Pendidikan : Wajah Semu Indonesia

7:58 AM
Sejauh mana kita dapat mengukur suksesi pendidikan belumlah seperti apa yang kita harapkan. Semua orang hanya dapat mencemooh keadaan pendidikan, padahal merekalah salah satu pelaku pendidikan. Guru mengajar di kelas. Bapak Ibu membimbing dirumah. Pak Ustadz memberi wejangan di madrasah. Semua itu adalah pendidikan. Maka jangan remehkan pendidikan indonesia, karena kita semualah pelakunya.

Terlepas dari keformalitasan sebuah pendidikan, maka bolehlah kita tengok wajah pendidikan Indonesia selama 71 tahun Indonesia merdeka, Sampai sejauhmana peran pendidikan untuk menunjang bangsa dan bagaimana perlajanan model pendidikan di negri kita ini.

Banyak ilmuan indonesia yang memiliki hak paten, banyak pakar pendidikan indonesia yang berperan pada dunia, tak sedikit pula pemenang ajang-ajang bergengsi saintek award, olympiade fisika, kimia, matematika dan apalah-apalah itu yang berjaya diluar sana. Yaaa cukup membanggakanlah setidaknya wajah indonesia tak berseri pada sinar mentari itu. Tetapi ada pula yang naas pada nasibnya seorang ahli yang tidak ditampung pada tempat wadahnya, padahal anak negri asli. Lebih memilih penghasilan dan hidup serta fasilitas yang layak bila berkehidupan disana. Itu diluar coba juga kita lirik sumbangsih pendidikan pada negri. Bangku sekolah tak hanya melahirkan seorang ilmuan, pengusaha, PNS, pilot, polisi dan apalah semua,, tetapi juga banyak dari bangku sekolah yang juga melahirkan sosok politikus rakus, aktivis semu, karuptor ulung sampai si tukang maling ayam kampung.


Setelah UN tak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi para murid, namun acak-acakannya kurikulum juga sangat berdampak buruk bagi perkembangan pendidikan Indonesia, ketika formal menjadi tuntutan, ketika sertifikasi menjadi hal yang dicari-cari, dan ketika nilai adalah tawar menawar seolah pandai. Maka wajah pendidikan sudah begitu nampak. Tarik ulur sistem kurikulum yang membuat bingung, tata laksana karekter moral yang sudah tak natural, sampai promosi rebutan siswa antar lembaga pendidikan yang ada. Penataan dan singkronisasi lembaga non formal pendidikan seperti les-lesan juga patut menjadi perhatian. Maka suramnya wajah pendidikan harus menjadi perhatiaan.

Rumusan sederhana yang menjadi harapan bangsa akan pendidikan dan hasil produk pendidikan adalah konsistensi peran pendidikan bagi anak bangsa tanpa melihat siapa anak siapa. Pendidikan haruslah merata dapat dirasakan semua anak bangsa disemua kalangan. Kesetaraan dalam hak mendapatkan pendidikan yang menjadi dasar dalam hal wagra bernegara kadang juga disepelakan. Tak jarang anak dibawah umur tak dapat mengenyam bangku sekolah karena alasan ekomoni orang tua, maka harusnya porsi untuk mereka yang serba kekurangan harusnya diperhatikan oleh pihak yang berwewenang, tak sekedar mencari formalitas, tak sekedar menterengisasi wajah pendidikan pada luar negri tetapi bangsa sendiri tertatih untuk menadapatkan ilmu yang pasti.

Wahyu Hidayat
2 Mei 2016

(Bisik Lonceng Depan Kelas, Yang Katanya Hari Pendidikan)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »