Kader Kudus Ikuti Diklat Jurnalistik PP IPNU bersama Kompas.

2:14 PM

Tegal – Pendidikan dan Latihan(diklat) Jurnalistik merupakan kegiatan pengalian bakat dalam bidang tulis menulis. IPNU adalah sebuah organisasi penanaman ideologi bagi Nahdlatul Ulama, sepatutnya IPNU harus mulai belajar agama, Ideologi dan belajar perkembangan zaman yang ada. Tak terkecuali belajar tulis menulis untuk menjadi jurnalis atau sering di sebut diklat jurnalistik; keprihatinan IPNU terhadap pelajar yang kurang menguasai dunia tulis menulis maka kami IPNUmenyelengarakan Diklat Jurnalistik yang kami adakan bersama KOMPAS.

Diklat Jurnalistik yand diadakan oleh Pimpinan Pusat (PP) IPNU digelar selama 3 hari ini dimulai hari selasa tanggal 5 - 7 September 2017 bertempat di Pondok Pesantren Ma'hadut Tholabah, Babakan, Lebaksiu, Tegal, Jawa Tengah. Peserta diikuti sebanyak 40 orang yang terdiri dari perwakilan Pimpinan Cabang (PC) dan pondok pesantren yang berada di Jawa Tengah. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut untuk mencetak 1000 jurnalis IPNU IPPNU di seluruh Indonesia, Selasa (5/9).

Kegiatan tersebut dihadiri pengurus dan panitia PP. IPNU, pemateri dari Kompas, Pengasuh Pondok Pesantren Putra Putri Ma'hadut Tholabah, dan peserta Diklat Jurnalistik Pelajar dan Santri 2017.

"Alhamdulillah kami selaku PC IPNU Kudus bisa mengirimkan peserta untuk mengikuti diklat jurnalistik yang diselengarakan oleh PP IPNU. diantaranya adalah yaitu rekan Zamris Anwar dan rekan Mustofa Zaenur Rohman yang telah lolos seleksi Diklat Jurnalistik Pelajar dan Santri 2017 oleh PP. IPNU dan Kompas di Tegal," ucap M. Wahyu Saputro ketua PC IPNU Kudus.

Rekan Wahyu, menambahkan. "Harapan besar kepada mereka berdua untuk membagikan ilmunya kepada kader IPNU IPPNU Kudus. Disisi lain Kompas mempunyai penilaian A di Indonesia."

"Kompas sebagai sandaran media lain turut berprihatin terhadap keadaan sekarang. Karena, sekarang media dikuasai orang yang baru mengenal agama islam dan lalu mengadu islam dalam media sekarang. Banyak berita yang menghujat dan mengadu domba pihak satu sama lain. Menyebar berita kebencian, radikalisme, terror, dan hoaks. Kita sebagai pelajar NU jangan mudah terpercaya dengan isu-isu yang berkembang sekarang. Kita harus tabayyun terlebih dahulu kepada kyai, guru, pemimpin kita agar tidak salah menilai berita tersebut. Mari kita ramaikan media sosial kita dengan hal-hal ilmu pesantren," tutur Muhammad Bakhir pimpinan redaktur Kompas.

Muhammad Bachir juga menambahkan bahwa bagi pelajar hasil pelatihan ini selesai, apabila ada yang ingin jadi wartawan Kompas kita terima, tapi harus mengikuti pendidikan dulu. Kita didik 1 tahun penuh baru bisa terjun lapangan.
"Diharapkan lewat pelatihan ini, peserta dari Kudus bisa mewarnai web PC IPNU IPPNU Kudus," tutur Abu Hasan Al-Asy'ari wakil ketua bidang OSB PC IPNU Kudus. (zam/ma)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »