Akhlak Sebagai Benteng Pertahanan Terakhir (KH. M. Ulil Albab Arwani)

10:22 PM
K.H. Ulil Albab Arwani 
Untuk Para pelajar putra dan putri Nahdlatul Ulama, saya tekankan untuk sungguh-sungguh di fokuskan supaya belajar. Membekali diri  dengan bekal ilmu yang bermanfaat, utamanya mengenai ilmu agama. Utamanya mempelajari dan memahami lagi ilmu agama  yang bersangkutan dengan ibadah yang dilaksanakan setiap hari dan setiap waktu, supaya ibadahya di terima Allah SWT.

"Kiat-kiat belajar supaya berhasil dalam mencari ilmu" ya sebagai mana syarat mencari ilmu yg di terangkan para ulama yaitu ada 6 :
1.       Dzakain yang pertama kita harus menggunakan akal pikiran, kalau akal kita sehat, cerdas maka kita gunakan sebaik-baiknya. Kita boleh mengikuti pikiran kita karena pikiran ini bisa menentukan cita-cita kita, maka kita harus siap menentukan cita-cita kita setinggi-tingginya. "Uluwul himmah minal iman" yg artinya cita-cita tinggi sebagian dari iman.
2.       Wahirsin (rasa cinta), semangat mempelajari ilmu. Supaya semangat, ini harus ada cita-cita, cita-cita tinggi dan semangat belajar. Bagi permulaan harus kita memaksakan diri untuk semangat belajar.
3.       Wasthibharin  (sabar), artinya harus bisa menahan diri. Sebagai pelajar harus bisa membagi waktu belajar ya untuk belajar, waktu istirahat ya untuk istirahat, waktu bermain ya untuk bermain.
4.       Wabulghotin (harus ada biaya), ya mungkin biaya bisa di tanggung dengan yang lainnya, supaya berhasil dengan baik, harus ada biaya untuk peralatan, untuk persyaratan-persyaratan mencari ilmu, bisa mendapat beasiswa atau yang lainnya.
5.       Wairsyadi ustadzin (harus ada gurunya), artinya kalau kita tidak punya guru kadang-kadang tidak benar, maka harus ada guru yang bisa kita ikuti yang bisa mununjukkan kepada kebenaran. Kalau tidak ada guru kita belajar sendiri kemudian sesuatu yg kita pelajari ini sesuatu yg masih campur tidak tau jelek baiknya/sesat dan tidaknya ini bisa menyesatkan, maka harus ada petunjuk guru. Supaya kita tdk sesat dan semangat dan juga sesuatu yang sukar bisa terpecahkan.
6.       Wathuli zamani,  jadi mencari ilmu tidak bisa cepat atau abragadabra langsung jadi pandai, harus ada waktunya. Kalau ilmunya ingin banyak ya waktunya harus banyak,
Secara persyaratan mencari ilmu paling tidak adalah 6 itu di utamakan.

Setelah belajar, kita harus waspada, karena akhir-akhir ini banyak rintangan dan godaan. Pelajar NU supaya bisa menahan diri dan jangan terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Sekarang ini,selain hal positif banyak pula hal yang negatif yang didapatkan dari internet. Di sinilah, pelajar wajib melakukan filterisasi, mana yang baik dan buruk. Hal yang baik kita laksanakan, yang buruk harus kita tinggalkan.

Hal yang paling penting bagi kita adalah mengenai akhlakul karimah. Sebagai seorang muslim, kita harus berakhlak baik terhadap siapa saja. Ada maqolah mengatakan "syarofol insan bil 'ilmi wal adab", artinya kemuliaan manusia itu dengan ilmu dan adab. Adab yang dimaksud adalah akhlakul karimah. Karena ilmu kalau sudah kita pelajari, maka  harus di sertakan dengan akhlakul karimah. Orang berilmu tinggi tapi akhlaknya rendah juga tidak akan mulya. Jika kita berahlakul karimah kepada siapa saja insyaallah menjadi orang yang mulya dan di mulyakan oleh Allah.
"Di zaman akhir-akhir ini sikap siswa harus bagaimana?" ya memang seharusnya bisa hati-hati. Setiap membuka internet, banyak kita jumpai iklan yang menjurus pada hal negatif. Maka dari itu,  siswa harus membekali diri dengan ilmu agama. Di samping itu, juga harus pandai memilih teman yang baik, karena teman yang jelek juga dapat mempengaruhi. Kalau teman yang baik nanti temanya yang jelek akan di nasehati teman yang baik, jadi pelajar harus bisa menahan diri terhadap teman yang sikapnya kurang baik "ucap Gus Bab".

"Setelah lulus sikap siswa itu harus bagaimana" yaa setelah lulus kalau di masyarakat harus waspada, banyak aqidah/golongan yang berbeda dari kita, maka harus hati-hati. Itu memang harus minta petunjuk kepada para  masyayikh, para kyai yang memang betul-betul tahu masalahnya. Jadi kalau kita akan masuk atau mengikuti organisasi/golongan/kelompok/tempat kerja, maka sebelum masuk kita harus meminta petunjuk guru. Seandainya ada tuntutan kerja/golongan yg mengharuskan mengikutinya, maka kita harus dilihat situasi dan kondisinya, tapi yang terpenting aqidah di dalam kita tidak berubah. Kalau bisa dhohir batin kita memilih aswaja, kalau terpaksa yaa di lihat situasinya "tegas Gus Bab". (Zamris Anwar/Septi)


                                                                                                                                          


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »