Urgensi Imajinasi dan Observasi Dalam Penulisan Cerpen

9:06 PM
Proses kreatif seorang penulis tentu saja berangkat dari acuan realitas kehidupan, yang meskipun pada akhirnya, kenyataan itu digubah, dimodifikasi, dan diperindah sedemikian rupa demi terciptanya sebuah cerita karngan yang lebih menarik, sesuai dan bermakna - Lenang Manggala
Atas dasar argumen tersebut, saya menyimpulkan dan sekaligus menyampaikan pengalaman yang saya dapat selama proses kepenulisan cerpen. Bahwa seelok apapun penyajian isi cerpen, ia tetaplah sebuah rekaan yang dibalut dengan imajinasi. Tetapi, imajinasi bukan menjadi penjamin indahnya sebuah karya cerpen, karena keindahan cerpen meliputi banyak hal dan yang paling berperan adalah ketersediaan penulis untuk menyisihkan sedikit waktu guna mengamati berbagai fenomena yang ada, lalu mengartikan dengan sudut pandang berbeda.
Mengartikan dengan sudut pandang berbeda adalah menginterpretasikan realita yang ada dengan pendapat pribadi penulis. Cara ini dapat diterapkan dalam keseharian kita. Semisal, anak kecil yang bertengkar dengan temannya, anak kecil yang mencuri mangga tetangga, dan tingkah lainnya yang masih labil sebenarnya semua sikapnya itu dapat berubah menjadi kedewasaan karena kecerdasan penulis menginterpretasikannya.
Melihat anak kecil bertengkar dengan teman sepermainannya memang sudah menjadi hal biasa, dan jarang ada orang yang mau memperhatikan sikapnya ini. Pernah suatu kesempatan, tidak sengaja saya mendapati anak kecil yang asyik bertengkar, saya diam dan memang duduk dari kejauhan mengamati. Dan apa yang terjadi? Memang anak kecil tidak peduli penyebab kemarahan yang ada dalam hatinya, karena masalah sederhana pun dapat menimbulkan pertengkaran hebat, saling kejar-mengejar, saling adu jotos hingga lempar batu. Tetapi, cobalah lihat apa yang akan terjadi setelah itu? Permasalahannya selesai. Jika bertemu esok hari pun sudah akrab kembali, seolah pertengkaran kemarin hari layaknya barang udik yang tak lagi diminati dan harus dibuang jauh-jauh. Disini yang saya maksud dengan mengartikan dengan sudut pandang berbeda.

Selanjutnya, penulis yang baik tidak hanya berhenti disitu. Ia akan terus menggali data, salah satunya dengan menghubungkan dengan problem lain. Anak kecil yang bertengkar karena masalah sederhana yang berujung pada pertengkaran, esok hari ketika bertemu saja sudah akrab kembali. Lalu dengan orang kita (remaja-dewasa-tua), apakah permasalahan yang ada diantara mereka dapat dengan cepat runtuh dalam ruang hatinya ketika esok hari bertemu, meski adu mulut dan sebagainya telah berlalu? Begitulah.
Penulis yang baik bukanlah dia yang hanya mengandalkan imajinasi semata, melainkan kesabarannya, keuletannya, ketelitiannya dalam menangkap berbagai realita yang sedang berkembang di lingkungannya.
Karena sesungguhnya disekitar kita, ada banyak pelajaran dan berbagai hal yang mulai diabaikan orang-orang yang sesungguhnya mempunyai makna yang dalam. (Aang RD)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »