PP IPNU bersama KOMPAS Lestarikan Budaya Literasi

4:40 PM
Rekan Abdullah Muhdi selaku Wakil Sekretaris PP IPNU memberikan arahn untuk peserta Diklat Jurnalistik PP IPNU bersama Kompas
Tegal, arti dari literasi adalah budaya tulis menulis, namun kesadaran akan pentingnya budaya literasi pada pelajar sangat minim, oleh karena itu Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) bekerjasama dengan Kompasmengadakan Diklat Jurnalistik pelajar dan santri 5/09. Bertempat di Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah, Babakan,Tegal. Acara tersebut diikuti oleh pelajar se-Jawa Tengah yang lolos di seleksi sebelumya.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh M. Bachir selaku perwakilan KOMPAS, K.H Achmad Nasichun Isa Mufti selaku pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah dan segenap PP IPNU. Jefri selaku ketua panitia menuturkan “Diklat Junalistik pelajar dan santri dimulai dari hari Selasa (5/9) dan dijadwalkan selesai pada Kamis (7/9). Diklat Jurnalistik Pelajar dan Santri sebelumnya sudah terlaksana di Jakarta beberapa bulan yang lalu tempatnya di pondok pesantren Darul Ukhwah jakarta. Output Diklat jurnalistik pelajar dan santri angkatan pertama yang ada di Jakarta hampir sebagian besar masih menulis. Begitupun acara ini yang nantinya diklat jurnalistik pelajar dan santri angkatan kedua ini diharapkan aktif menulis di berbagai media khususnya di PP IPNU. Acara ini dikuti 40 peserta dari berbagai tempat di Jawa Tengah. Harapannya acara Diklat Jurnalistik pelajar dan Santri pada akhir tahun bisa selesai pada wilayah Jawa.”

PP IPNU juga bekerjasama dengan salah satu media terbesar di Indonesia dan terkenal menghasilkan konten – konten berkualitas dengan tata bahasa yang baik, yakni KOMPAS. Pemateri semua berasal dari KOMPAS pusat langsung untuk membagikan ilmu mereka kepada para peserta. Karena Kompas peduli dengan masa depan Indoensia yang sekarang tidak mau menulis, maka kompas ingin mengajak pelajar yang ada di Indonesia khususnya Jawa tengah tetap menulis untuk melestarikan budaya literasi.

“Gambaran Indonesia pada sekarang yang sering percaya dengan berita hoaks atau fitnah yang sekarang dibuat oleh ustaz yang baru belajar Islam. Gambaran tersebut membuat kami prihatin jika ini diterus-teruskan maka bagaimana gambaran indonesia 40 atau 50 tahun kedepan. Yang menjadi Presiden, Gubernur dan yang lainnya adalah usia pelajar.” Imbuh M Bachir selaku pimpinan redaktur Kompas

“Santri juga harus berperan aktif dalam dunia literasi, karena santri akan memerangi ustaz yang baru belajar islam dnegan mengunakan kitab-kitab yang telah dipelajari di pondok pesantren. Karena banyak orang yang baru belajar islam kemudian sudah dipanggil ustaz dan dia menyesatkan yang lain. Inilah kekhawatiran kami untuk mau mengadakan dikalat jurnalistik bersama IPNU agar santri bisa membuka kitabnya kembali untuk memerangi ustaz yang seperti itu.” Ujar Bachir

Pelatihan ini merupakan ajang latihan tulis menulis dikalangan pelajar harapannya generasi Y bisa mengerti akan pentingnya budaya literasi yang ada disekelilingkita (MA).

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »