"Harmoni Cinta Negeri Wujudkan Pelajar NU yang Luhur Berbudi Pekerti"

2:35 PM
Telah didawuhke oleh para ulama sepuh Nahdlatul Ulama waktu itu “antara islam dan nasionalisme janganlah dipertentangkan” dawuh Beliau Mbah Hasyim Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama, maka munculah fatwa Hubbul Wathon Minal Iman, Cinta Tanah Air sebagian dari iman.
Mengawali refleksi dalam rangka Harlah IPNU ke-61 dan IPPNU ke-62 kali ini, marilah sejenak kita kembali menganalisa bahwa diri kita adalah pelajar seutuhnya yang berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam peta global kita mengenal beberapa istilah kewilayahan semisal Negara Barat, Timur Tengah dan Timur, berikut dengan budayanya. Jika Negara Barat adalah representasi dari Semenanjung Eropa dan Amerika, Timur Tengah adalah Semenanjung Arab maka Negara Timur adalah Semenanjung Melayu dengan “Adat Ketimuran”nya. Adat Ketimuran yang tercermin dari Warga Indonesia lebih spesifik ke adat jawa merupakan warisan leluhur yang mana hendaklah kita jaga seutuhnya. Maka menyelaraskan sebuah aksi dalam Harmoni merupakan sebuah keharusan untuk nguri-uri dan mencintai negara ini kalau bukan kita siapa lagi yang akan mau mencintai negeri yang kaya raya baik dari segi warisan budaya maupun warisan sumber daya yang lainnya.

Sebagai dasar tersebut setelah kita menghayati seutuhnya dimana kita hidup dan bagaimana seharusnya cara hidup disuatu wilayah tersebut yang kita presentasikan sebagai Adat Ketimuran, Unggah-ungguh, Toto Kromo, Tepo Seliro dan saling menghormati maka itulah seharusnya diri kita.
Dewasa ini degradasi adat-istiadat kita semakin bergeser yang dahulu para sepuh mengajarkan saling menghormati antar sesama telah banyak yang luntur karena hegemoni moderenisasi global telah menyerang kita, pengaruh media sosial dengan konsep digitalisasi informasi telah banyak merubah perilaku anak negeri dimana yang dahulu kala, mushola-mushola, langgar-langgar dan surau-surau adalah tempat yang nyaman anak saat mentari bersembunyi di ufuk barat, pembelajaran yang sederhana selepas jamaah magrib perlahan telah melenceng jauh beralih kesinetron-sinetron yang tidaklah mendidik. Bercengkrama silaturrahim pada sebuah perkumpulan yang hangat, sudah jarang kita jumpai berganti dengan kehadiran sosmed yang juga menyerang anak negeri yang dalam penggunaanya tanpa ada saringan bahkan bersifat berlebihan. Sehingga jati diri anak negeri telah lupa bahkan hilang. Itulah mengapa Harmoni Cinta Negeri kita usung kembali bagaimana menyeruakkan kecintaan kita sebagai anak negeri yang kaya raya ini.
Sebuah potongan sajak karya ulama mbah KH. Bisri Musthofa (Ayahanda Gus Mus) Rembang “Andap asor ing wong tua najan liya // Tetepana aja kaya raja kaya // Gunem alus alon lirih ingkang terang // Aja kasar aja misuh kaya bujang” yang tertuang dalam Syi’ir Ngudi Susilo ini mengispirasi penulis untuk penuangkan kecintaan pada negeri melalui sikap yang harus kita benahi sesuai dawuh para kiyai sepuh. Keluhuran dalam berbudi pekerti sebagai anak negeri haruslah kita laksanakan dengan sepenuh jiwa. Pesan para ulama terdahulu seharusnya sangatlah komplit bagaimana kita sebagai anak negeri dalam bersikap dalam bertindak dalam berperilaku antar sesama bahkan sampai kita memperlakukan diri kita sendiri terhadap waktu kita, terhadap sesama kita terlebih lagi kepada Allah SWT.
Maka sangat pantas ketika keluhuran dalam berbudi pekerti benar-benar harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka menyelaraskan kecintaan kita pada negeri ini. Maka melalui rangkaian Harlah IPNU ke 62 dan IPPNU ke 61. PC IPNU IPPNU Kudus mengajak rekan rekanita menghayati penuh tema yang kita usung tersebut manjadikan pedoman perubahan sikap dan mental serta perilaku menuju kehidupan kita yang lebih baik.
Tak lupa atas nama pengurus cabang IPNU IPPNU Kudus mengucapkan selamat harlah IPNU ke 62 dan IPPNU ke 61. Semoga sukses.

Wahyu Hidayat
Sekretaris PC IPNU Kudus
2014-2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »