Bijak Bermedia Dengan Cara Tabayyun

4:34 PM
Media. Satu kata ini manjadi sorotan penting bagi seluruh masyarakat Indonesia saat ini. Khususnya bagi pelajar yang sedang semangat-semangatnya untuk menggunakan kemudahan media. Ibarat makanan siap saji, media sebagai asupan setiap hari yang terus dikonsumsi.
Menarik ketika mencoba untuk mengulas lebih dalam mengenai media di era modern seperti ini. Disatu sisi lain menjadi bahaya, namun sisi lain menjadi sebuh realita yang terus digemari. Adanya regulasi bagi pelajar sekarang sangat dibutuhkan. Mengingat semua media sudah menjadi alat ganas untuk memangsa pelajar kapan pun waktunnya.
Alih-alih mengikuti peradaban media yang maju, pelajar malah dininabobokan dengan kecanggihan-kecanggihan yang ada. Surve yang dilakukan oleh UNICEF Indonesia, mengenai keaktifan dalam penggunaan internet sangatlah besar. Sebagian besar responden (80 %) menggunakan internet untuk mencari data dan informasi, khususnya untuk tugas-tugas sekolah, atau untuk bertemu teman online (70 %) melalui platform media sosial. Kelompok besar lain mengklik melalui musik (65 %) atau video (39 %) situs.
Sebagian besar anak-anak dan remaja di Indonesia sekarang sudah mengakses internet secara teratur untuk mencari informasi studi mereka, untuk bertemu dengan teman-teman dan menghibur diri mereka sendiri. Namun, banyak yang tidak menyadari potensi resiko yang ada ketika berbagi data pribadi dan bertemu orang asing secara online. (Baca: unicef.org, 18 Februari 2014)
Melalui data di atas, menjadi koreksi kita bersama. Khususnya bagi IPNU-IPPNU yang terus dibekali dengan keteladanan dalam berilmu. Sudah tentu ketika bermedia sekarang harus bijak untuk memanfaatkannya. Sebagai generasi Y, kita juga harus berproses untuk mampu memilah dan memilih mana media yang baik dan buruk.
Pelajar ini mudah senang ketika bahan atau isian dalam tugas sekolah sudah ada di internet. Akan menjadi semangat untuk terus mengambil jawaban melalui medi yang kurang tahu pertanggungjawabannya. Mengingat media sekarang sudah menjadi alat propaganda untuk berdakwah hingga pencucian otak.
Tentu itu sangat tidak diinginkan untuk pelajar-pelajar NU kita, khususnya yang tipis akan ilmu agamanya. Contoh saja ketika mencari makna Islam di internet, pasti berbagai media mencoba untuk membantu menafsirkan apa itu Islam melalui kajian mereka itu sendiri. Ini akan menjadi permasalahan bagi pelajar. Media dari tetangga-tetangga NU sangatlah banyak. Bahkan mereka memiliki ribuan media yang siap untuk membantu meringankan tugas pelajar NU.

Walaupun sekarang mudah mengakses melalui internet, namun jangan sampai kita melupakan tradisi berilmu dalam agama Islam khususnya di NU. Bawasanya ketika kita mendapatkan ilmu atau informasi dari media, tentu kita wajib bertanya kepada orang yang tepat. Istilahnya tabayyun untuk mencari kebenaran yang sebenar-benarnya.
Tabayyun menjadi alternative bagi peljar yang menemukan keganjalan ketika mendapatkan info atau ilmu baru dari media Islam lainnya. Dengan berkunjung silaturohim ke ruamah guru agama kita, ke rumah ulama terdekat kita, dan  kepada orang yang tepat.

Sejak dulu di NU sudah kental dengan tradisi tabayyun, sehingga NU bias bertahan sampai saat ii karena memiliki tradisi unik yang terus eksis sampai sekarang. Ketika IPNU-IPPNU kita sudah mentradisikan tabayuun ketika senang bergelut dengan media, namun harus dibiasakan juga untuk bertanya dengan yang lain juga. Generasi NU harus paham dan tidak gagap media, ini agar mampu menjadi generasi tepat bagi zaman yang akan datang.

Penulis adalah Yaumis Salam Lembaga Pers Jarkominfo PC IPNU IPPNU Kudus

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »