Perspektif ke-Kudus-an dalam IPNU-IPPNU

11:36 AM Add Comment



Pandangan Kudus dalam organisasi di tubuh IPNU IPPNU serta serba serbi Budaya Kader Kudus terkait dengan IPNU IPPNU di wilayah Kabupaten Kudus.
Letak Geografis;
Kudus dibagi atas 9 kecamatan yang tersebar dari dataran tinggi Lereng Muria hingga lembah daerah Undaan. Tak dipungkiri bahwa letak geografis suatu wilayah juga mempengaruhi organisasi tersebut dalam mobilitasnya. Pun demikian dengan Kudus. Dalam perkembangan organisasi IPNU IPPNU di Kabupaten Kudus secara garis besar telah berjalan dinasmis dengan adanya PAC di 9 kecataman aktif semua, dan total 104 desa dari 136 desa di Kudus yang ada IPNU-IPPNUnya.
Tetapi seharusnya letak geografis dan wilayah Kabupaten Kudus dalam mobilitas organisasi, TIDAK SEBANDING dengan kabupaten tetangga kita, sebut saja PATI dan JEPARA. Ya ... Pati letak geografisnya membentang mengelilingi Gunung Muria bagian timur mulai dari Tayu sampai dengan Sukolilo, Jepara juga demikian melintag Gunung Muria bagian Barat mulai dari Keling sampai Mayong. Bayangkan jika PC tersebut melakukan tour kaderisasi, butuh waktu berapa jam dan jarak tempuh yang hampir 10 kali lipat daripada wilayah Kabupaten Kudus.
Nah .. seharusnya urusan tersebut sedah selesai karena dalam ngubengi kudus dari Colo hingga Kalirejo atau Sidorekso sampai Gondoharum, Cuma butuh waktu 30-45 menit saja. Itulah mengapa Kudus dalam pandangan kaderisasi dan organisasi cukup diuntungkan sehingga banyak melahirkan kader dari berbagai plosok Kudus.
Budaya sosial kemasyarakatan dan Ekonomi;
Kudus merupakan 1 Kabupaten yang kecil tapi terdapat 2 Waliyullah, Mbah Sunan Kudus dan Mbah Sunan Muria. Hal ini jelas mempengaruhi ghiroh rekan rekanita dalam berjuang. Dalam ajaran ahlussunah wal jama’ah terdapat amaliyah ziarah kubur. Nah di Kudus tak lengkap rasanya menjadi cah ipnu-ippnu jika tidak melaksanakan kegiatan ini sekaligus mempererat sillaturrahim organisasi.
Dalam budaya kemasyarakatan juga ada ajaran “GUSJIGANG” Bagus Ngaji dan Dagang, nah ini yang banyak menjiwai kader IPNU IPPNU Kudus dalam berjuang di organisasi ini, bahwa dalam ngrumati organisasi kita kader kudus juga dituntut untuk kerja keras nguripi organisasi, bukan malah mencari hidup diorganisasi. Dengan bekerja maka kita sebagai anggota tentu tahu akan kebutuhan organisasi dan bisa lebih mandiri dalam hal pribadi maupun organisasi
Dalam sikap juga kader kudus tidak terlalu idealis sebagai cerminan “bagus” dan tak diragukan lagi lingkungan santri yang telah sejak dulu diajarkan Sunan Kudus dan Sunan Muria juga melekat pada lingkungan kudus, banyak sekali tempat-tempat kajian keilmuan agama, tidak hanya di pusat kota atau Menara saja tetapi banyak tempat sehingga nuansa santri pada orang kudus melekat.
Ilmu dan Pendidikan;
Kudus sejak dulu terkenal salah satu pusat berkembangnya pendidikan baik ilmu agama maupun ilmu umum. Hal tersebut juga tercermin tidak pernah absennya kader dari sekolah-sekolah yang langsung di asuh oleh romo-romo kyai masyhur di kabupaten kudus dalam peredaran kader di IPNU IPPNU Kudus.
Pola Kaderisasi dan Gerakan;
Dalam kaderisasi yang ada di IPNU IPPNU seluruh Kudus telah mampu mengadakan kaderisasi secara mandiri, semua Pimpinan Ranting di Kab. Kudus telah mengadakan MAKESTA yang merupakan program wajib bagi setiap periode kepengrusan. Jaringan kader antar wilayah di Kudus juga memiliki kekhasan sendiri bahwa Kudus dalam berIPNU-IPPNU memiliki satu tujuan yakni berkhidmah kepada organisasi tercinta. Alumni-alumni IPNU-IPPNU merupakan aser organisasi yang tak akan pernah putus sumbangsihnya kepada organisasi, maka para alumni di Kab. Kudus juga salah satu sisi pemicu para kader dalam beraktifitas diorganisasi.
466 Kudus;
Hampir 5 abad peradaban Kudus terlahir berkat jasa para Wali para Sesepuh maka kita sebagai warga kudus haruslah bangga menjadi “Orang Kudus” yang selalu merawat dan melestarikan budaya kudus melalui jalur organisasi. Kita pun sebagai generasi Nahdliyin Kudus haruslah bangga dengan budaya lokal yang itu merupakan pusat perkembangan Islam yang dicerminkan dalam slogan Islam Nusantara Ala Kudus.
Selamat Hari Jadi Kota Kudus. Aku Bangga Jadi Orang Kudus. Bangga Berjuang untuk Kudus
Sek. PC IPNU Kudus

“Duo Eks Sekretaris Pimpin Wilayah Administrasi Kaliwungu 2 Tahun Kedepan”

10:54 AM Add Comment



Perhelatan Konfrensi Anak Cabang IPNU IPPNU Kaliwungu kemarin telah membuat sejarah baru bahwa regenerasi kepemimpinan dimasa depan telah disiapkan jauh jauh hari.

Terpilihnya Rekan Muklis Hermawan dan Rekanita Arin Anissatu S bukan hal yang luar biasa karena PAC Kaliwungu telah mempersiapkan kader jauh-jauh hari. Dengan peran dua Rekan Rekanita ini sebagai Sekrtaris PAC di periode lalu, hal ini membuktikan bahwa proses regenerasi berjalan dengan dinamis.Dengan harapan diperiode yang akan datang baik program maupun target kegiatan berjalan berkesinambungan antar periode ke periode.

“Regenerasi kepemimpinan yang ideal ditubuh IPNU IPPNU menjadi target kami selain itu dari sikap dasar yang peduli serta mau ngrumati organisasi juga kami harapkan nantinya” terang Rekan Rouf Ketua demisioner PAC Kaliwungu.

Muklis – Arin yang sudah menjadi bagian dari kepengurusankamarin ini selain diperiode lalu menjadi juru admin, juga telah mengikuti proses pengkaderan baik tingkatan ranting, pac bahkan pc. Maka tonggak kepemimpinan kedepan yang diwilayahnya terdapat 15 ranting diharapkan dapat berjalan sesuai dengan baik.

“Organisasi ini bukan hanya milik pimpinan saja, tapi kami butuh bantuan rekan dan rekanita dalam menjalankan roda organisasi. Mohon bantuaannya dari rekan yang katanya disebut singa-singa NU dan rekanita srikandi-srikandi IPPNU ancab Kaliwungu untuk terus menemani kami sampai akhir periode nanti” tandas Aris di akun Fb pribadinya.


Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kudus berharap kedepan baik tataran PAC maupun PR juga mempersiapkan regenerasi kader demi kelangsungan organisasi IPNU IPPNU dimasa yang akan datang, karena usia anggota IPNU IPPNU yang telah dipangkas 2 tahun sehingga hal ini perlu disiapkan jauh-jauh hari. (Wahyu SD)

“Menjadi Pemuda yang Berprestasi”

6:05 PM Add Comment
Hasil Ngaji bersama Gus Sabrang “Noe Leto”
“Menjadi Pemuda yang Berprestasi”



“Prestasi ditentukan dari karakter,  Sedangkan karakter tidak bisa di didik”
Semua di mulai dari cara berfikir,
Karena Apa Yang Kita Fikirkan Akan keluar menjadi kata-kata kita,
Apa yang kita katakan akan menjadi prilaku kita,
Apa yang menjadi prilaku kita akan menjadi kebiasaan kita,
Dan apa yang menjadi kebiasaan kita akan menjadi karakter kita,
Nah mari kita mulai dari cara berfikir yang benar dan berfikir yang baik....

“Bekerja Keras” itu penting, tapi lebih penting  adalah  “Bekerja Tepat”

Janga menjadi pengecut,,,
Kegagalan bukanlah keberhasilan yang tertunda,,
Tapi, Kegagalan adalah keberhasilan yang tak terjadi,,
Ingat, bukan hannya Badai Pasti berlalu, tapi Cerah Pasti Juga akan berlalu,,

Keberhasilan hannya datang dari keputusan yang benar,
keputasn yang benar datang dari pengalaman,
dan pengalaman datang dari keputusan yang salah,

Kegagalan kita memberikan kita pengalaman, sehingga berikutnya memberikan kesempatan kita untuk sukses,

“Kegagalan membuat kita pandai, dan keberhasilah membuat kita waspada”

Kebiasaan kita itu sering mencari hikmanya pada kegagalan, dan jarang kita mencari hikmanya dalan keberhasilan,,,

Istikomah, Belajar, Jantan dan Selalu Menjaga Keberanian Kita...


***Semoga Sukses***

DARI FAN PAGE (FB) FACEBOOK HINGGA APLIKASI ANDROID

1:32 AM Add Comment


Perkembangan Lembaga Pers dan Jaringan Komunikasi dan Informasi (JARKOMINFO) PC IPNU IPPNU Kudus kini semakin memenuhi kebutuhan pelajar.

Sudah 1 Tahun Fan Page (FP) Facebook PC IPNU IPPNU Kudus dikelola. Sebagai media informasi, dan berbagai wawasan sudah banyak disajikan. Namun tidak sampai cukup disitu, adanya kebutuhan lainnya juga perlu dikembangkan lagi.

Sekarang informasi dan kebutuhan administrasi kader tidak hanya dapat diperoleh dari FP Facebook saja, namun website sudah diluncurkan. Kader-kader IPNU IPPNU dan masyarakat dapat mengaksesnya melalui www.ipnuippnukudus.or.id.

Sistem Android diciptakan oleh Andy Rubin, lahir pada tahun 1962 dan dibesarkan di Chappaqua, New York. Rubin meciptakan Android dengan mengetahui kebutuhan komunikasi manusia masa kini. Termasuk para pelajar dan pemuda di Indonesia yang sudah mulai mencintai produk Rubin tersebut.

Hal tersebut memicu semangat agar dapat dinikmati secara mudah dan berkelas. Kini, diterbitkannya Aplikasi Website PC IPNU IPPNU Kudus berbasis Android sudah dapat di unduh secara gratis.

Ketua IPNU Cabang Kudus mengajak seluruh kalangan masyarakat agar memakai aplikasi tersebut. "Jadi silahkan bagi kaum pengguna Android untuk bisa mengunduh, agar Smartphone-nya dapat bermanfaat." Ajak Joni Prabowo, di Kantor PC NU Kab. Kudus, kemarin (2/9). (Ilma/admid)

Silahkan Unduh dan Instal Apilkasinya Disini :
https://drive.google.com/.../0By7xvKhLt8sJNm5Vcll.../view... 

Keputrian,PAC IPPNU Jati Buat Pembersih Alat Dapur Serbaguna

1:11 AM Add Comment


Ahad kemarin (30/08/2015) Departemen Keputrian IPPNU PAC Jati agendakan pelatihan kusus bagi kader kaum hawa yang dikemas dalam Pelatihan Keputrian.
Keputrian yang menjadi salah satu Program Unggulan dari PAC IPPNU Jati ini sangat inovatif dengan agenda “MEMBUAT PEMBERSIH ALAT DAPUR SERBAGUNA”, meski terlihat ringan tetapi dengan mengangkat Pembersih Alat Dapur Serbaguna ini dirasa akan sangat bermanfaat bagi para anggota dan masyarakat secara umum karena setiap hari menggunakannya, lebih praktis membuatnya dan harganyapun terjangkau semua lapisan masyarakat.

“Kegiatan ini tidak hanya sebagai pelatihan rutinitas setiap bulan, tetapi kami harap dapat difollow-up-i sehingga bisa membuat produk sendiri hasil dari pelatihan tersebut” terang Ketua IPPNU Kec. Jati Rekanita Nurul Arifah, yang juga Narasumber dalam acara tersebut.
Acara yang diikuti seluruh Pimpinan Ranting di Kec. Jati melalui delegasi 4 IPPNU per Ranting dan Pengurus IPPNU Kec. Jati ini bertempat di rumah Rekanita Afifah Jepangpakis.
“Dengan program Keputrian diharapkan kader-kader IPPNU menjadi lebih mandiri tidak hanya dari segi intelektualitas ilmu pengetahuan agama, tetapi juga dapat mengembangkan kretatifitas dalam bekal masa depan” tambah Nurul Arifah.(ws/jp)

Sejarah Awal Berdirinya IPPNU

4:32 PM Add Comment
LATAR BELAKANG SEJARAH KELAHIRAN IPPNU
Bermula dari perbincangan ringan yang dilakukan oleh beberapa remaja putri yang tengah menuntut ilmu di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta, tentang keputusan Muktamar NU ke 20 di Surakarta. Maka perlu adanya organisasi pelajar di kalangan nandliyat.
Dalam keputusan ini dikalangan NU, Muslimat, Fatayat NU, GP Ansor dan Banom NU lainnya untuk membentuk tim resolusi IPNU putri pada Kongres I IPNU di Malang Jawa Timur, selanjutnya disepakati dalam pertemuan tersebut bahwa peserta putri yang akan hadir di kongres Malang di namakan IPNU putri.
Dalam suasana kongres ternyata keberadaan IPNU putri tampaknya masih diperdebatkan secara alot. Semula direncanakan secara administratif hanya menjadi departemen di dalam tubuh organisasi IPNU. Sementara hasil negosiasi dengan pengurus PP IPNU telah membentuk semacam kesan eksklusivitas IPNU hanya untuk pelajar putra. Melihat hasil tersebut maka pada hari kedua kongres, peserta putri yang hanya diwakili lima daerah (Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lumajang dan Kediri) terus melakukan konsultasi dengan dua jajaran di pengurus badan otonom NU yang menangani pembinaan organisasi pelajar yaitu PB Ma’arif, (saat itu dipimpin bapak KH Syukri Ghazali) dan ketua PP Muslimat NU (Mahmudah Mawardi). Maka dari pembicaraan selama beberapa hari, telah membuat keputusan sbb:
Membentuk organisasi IPNU Putri secara organisatoris dan administratif terpisah dengan IPNU.
Tanggal 02 Maret 1955M / 08 Rajab 1374 H dideklarasikan sebagai hari kelahiran IPNU Putri.
Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan cabang selanjutnya ditetapkan sebagai ketua yaitu Umroh Mahfudhoh dan sekretarisnya bernama Syamsiyah Muthalib. PP IPNU Putri berkedudukan di Surakarta Jawa Tengah.
Memberitahukan dan memohon pengesahan resolusi pendirian IPNU putri kepada PB Ma’arif NU, kemudian PB Ma’arif NU menyetujui dengan merubah nama IPNU putri menjadi IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama)

PERJALANAN IPPNU DARI MASA KE MASA
Sejalan dengan adanya pelaksanaan Kongres dari beberapa zaman (kemerdekaan, orla, orba, era reformasi) tentu mengalami berbagai peristiwa yang sangat menonjol dalam suatu keputusan Kongres, dan dalam perjalanan IPNU dari masa ke masa antara lain :
Bulan Februari 1956 diadakan konferensi IPPNU di Surakarta.
Tanggal 01-04 Januari 1957 pada Muktamar IPNU di Pekalongan IPPNU ikut serta.
Acara itu diisi olahraga dan jugs menghasilkan lambang IPNU-IPPNU.
Tanggal 14-17 Maret 1960 diadakan Konbes I di Yogyakarta, membicarakan tentang keorganisasian, kemahasiswaan, pendidikan Islam serta. bahasa Arab.
Tahun 1964 dilaksanakan Konbes III bersama IPNU di Pekalongan, dengan menghasilkan, Doktrin Pekalongan serta mengusulkan agar KH. Hasyim Asyari sebagai pahlawan.
Tanggal 30 Agustus 1966 dalam Kongres di Surabaya IPNU dan IPPNU memohon pada PB NU untuk menerimanya sebagai badan otonom.
Tahun 1967 pada Muktamar NU di Bandung, resmilah IPPNU dimasukkan dalam PD/PRT NU sebagai badan otonom sampai sekarang.
Pada perkembangan berikutnya nampak pemerintah juga tidak ingin mengambil resiko membiarkan dunia akademik terkontaminasi dengan unsur politik manapun, sehingga diberlakukan UU No. 8 tahun 1985 tentang keormasan khusus untuk organisasi ekstra pelajar adalah OSIS. Selama itu IPPNU mengalami stagnasi pengkaderan dan PP didominasi para aktivis yang usianya sudah melebihi batas. Maka pada kongres IX IPPNU di Jombang tahun 1987, secara singkat telah mempersiapkan perubahan asas organisasi dan IPPNU yang kepanjangannya Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul ‘Ulama telah berubah menjadi Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama.
Bulan Oktober 1990 pada Konbes IPPNU di Lampung, menghasilkan citra diri dan pemantapan PPOA IPPNU.
Pada Kongres X IPPNU tahun 1991 di Ponpes Al Wahdah Lasem Jawa, telah menguatkan independensi IPNU dan IPPNU yang merupakan organisasi terpisah.
Tanggal 10-14 Juli 1996 di Pesantren Al Musyaddidah Garut Jawa Barat mengadakan Kongres XI IPPNU, yang menekankan usia kepemudaan di tubuh IPNU supaya sejajar dengan organisasi pemuda lainnya.
Konbes bulan September 1998 di Jakarta, menghasilkan rekomendasi yang sangat menonjol di era reformasi yaitu bahwa IPPNU menyambut baik pendirian PKB yang tidak menggunakan nama NU.
Tanggal 22-25 Maret 2000, pelaksanaan kongres XII IPPNU di Ujung Pandang (Makassar), telah mendeklarasikan bahwa IPPNU akan dikembalikan ke basis kepelajaran dan wacana gender.
Tanggal 18-23 Juni 2003 kongres XIII IPPNU di asrama haji Sukolilo Surabaya mengembalikan IPPNU kepada Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama. AQIDAH, AZAS, FUNGSI DAN TUJUAN IPPNU Aqidah IPPNU beraqidah Islam menurut faham Ahlusunnah Wal Jama’ah dan mengikuti salah satu madzhab yaitu : Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. (Peraturan Dasar IPPNU BAB II pasal 4)
Asas IPPNU berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hidmad Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Peraturan Dasar IPPNU BAB II pasal 5)
Fungsi Di antara fungsi IPPNU adalah :
1.      Wadah berhimpun pelajar putri Nahdlatul Ulama’ untuk melanjutkan nilai­-nilai dan cita-cita perjuangan NU.
2.    Wadah komunikasi, interaksi dan integrasi pelajar putri Nahdlatul Ulama untuk menggalang Ukhuwah Islamiyah dan mengembangkan syiar Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
3.   Wadah kaderisasi pelajar putri Nahdlatul Ulama untuk mempersiapkan kader-­kader bangsa.
Tujuan
Tujuan organisasi IPPNU adalah kesempurnaan kepribadian bagi pelajar putri Indonesia sehingga akan terbentuk pelajar putri Indonesia yang bertaqwa, berilmu, berakhlaqul mulia dan berwawasan berkebangsaan serta bertanggung jawab atas tegak dan terlaksananya syari’at Islam menurut faham Ahlusunnah wal Jama’ah. (Peraturan Dasar IPPNU BAB V pasal 9) LAMBANG ORGANISASI DAN ARTINYA
Bentuk segitiga : Imam, Islam dan Ikhsan..
a.       Warna dasar hijau : subur.
b.      Garis warna kuning : khikmah yang tinggi / kejayaan.
c.       Garis Putih : kesucian, kejernihan serta kebersihan.
d.      Dua garis tepi mengapit warna kuning : dua kalimat syahadat.
e.       Sembilan bintang : keluarga Nahdlatul ‘Ulama, yang diartikan,
Satu bintang besar paling atas : Nabi Muhammad SAW
Empat bintang sebelah kanan : empat sahabat Nabi (Abu Bakar as, Umar Ibn Khatab as, Usman Ibn Affan as dan Ali Ibn Abi Thalib as).
Empat bintang sebelah kiri : empat madzhab yang diikuti (Maliki, Hanafi, Syafi’I dan Hambali)
f.        Dua Kitab : Al Qur’an dan Al Hadits.
g.       Dua bulu bersilang : aktif menulis dan membaca untuk menambah wacana berfikir.
h.      Dua bunga melati : perempuan yang dengan kebersihan pikiran dan kesucian hatinya memadukan dua unsure ilmu pengetahuan umum dan agama.
Lima titik di antara tulisan I.P.P.N.U. : rukun Islam
HUBUNGAN IPPNU DENGAN ORMAS LAIN
Kaitan IPPNU dan NU, bahwa IPPNU secara organisatoris merupakan badan otonom NU yang resmi tercantum dalam Anggaran Rumah Tangga NU pasal 27 poin 6 bagian f, hasil muktamar NU Lirboyo Jawa Timur yang mana bahwa IPPNU mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan badan otonom yang lain.
Hubungan IPPNU dengan IPNU, bahwa IPNU merupakan mitra kerja IPPNU, sedangkan hubungan IPPNU dengan ormas lain, bahwa IPPNU dengan IPNU dengan ormas lain yang tergabung dalam satu wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda (KNPI).


Sejarah Awal Berdirinya IPNU

4:30 PM Add Comment


Masa Pra Kelahiran (1926-1954)
Maraknya Organisasi-organisasi Pelajar NU
Sejak berdirinya, Nahdlatul Ulama telah melahirkan neven-neven berdasarkan kelompok usia dengan faham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Muslimat NU, GP Ansor, dan Fatayat NU yang terbentuk kala itu ternyata masih menyisakan suatu celah lowongnya pengkaderan, khususnya bagi para remaja usia sekolah.(1) Pemikiran untuk menghimpun para pelajar yang berusia belia ini bukan tidak ada, alih-alih beberapa organisasi pelajar yang berfaham Aswaja pada waktu itu sudah marak sejak masa pra kemerdekaan. Pada tanggal 11 Oktober 1936, putra-putra warga NU di Surabaya mendirikan perkumpulan bernama ‘Tsamrotul Mustafidin’. Di kota yang sama pada tahun 1939 didirikan pula sebuah perkumpulan yang dinamakan ‘Persatoean Santri NO’ (PERSANO). Di kota Malang menyusul lahirnya sebuah perkumpulan bernama ‘Persatoean Anak Moerid NO’ (PAMNO) pada tahun 1941 dan ‘Ikatan Moerid NO’ tahun 1945.
Di luar pulau Jawa berdiri beberapa perkumpulan diantaranya ‘Ijtimauttolabah NO’ (ITNO) tahun 1946 di Sumbawa yang memiliki persatuan sepak bola dengan nama ‘Ikatan Sepak Bola Peladjar NO’ (ISPNO).(2) Selain itu di Pulau Madura pada tahun 1945 didirikan sebuah perkumpulan bernama ‘Syubbanul Muslimin’. Lahirnya perkumpulan-perkumpulan pelajar di atas pada masa revolusi kemerdekaan merupakan bukti bahwa semangat berorganisasi dan berjuang di kalangan generasi muda, khususnya yang berfaham Aswaja, senantiasa menyala-nyala.
Pada tanggal 22 Oktober 1945 rapat besar wakil-wakil daerah Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa/Madura mengeluarkan “Resolusi Jihad Fii Sabilillah” untuk mempertahankan dan menegakkan agama dan kedaulatan Republik Indonesia Merdeka. Situasi ini mendorong seluruh perkumpulan pelajar di kota-kota di atas untuk terjun langsung dalam kancah revolusi fisik menentang kembalinya penjajah Belanda. Hal ini merupakan sumbangsih para pelajar NU sekaligus bukti bahwa sejak mula generasi muda NU telah menunjukkan tebalnya semangat nasionalisme yang dilandasi kesadaran menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan negara RI yang diproklamasikan tahun 1945.
Selama kurang lebih lima tahun sejak berdirinya republik, seluruh kekuatan bangsa Indonesia sedang diarahkan pada upaya mempertahankan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selama kurun itu ribuan syuhada gugur di medan laga dengan meninggalkan semangat yang terwariskan ke generasi berikutnya. Perjuangan diplomasi di kancah internasional pun tak kurang dilakukan oleh para pemimpin RI kala itu. Setelah perjuangan panjang yang melelahkan, akhirnya Belanda secara resmi mengakui kedaulatan RI pada bulan Desember 1949. Upacara pengakuan kedaulatan berjalan paralel di Jakarta dan di Belanda. Kehidupan di tanah air kemudian mulai berjalan normal, orang kembali sibuk dengan kegiatan kesehariannya, beberapa perkumpulan mulai marak mengadakan kegiatan, demikian pula Nahdlatul Ulama dan neven-nevennya.
Pada awal dekade 50-an mulai muncul semangat baru di kalangan generasi muda NU untuk bergerak. Perkumpulan-perkumpulan berfaham Aswaja yang lahir sebelum itu dipandang terlalu bersifat lokal di samping efektivitas organisasinya melemah seiring dengan pudarnya gaung revolusi yang mendominasi kelahiran perkumpulan-perkumpulan tersebut sehingga dipandang perlu mendirikan perkumpulan baru yang lebih berorientasi pada pengkaderan pelajar dan bersifat nasional. Kesadaran ini memperoleh bentuk yang kongkrit di beberapa tempat dengan berdirinya organisasi seperti ‘Ikatan Siswa Muballighin NO’ (IKSIMNO) pada tahun 1952 di Semarang dan ‘Persatuan Peladjar NO’ (PERPENO) pada tahun 1953 di Kediri.(3)Disusul oleh kota Bangil beberapa bulan kemudian dengan berdirinya ‘Ikatan Peladjar Islam NO’ (IPINO). Sementara itu pada awal tahun 1954 di kota Medan, Sumatera Utara, didirikan pula IPNO singkatan dari ‘Ikatan Peladjar NO’, yang sudah mirip dengan nama organisasi IPNU (singkatan dari ‘Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’) yang lahir kurang lebih dua bulan kemudian.
Kelahiran IPNU
Realitas akan keberadaan perkumpulan yang demikian banyak tersebut menunjukkan betapa tinggi antusiasme berorganisasi di kalangan remaja NU. Namun, pada masa itu keberadaan mereka masing-masing tidak saling mengenal kendati memiliki beberapa titik kesamaan, khususnya pada nilai-nilai kepelajaran dan faham Aswaja. Titik-titik kesamaan ini memberikan inspirasi bagi para pelopor pendiri organisasi -yang nantinya bernama IPNU- untuk menyatukan seluruh perkumpulan tersebut ke dalam satu wadah resmi di bawah payung PB Nahdlatul Ulama. Gagasan ini disampaikan dalam Konperensi Besar LP Ma’arif NU pada bulan Februari 1954 di Semarang oleh pelajar-pelajar dari Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang, yaitu M. Sofyan Kholil, Mustahal, Ahmad Masyhud, dan Abdulgani Farida M. Uda. Atas usul para pelajar ini, pada tanggal 24 Februari 1954 bertepatan dengan 20 Jumadil Akhir 1373 H, konbes Ma’arif menyetujui berdirinya organisasi Ikatan Peladjar Nahdlatul Ulama (IPNU) dengan Ketua Pimpinan Pusat Mohammad Tolchah Mansoer yang saat itu tidak hadir dalam konperensi.
IPNU ketika didirikan adalah sebagai anak asuhan LP Ma’arif NU. Baru pada kongres yang keenam di Surabaya, IPNU -dan juga nantinya IPPNU- menjadi badan otonom di bawah PBNU. IPNU tampak semakin melangkah maju dengan diadakannya Konperensi Segi Lima yang terdiri dari utusan-utusan dari Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Jombang dan Kediri pada tanggal 29 April-1 Mei 1954 di Surakarta. Dalam konperensi tersebut diputuskan bahwa organisasi ini berasaskan Ahlussunnah wal Jama’ah, hanya beranggotakan putra saja yang berasal dari pesantren, madrasah, sekolah umum dan perguruan tinggi. Pendirian IPNU bertujuan untuk menegakkan dan menyiarkan agama Islam, meninggikan dan menyempurnakan pendidikan serta ajaran-ajaran Islam, dan menghimpun seluruh potensi pelajar Islam yang berfaham Ahlussunnah wal jama’ah, tidak hanya mereka yang berasal dari sekolah-sekolah NU saja.(4)
Untuk lebih memperkokoh eksistensinya, IPNU mengirimkan wakil dalam Muktamar NU ke-20 pada tanggal 9-14 September 1954 di Surabaya. Delegasi PP IPNU terdiri dari M. Sofyan Kholil, M. Najib Abdulwahab, Abdulgani Farida M. Uda, dan M. Asro yang dipimpin sendiri oleh ketua PP IPNU M. Tolchah Mansoer. Dalam sidang tanggal 14 September 1954, Tolchah mengemukakan urgensi organisasi IPNU yang kemudian mendapat pengakuan bulat oleh Muktamar NU sebagai organisasi pelajar dalam lingkungan NU dengan persyaratan bahwa anggota IPNU hanya putra saja, sedangkan untuk putri diadakan suatu organisasi secara sendiri.(5) Bahkan dalam sidang gabungan delegasi Muslimat-Fatayat dalam muktamar tersebut diputuskan bahwa harus ada organisasi serupa IPNU untuk menampung pelajar-pelajar putri di lingkungan NU ke dalam suatu wadah tersendiri.(6) Keputusan mengenai “suatu wadah tersendiri” inilah yang tampaknya nanti akan mewarnai berdirinya organisasi yang kelak bernama IPPNU.
Muktamar Surabaya ini adalah muktamar pertama semenjak NU menjadi partai politik, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh perhatian muktamirin dicurahkan pada persoalan politik untuk menghadapi pemilu 1955 yang akan berlangsung pada 29 September 1955 untuk anggota DPR dan 15 Desember untuk anggota Konstituante. Gagasan penggalangan potensi pelajar di lingkungan NU tampaknya memberikan tenaga tambahan sebagai upaya konsolidasi seluruh potensi NU menghadapi momentum pemilu. Tidak heran jika pada akhirnya muktamirin menerima secara bulat dibentuknya organisasi pelajar di lingkungan NU. Terlebih Masyumi yang dianggap sebagai rival utama NU, sudah memiliki organisasi pelajar yang tertata rapi yaitu Pelajar Islam Indonesia (PII).
Beberapa bulan kemudian, yakni pada tanggal 28 Februari-5 Maret 1955, IPNU mengadakan muktamar yang pertama di kota Malang, Jawa Timur. Dalam kurun waktu setahun sejak berdirinya -menjelang muktamar yang pertama tersebut- IPNU berhasil meluas hingga ke propinsi-propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur dan DKI Jakarta.(7) Muktamar ini diikuti oleh lebih dari tiga puluh cabang dan beberapa undangan dari pesantren. Gegap gempitanya muktamar ini semakin meriah dengan kehadiran Presiden Soekarno bersama Wakil PM Zainul Arifin dan Menteri Agama K.H. Masykur yang berkenan memberi wejangan kepada muktamirin serta warga Malang yang saat pembukaan muktamar tumpah ruah di halaman pendopo kabupaten Malang. Hadir pula Rois ‘Aam NU K.H. Abdulwahab Chasbullah, Ketua Umum Partai NU K.H. Dachlan dan Ketua Umum PB Ma’arif NU K.H. Syukri Ghozali. Maraknya pemberitaan media massa tentang Muktamar I IPNU di tengah suasana menjelang pemilu pertama sejak Indonesia merdeka dan dikonsolidasikannya segenap kekuatan NU yang sejak tahun 1952 berubah menjadi partai politik tersendiri setelah terpisah dari Masyumi, tak pelak lagi membawa nuansa politik yang teramat kental di arena kongres. Terlebih lagi kongres tersebut dibuka secara langsung oleh Presiden Soekarno yang memang sedang menggalang dukungan di tingkat grass root yang mulai pudar karena rakyat disibukkan dengan konsolidasi partai-partai politik menjelang pemilu 1955.
Delegasi dari cikal bakal IPPNU sebenarnya ikut hadir dalam pembukaan muktamar, namun kontribusi mereka terhadap perhelatan nasional organisasi pelajar NU tampak masih belum terlalu menyolok. Dalam uraian selanjutnya akan dibahas awal kelahiran IPPNU dan bagaimana perjalanan para pelajar putri NU sampai mereka hadir di ajang muktamar IPNU di atas.
=============
Catatan-catatan:
1)    Gerakan Pemuda Ansor didirikan pada tanggal 24 April 1934 di Banyuwangi Jawa Timur. Dibesarkan dalam tradisi kepanduan, Ansor banyak berperan dalam pembentukan barisan Hizbullah semasa perang kemerdekaan. Tokoh-tokoh pendiri Ansor diantaranya K.H. Thohir Bakri, K.H. Machfudz Sidiq, K.H.A Wahid Hasyim dan K.H. Abdullah Ubaid (lihat “Direktori Organisasi Pemuda Indonesia”, Jakarta: Kantor Menpora, 1997).
2)    Keterangan ini dikutip dari “Sedjarah Perdjuangan IPNU dari Masa ke Masa” (Jakarta: Yayasan Lima empat, 1966) h. 7. Selanjutnya dikutip “Sedjarah Perdjuangan IPNU”. Namun organisasi yang memiliki nama yang hampir serupa yaitu ‘Ijtimaut Tholabiyah’ didirikan di Madura pada tahun 1945 menurut buku “IPNU-IPPNU Jawa Timur dari Masa ke Masa” (Surabaya: PW IPNU-IPPNU Jawa Timur, 1982) h. 4. Selanjutnya dikutip “IPNU-IPPNU Jawa Timur”.
3)   “Sedjarah Perdjuangan IPNU” h. 8. Dalam “IPNU-IPPNU Jawa Timur” disebutkan lahirnya Ikatan Muballigh NU di Semarang pada tahun 1950.
4)      “Sedjarah Perdjuangan IPNU” h. 8.
5)      Ibid h. 9.
6)      Fatayat NU didirikan di Surabaya pada tanggal 24 April 1950 dengan prakarsa Nihayah Bakri, Aminah Mansur, dan Chuzaimah Mansur.
7)      Sambutan ketua umum PP IPNU pada Buku Panduan Muktamar I IPNU 28 Februari-5 Maret 1955 di Malang.


SEJARAH BERDIRINYA NU

4:06 PM Add Comment


Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
 
Sementara itu, keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana--setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawabannya,  muncullah berbagai organisai pendidikan dan pembebasan.
 
Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi'dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.
 
Sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
 
Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebsan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.
 
Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.
 
Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagi Rais Akbar.
 
Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU , yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Tatkala Menganggap Diri Lebih Baik dan Benar

3:59 PM Add Comment

Ibrahim bin Adham suatu ketika sedang berjalan di tepi pantai. Tanpa sengaja, matanya melirik sepasang manusia berduaan dengan begitu mesranya. Terlintas di benak sufi ini bahwa sepasang kekasih itu sedang dimabuk cinta. Bukan hanya mabuk cinta, ternyata mereka juga sedang mabuk dalam arti yang sesungguhnya. Terlihat di sekeliling mereka beberapa botol minuman berseliweran, terdapat bekas botol yang baru saja selesai dikosongkan isinya. Beberapa saat, Ibrahim bin Adham terkesima dengan pemandangan yang dia lihat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia berpikir betapa musykilnya sepasang manusia ini, bermaksiat sedemikian mudahnya, seakan tak ada dosanya.


Tiba-tiba dalam jarak beberapa meter di depan mereka, gelombang laut mengganas menerjang pinggiran pantai. Menghanyutkan sesiapa yang berdekatan, tak pandang bulu. Beberapa orang berusaha berdiri, berenang, dan berlari menjauh ke arah daratan. Sebagian mereka bisa melepaskan diri dari terjangan ombak. Namun nahas, lima lelaki tak kuasa diseret gelombang. Seketika, lelaki mabuk yang sedang bermesraan di pinggir pantai itu berlarian menuju ke arah lima orang yang hanyut. Ia berusaha menarik satu-persatu lelaki yang hampir terbawa arus. Ibrahim bin Adham yang melihat kejadian itu hanya bisa tercengang, berdiri mematung di tempatnya. Antara tercengang dengan kejadian yang terjadi begitu cepat di depan matanya dan juga tidak bisa berenang.



Sementara si lelaki ini begitu cekatan berlari dan berenang. Tak membutuhkan waktu lama, si pemuda mabuk tadi berhasil menyelamatkan empat orang. Kemudian ia kembali. Namun bukannya kembali ke perempuan yang tadi sempat ditinggalkan sejenak, lelaki ini justru menuju ke arah Ibrahim bin Adham. Belum terjawab kebingungan Ibrahim bin Adham, tiba-tiba saja, ia mengucapkan beberapa kalimat, padahal Ibrahim bin Adham tidak bertanya sepatah katapun.



“Tadi itu aku hanya bisa menyelamatkan empat nyawa, sementara kau seharusnya menyelamatkan sisa satu nyawa yang tidak bisa aku selamatkan.”



Belum selesai kebingungan Ibrahim bin Adham, lelaki ini melanjutkan, “Perempuan yang di sebelahku itu adalah ibuku. Dan minuman yang kami minum hanyalah air biasa.” Ia memberikan alasan. Seolah ia mampu membaca semua apa yang dipikirkan oleh Ibrahim bin Adham.



Kejadian sederhana itu mampu menyadarkan sang ulama terkenal, Ibrahim bin Adham. Seketika itu hati beliau dipenuhi sesal dan taubat. Lelaki yang sempat dianggap ahli maksiat ternyata jauh lebih baik dibandingkan beliau yang terkenal ahli ibadah. Kejadian itu begitu membekas dalam hidup Ibrahim bin Adham hingga wafatnya. Jika seorang Ibrahim sang Sufi saja bisa terjebak dalam perangkap itu, bagaimana dengan kita manusia akhir zaman?



Betapa seringnya kita berada di posisi menjustifikasi manusia. Atas sedikit fakta yang kita tahu tentang cuplikan kehidupannya, kita menuduhnya dengan stigma yang sangat tak pantas. Tatkala seorang teman yang tak menyapa ketika berpapasan dengannya sekali waktu, seketika kita beropini bahwa ia sombong. Padahal di balik itu, ia sedang dirundung masalah besar, bersedih, atau juga tak melihat kita. Di saat seorang teman tak memberi kita pinjaman uang, seketika kita menduga bahwa ia pelit. Padahal di balik itu ia sedang berusaha mendapatkan banyak uang untuk kebutuhan ibunya atau untuk membayar utang-utangnya. Di saat seorang karib tak memenuhi undangan kita, terlintas di benak jika ia seorang yang tak menghargai. Padahal di balik itu, dia mendapatkan sebuah tanggungan yang harus segera diselesaikan hari itu juga sementara ia sungkan untuk memohon izin dikarenakan penghormatannya.



Penyebab retaknya ukhwah dengan sesama salah satunya disebabkan urusan salah persepsi. Lalu melahirkan saling mencurigai dan saling bersu’udzon. Tak sengaja ketika kita menganggap seseorang berdasarkan persepsi kita maka yang terjadi adalah rasa kekecewaan terhadap semua orang. Sementara tanpa disadari hal ini juga membangkitkan rasa ego sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang superior, tanpa cela, dan antikritik. Sampai akhirnya menganggap diri sendiri adalah segalanya. Sang manusia sempurna dan pemilik kebenaran seorang diri, atau kelompoknya semata. Betapa berbahayanya.



Jauh-jauh hari Nabi SAW mengingatkan, "Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]. Pesan Nabi tidak sekadar nasihat biasa. Beliau mewanti-wanti supaya umatnya selalu menjaga diri. Betapa gelisahnya Nabi jika mengetahui ada diantara umatnya yang saling merendahkan sesama.



Berburuk sangka termasuk laku yang salah, pemantik dosa. Ketika seseorang berburuk sangka dan sangkaannya itu benar, maka sama sekali ia tak akan mendapat pahala apapun. Sementara jika ia berburuk sangka dan sangkaannya itu salah, maka pasti atasnya perbuatan dosa. Betapa tak bermanfaatnya berburuk sangka, menstigmaisasi, dan menghakimi seseorang dari apa yang sedikit pengetahuan kita tentang dia.



Bertemu dengan semua orang seharusnya menjadi cermin untuk diri kita untuk lebih baik lagi. Hal ini diawali dengan rasa saling percaya dan berbaik sangka. Ketika bertemu anak kecil, pikirkan bahwa bisa jadi ia jauh lebih baik dari kita, karena di umurnya yang sedikit, ia masih sedikit dosa dan salah. Ketika bertemu dengan orang tua, pikirkan bahwa ia jauh lebih baik dari kita, karena umurnya yang sudah sepuh, berarti ibadahnya pun jauh lebih banyak dibanding kita. Bertemu orang gila sekalipun ada kesempatan bagi kita berpikir positif, bisa jadi ia lebih baik dan lebih dulu masuk surga dibanding kita. Sebab, orang gila itu tidak dibebani syariat oleh Tuhan yang Maha Adil, sehingga ia tanpa cela. Terlebih ketika bertemu dengan manusia yang cacat fisiknya. Orang buta, tuli, bisu, bisa jadi mereka jauh lebih baik dari kita. Mereka tak pernah menggunakan inderanya untuk meliha, mendengar, dan mengucap dosa. Bukankah mereka lebih selamat di dunia dan akhirat? Lalu masihkah ada kesempatan kita merasa jauh lebih baik, lalu terbersit angkuh dan sombong, dan kemudian merendahkan manusia lainnya, bahkan kemudian menganggap bahwa pemilik kebenaran sempurna adalah sosok diri sendiri seorang? Wajarkah?



Wallahu a’lam bishawab.




Muhammad Ridha Basri, Santri-mahasiswa Lingkar Studi al-Quran (LSQ) Ar-Rahmah, Yogyakarta.

sember : NU Online

Sumber Berita Terpercaya

3:37 PM Add Comment


Beragam pemberitaan ditulis media massa dari hasil pelaksanaan Muktamar Ke-33 NU di Jombang, belum lama ini. Tentu saja, yang namanya berita, ditulis dari berbagai sudut, negatif maupun positif.

Namun, setelah membaca headline dan artikel pada salah satu surat kabar, hati Joko tidak tenang. Ia kemudian menemui Udin, yang kebetulan sedang ada di angkringan.

Joko : Kang, ini bagaimana kok di koran ini ditulis NU Pecah, lha koran satunya nulis NU Tetap Satu. Aku bingung, kang. yang benar yang mana to?

Udin : Lha, kamu itu kebanyakan baca koran kok malah jadi bingung. Daripada bingung ini dimakan dulu pisang gorengnya, mumpung masih hangat,”

Joko : Aku sudah tidak tahu lagi, kang! Mana berita yang menceritakan fakta secara benar. Hampir semua berita sudah penuh rekayasa atas dasar kepentingan nafsu.

Aku sudah tidak tahu lagi mana berita yang dapat dijadikan rujukan.

Udin : Betul, Jok! Apa yang kamu katakan itu ada benarnya. Tapi, di negara kita ini, ada lho sumber berita yang tetap terpercaya dan tanpa rekayasa. Serius aku!

Joko : Apa itu kang? Siapa tahu bisa aku jadikan sumber rujukan

Udin : Ya, itu corong speaker (toa) masjid,”

Joko : hehe benar juga kang, kalau berita lelayu (kematian) atau jadwal Posyandu saja sudah tidak lagi valid, kacau sekali negeri ini! (Ajie Najmuddin)

sumber : NU online