Menangkal Hoaks dengan Ngaji Jurnalis

6:51 PM

Maraknya informasi dan berita yang bohong atau hoaks dikalangan pelajar begitu miris dan mengkhawatirkan. Sudah menjadi bumbu kehidupan yang terus tersaji di depan masyarakat. Seolah-olah berita hoaks menjadi teman yang harus ada. Kegelisahan inilah yang membuat salah satu badan otonom organisasi Nahdlatul Ulama (NU), IPNU-IPPNU untuk membuat kajian tentang menankal berita hoaks.

Dalam kesempatan yang ada, Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Jati mengadakan diskusi yang dikemas dalam bentuk kejurnalisan. Ngaji jurnalis, menjadi nama diskusi yang diadakan pada Sabtu, 26 Agustus 2017 di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Baitul Mukminin, Getaspejaten, Jati, Kudus.

Narasumber yang didatangkan dalam acara tersebut pun sudah paham mengenai dunia jurnalis. Mulai dari Abdul Rokhim (30) sebagai wartawan Jawa Pos Radar Kudus, Mustofa Zaenur Rohman (21) sebagai pengurus di Lembaga Jaringan Komunikasi dan Informasi (Jarkominfo) di Pimpinan Cabang IPNU Kudus.

Dimoderatori langsung oleh Yaumis Salam sebagai Koordinator kegiatan Ngaji Jurnalis acara tersebut dibuka. Dihadiri oleh43 peserta dari delegasi pelajar yang diambil dari pimpinan ranting dan pimpinan komisariat se-Kecamatan Jati. Ngaji Jurnalis menjadi momentum penting bagi pelajar. Dengan mungusung tema “Menangkal Hoaks Mendidik Generasi Kita”.

Mustofa mengungkapkan, pelajar menjadi sasaran empuk dalam dunia internet. Banyaknya pelajar yang memiliki smartphone, sebagai salah satu penyebab terjerumusnya pelajar untuk membaca informasi atau berita hoaks yang beredar.
“Pelajar di Kudus begitu banyak, namun yang paham mengenai media khususnya berita begitu sedikit,” tuturnya. Melalui Ngaji Jurnalis ini, lanjutnya, kita akan lebih paham dan mengetahui secara benar cara-cara untuk menangkal berita hoaks.

Sudah sepatutnya sebagai pengurus lembaga Jarkominfo untuk memberikan arahan dan pengalaman yang baik dalam menghadapi hoaks. “Dengan belajar jurnalis yang benar, sering menulis dan membuat berita kegiatan di ranting atau sebagainya yang mampu memberikan informasi benar dan mempengaruhi pelajar lainnya untuk membaca,” ungkapnya.

Dari sudut pandang wartawan, menutur Abdul Rokhim, perbandingan pelajar yang mengakses internet untuk membuka informasi dan tugas belajar begitu mengkhawatirkan. “Lebih banyak pelajar yang membuka konten yang berisi informasi atau berita, dibandingkan dengan pelajar yang membuka internet untuk tugas belajar,” tuturnya.

Melalui perbandingan tersebut, ungkapnya, dapat dilihat pengaruh informasi yang ada telah menjadi bahan bacaan setiap harinya. Ketika yang dibaca itu berita hoaks dan informasi yang kurang bertanggung jawab penulisnya, maka akan merusak generasi kita.

“Banyak hal yang kita lakukan untuk menangkal berita hoaks. Belajarlah menjadi pembaca yang baik, ketika itu sudah jelas berita hoaks maka jangan dibagikan kepada orang lain. Hindari membaca website atau konten yang sudah pernah memberikan informasi hoaks,” terang Rokhim yang juga alumni Pimpinan Redaksi Majalah Expresi PAC IPNU-IPPNU Jati tahun 2009.

Mulai saat inilah tugas besar pelajar untuk belajar jurnalis. Menjadi tanggung jawab bersama ketika harus berperang atau jihad melawan hoaks. Jangan sampai kader-kader pelajar saat ini menjadi korban keburukan hoaks yang hanya merusak generasi. Melawan hoaks adalah harga mati!. (Yaumis Salam)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »