput dari sasaran represif Belanda. Pada tahun 1913 M., intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun dia tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas.

Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kyai Hasyim dengan tuduhan pembunuhan. Dalam pemeriksaan, Kyai Hasyim yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis. Akhirnya beliau dilepaskan dari jeratan hukum. Belum puas dengan cara adu domba, Belanda kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantren yang baru berdiri 10-an tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1940an. Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara Jepang.

Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam, Jepang menggabungkan antara kebijakan represi dan kooptasi, sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim. Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Hadratus Syaikh beserta sejumlah putera dan kerabatnya. Ini dilakukan karena Kyai Hasyim menolak melakukan seikerei. Yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). Aktivitas ini juga wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang. Kyai Hasyim menolak aturan tersebut. Sebab hanya Allah lah yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya, Kyai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah–pindah, mulai dari penjara Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan, Surabaya.

Karena kesetiaan dan keyakinan bahwa Hadratus Syaikh berada di pihak yang benar, sejumlah santri Tebuireng minta ikut ditahan. Selama dalam tahanan, Kyai Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangannya menjadi patah tak dapat digerakkan. Setelah penahanan Hadratus Syaikh, segenap kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng vakum total. Penahanan itu juga mengakibatkan keluarga Hadratus Syaikh tercerai berai. Isteri Kyai Hasyim, Nyai Masruroh, harus mengungsi ke Pesantren Denanyar, barat Kota Jombang.

Tanggal 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan dipenjara, Kyai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes dari para Kyai dan santri. Selain itu, pembebasan Kyai Hasyim juga berkat usaha dari Kyai Wahid Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta. Tanggal 22 Oktober 1945, ketika tentara

NICA (Netherland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh pemerintah Belanda membonceng pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris, berusaha melakukan agresi ke tanah Jawa (Surabaya) dengan alasan mengurus tawanan Jepang, Kyai Hasyim bersama para ulama menyerukan Resolusi Jihad melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris tersebut.

Resolusi Jihad ditandatangani di kantor NU Bubutan, Surabaya. Akibatnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945 yang bersejarah itu. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad itu keluar dari kampung-kampung dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris. Peristiwa 10 Nopember kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Pada tanggal 7 Nopember 1945—tiga hari sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya—umat Islam membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi). Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari berbagai faham. Kyai Hasyim diangkat sebagai Ro’is ‘Am (Ketua Umum) pertama periode tahun 1945-1947. Selama masa perjuangan mengusir penjajah, Kyai Hasyim dikenal sebagai penganjur, penasehat, sekaligus jenderal dalam gerakan laskar-laskar perjuangan seperti GPII, Hizbullah, Sabilillah, dan gerakan Mujahidin. Bahkan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo senantiasa meminta petunjuk kepada Kyai Hasyim.

Kemampuannya dalam ilmu hadits, diwarisi dari gurunya, Syaikh Mahfudh At Tarmisi di Mekkah. Selama 7 tahun Hasyim berguru kepada Syaikh ternama asal Pacitan, Jawa Timur itu. Disamping Syaikh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabau. Kepada dua guru besar itu pulalah Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru. Jadi, antara KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya tunggal guru. Yang perlu ditekankan, saat Hasyim belajar di Mekkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam. Dan sebagaimana diketahui, buah pikiran Abduh itu sangat mempengaruhi proses perjalanan ummat Islam selanjutnya. Sebagaimana telah dikupas Deliar Noer, ide-ide reformasi Islam yang dianjurkan oleh Abduh yang dilancarkan dari Mesir, telah menarik perhatian santri-santri Indonesia yang sedang belajar di Mekkah. Termasuk Hasyim tentu saja. Ide reformasi Abduh itu ialah pertama mengajak ummat Islam untuk memurnikan kembali Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang sebenarnya bukan berasal dari Islam.

Kedua, reformasi pendidikan Islam di tingkat universitas; dan ketiga, mengkaji dan merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan modern; dan keempat, mempertahankan Islam. Usaha Abduh merumuskan doktrin-doktrin Islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern pertama dimaksudkan agar supaya Islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih besar dalam lapangan sosial, politik dan pendidikan. Dengan alasan inilah Abduh melancarkan ide agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada pola pikiran para mazhab dan agar ummat Islam meninggalkan segala bentuk praktek tarekat. Syaikh Ahmad Khatib mendukung beberapa pemikiran Abduh, walaupun ia berbeda dalam beberapa hal. Beberapa santri Syaikh Khatib ketika kembali ke Indonesia ada yang mengembangkan ide-ide Abduh itu. Di antaranya adalah KH Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah. Tidak demikian dengan Hasyim. Ia sebenarnya juga menerima ide-ide Abduh untuk menyemangatkan kembali Islam, tetapi ia menolak pikiran Abduh agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mazhab.

Ia berkeyakinan bahwa adalah tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang tergabung dalam sistem mazhab. Untuk menafsirkan Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama mazhab hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, demikian tulis Dhofier. Dalam hal tarekat, Hasyim tidak menganggap bahwa semua bentuk praktek keagamaan waktu itu salah dan bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya, ia berpesan agar ummat Islam berhati-hati bila memasuki kehidupan tarekat. Dalam perkembangannya, benturan pendapat antara golongan bermazhab yang diwakili kalangan pesantren (sering disebut kelompok tradisional), dengan yang tidak bermazhab (diwakili Muhammadiyah dan Persis, sering disebut kelompok modernis) itu memang kerap tidak terelakkan.

Puncaknya adalah saat Konggres Al Islam IV yang diselenggarakan di Bandung. Konggres itu diadakan dalam rangka mencari masukan dari berbagai kelompok ummat Islam, untuk dibawa ke Konggres Ummat Islam di Mekkah. Karena aspirasi golongan tradisional tidak tertampung (di antaranya: tradisi bermazhab agar tetap diberi kebebasan, terpeliharanya tempat-tempat penting, mulai makam Rasulullah sampai para sahabat) kelompok ini kemudian membentuk Komite Hijaz.

Komite yang dipelopori KH Abdullah Wahab Chasbullah ini bertugas menyampaikan aspirasi kelompok tradisional kepada penguasa Arab Saudi. Atas restu Kyai Hasyim, Komite inilah yang pada 31 Februari l926 menjelma jadi Nahdlatul Ulama (NU) yang artinya kebangkitan ulama. Setelah NU berdiri posisi kelompok tradisional kian kuat. Terbukti, pada 1937 ketika beberapa ormas Islam membentuk badan federasi partai dan perhimpunan Islam Indonesia yang terkenal dengan sebuta MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) Kyai Hasyim diminta jadi ketuanya. Ia juga pernah memimpin Masyumi, partai politik Islam terbesar yang pernah ada di Indonesia. Penjajahan panjang yang mengungkung bangsa Indonesia, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Pada tahun 1908 muncul sebuah gerakan yang kini disebut Gerakan Kebangkitan Nasional.

Semangat Kebangkitan Nasional terus menyebar ke mana-mana, sehingga muncullah berbagai organisai pendidikan, sosial, dan keagamaan, diantaranya Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916, dan Taswirul Afkar tahun 1918 (dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri atau Kebangkitan Pemikiran). Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar, maka Taswirul Afkar tampil sebagi kelompok studi serta lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Tokoh utama dibalik pendirian tafwirul afkar adalah, KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh muda pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas), yang juga murid hadratus Syaikh. Kelompok ini lahir sebagai bentuk kepedulian para ulama terhadap tantangan zaman di kala itu, baik dalam masalah keagamaan, pendidikan, sosial, dan politik. Pada masa itu, Raja Saudi Arabia, Ibnu Saud, berencana menjadikan madzhab Salafi-Wahabi sebagai madzhab resmi Negara. Dia juga berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang selama ini banyak diziarahi kaum Muslimin, karena dianggap bid’ah. Di Indonesia, rencana tersebut mendapat sambutan hangat kalangan modernis seperti Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang menghormati keberagaman, menolak dengan alasan itu adalah pembatasan madzhab dan penghancuran warisan peradaban itu. Akibatnya, kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres Al Islam serta tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah, yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Didorong oleh semangat untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta rasa kepedulian terhadap pelestarian warisan peradaban, maka Kyai Hasyim bersama para pengasuh pesantren lainnya, membuat delegasi yang dinamai Komite Hijaz. Komite yang diketuai KH. Wahab Hasbullah ini datang ke Saudi Arabia dan meminta Raja Ibnu Saud untuk mengurungkan niatnya.

Pada saat yang hampir bersamaan, datang pula tantangan dari berbagai penjuru dunia atas rencana Ibnu Saud, sehingga rencana tersebut digagalkan. Hasilnya, hingga saat ini umat Islam bebas melaksanakan ibadah di Mekah sesuai dengan madzhab masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.

Pendirian Nahdlatul Ulama (NU)
Biografi KH Hasyim Ashari

Tahun 1924, kelompok diskusi Taswirul Afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat istikharah, menohon petunjuk dari Allah. Dinanti-nanti sekian lama, petunjuk itu belum datang juga. Kyai Hasyim sangat gelisah. Dalam hati kecilnya ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan. Sementara nun jauh di Bangkalan sana, Kyai Khalil telah mengetahui apa yang dialami Kyai Hasyim. Kyai Kholil lalu mengutus salah satu orang santrinya yang bernama As’ad Syamsul Arifin (kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo), untuk menyampaikan sebuah tasbih kepada Kyai Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kyai Hasyim.

Ketika Kyai Hasyim menerima kedatangan As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergentar. ”Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujarnya lirih sambil meneteskan airmata. Waktu terus berjalan, akan tetapi pendirian organisasi itu belum juga terealisasi. Agaknya Kyai Hasyim masih menunggu kemantapan hati. Satu tahun kemudian (1925), pemuda As’ad kembali datang menemui Hadratus Syaikh. ”Kyai, saya diutus oleh Kyai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kyai Kholil di lehernya. Tangan As’ad belum pernah menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan menuju Tebuireng sangatlah jauh dan banyak rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi selama dalam perjalanan, sebab khawatir tangannya menyentuh tasbih. Ia memiliki prinsip, ”kalung ini yang menaruh adalah Kyai, maka yang boleh melepasnya juga harus Kyai”.

Inilah salah satu sikap ketaatan santri kepada sang guru. ”Kyai Kholil juga meminta untuk mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Kehadiran As’ad yang kedua ini membuat hati Kyai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syaikh menangkap isyarat bahwa gurunya tidak keberatan jika ia bersama kawan-kawannya mendirikan organisai/jam’iyah. Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melalui salat istikharah. Sayangnya, sebelum keinginan itu terwujud, Kyai Kholil sudah meninggal dunia terlebih dahulu. Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926M, organisasi tersebut secara resmi didirikan, dengan nama Nahdhatul Ulama’, yang artinya kebangkitan ulama. Kyai Hasyim dipercaya sebagai Rais Akbar pertama. Kelak, jam’iyah ini menjadi organisasi dengan anggota terbesar di Indonesia, bahkan di Asia.

Sebagaimana diketahui, saat itu (bahkan hingga kini) dalam dunia Islam terdapat pertentangan faham, antara faham pembaharuan yang dilancarkan Muhammad Abduh dari Mesir dengan faham bermadzhab yang menerima praktek tarekat. Ide reformasi Muhammad Abduh antara lain bertujuan memurnikan kembali ajaran Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari Islam, mereformasi pendidikan Islam di tingkat universitas, dan mengkaji serta merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan modern. Dengan ini Abduh melancarakan ide agar umat Islam terlepas dari pola pemikiran madzhab dan meninggalkan segala bentuk praktek tarekat. Semangat Abduh juga mempengaruhi masyarakat Indonesia, kebanyakan di kawasan Sumatera yang dibawa oleh para mahasiswa yang belajar di Mekkah.

Sedangkan di Jawa dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan melalui organisasi Muhammadiyah (berdiri tahun 1912). Kyai Hasyim pada prinsipnya menerima ide Muhammad Abduh untuk membangkitkan kembali ajaran Islam, akan tetapi menolak melepaskan diri dari keterikatan madzhab. Sebab dalam pandangannya, umat Islam sangat sulit memahami maksud Al Quran atau Hadits tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama madzhab. Pemikiran yang tegas dari Kyai Hasyim ini memperoleh dukungan para Kyai di seluruh tanah Jawa dan Madura. Kyai Hasyim yang saat itu menjadi ”kiblat” para Kyai, berhasil menyatukan mereka melalui pendirian Nahdlatul Ulama’ ini. Pada saat pendirian organisasi pergerakan kebangsaan membentuk Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI), Kyai Hasyim dengan putranya Kyai Wahid Hasyim, diangkat sebagai pimpinannya (periode tahun 1937-1942). Biografiku.com