Cerpen Aang Riana Dewi

8:42 AM
Sesal
  

-Benar, roda kehidupan itu berputar.-
            “Kau mau Papa belikan apa, Ken? Kebetulan Papa habis bayaran.” Papa menawarkan kesempatan kepada anak perempuan yang amat dibanggakannya itu. Yang ditawari tersenyum kegirangan, mulai menerawang apa paling diinginkannya.
            “Aku mau dibelikan ponsel saja, Papa. Karena kulihat ponsel temanku banyak yang baru, canggih pula. Aku kan nggak mau ketinggalan, dan biar berita terupdate selalu kudapatkan. Kan malu dong, anak yang Papa banggakan ini tertinggal pesatnya pengetahuan dan teknologi?” Niken menyusun alasan sedetailnya agar Papanya membelikan apa yang diinginkannya.
            Papanya mengangguk perlahan, menuruti. “Baiklah, besok papa belikan.”
            Begitulah, Papanya selalu memberikan apa yang dimaunya, tanpa memberikan kesempatan kepada anak perempuannya itu untuk berusaha lebih dulu.
            “Oya, kemarin temanku habis dari wisata ke Raja Ampat pah. Besok kesana ya, kan ini habis ulangan, refreshing. Yaa Pa?” Niken meminta lagi, Papanya pun mengangguk, menyetujui begitu saja.
            Kehidupannya memang dikelilingi dengan kebahagiaan yang lengkap dan serba ada. Papanya adalah seorang pekerja kantoran yang biaya perbulannya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, maka tak heran setiap yang dimintanya lantas dipenuhi. Karena sikap memanjakan yang terlalu inilah, yang menimbulkan sebuah rasa yang kelak akan mengganggu masa depannya; malas.
            Ponsel canggih dan terbaru sudah ada dalam genggamannya, asyik bermain ponsel hingga semua pekerjaan rumah yang biasanya rajin dilakukannya terabaikan. “NIKEN!” suara keras membuatnya terperanjat hingga ponselnya hampir terjatuh
            “A-ada apa, Pa?” jawabnya terbata melihat wajah seorang lelaki yang selalu memanjakannya itu memerah penuh amarah.
            “Lihat! Nilaimu memprihatinkan, kau mendapatkan peringkat terakhir Niken! Memalukan! Mana janji yang kau katakan pada papa dulu? Katanya dengan dibelikannya ponsel itu kau akan update dengan semua informasi. Buktinya? Nol besar, Ken! Papa kecewa.” Papa nya melempar buku laporan prestasinya, tepat diwajahnya.
            Tak mau membuat papahnya kecewa, ia mendekati perlahan dan mulai menjelaskan “Pa, maaf bukan niatku mengecewakan hatimu, Pa. kesalahan itu terjadi karena seringnya aku ikut organisasi, jadi aku kelelahan dan sakit Pa.” Niken beralasan, memasang wajah melas.
            “Iya sudah, tidak usah ikut lagi organisasi! Tidak ada gunanya, malah menurunkan prestasimu saja!” Papanya berkata tegas mengambil keputusan.
            Ia berhasil menjadikan organisasi sebagai kambing hitam dalam hal ini. padahal sejatinya tidaklah demikian, justru banyak orang yang dibesarkan dari organisasi.
            “Iya Pa.”
            “Fokuskan pada belajarmu dan tak usah ikut organisasi itu!” Tegas papanya lagi. Ia mengangguk, menuruti, tersenyum bahagia kemanjaan yang didapatkannya tidak hilang.
            Ia telah mencemarkan nama baik organisasi di depan seseorang yang amat membanggakan dirinya itu. Padahal yang salah bukanlah organisasi, karena organisasi bukanlah manusia yang bersifat buruk yang menghancurkan, tetapi organisasi adalah wadah tempat orang hebat yang ingin melatih sikap kedewasaannya. Ia telah meninggalkan wadah kehidupan yang amat berharga itu. bagaimana kah jadinya nanti, sosok dirinya yang semakin tak terkendali itu?
            “Nanti setelah pembelajaran di kelas jangan langsung pulang ya, ada rapat sebentar.” Kata ketua Osis padanya. Ia hanya diam, mengabaikan dan berlasan.
            “Maaf, aku ada acara keluarga.” Itulah alasan sederhana yang selalu dijadikannya senjata untuk menolak ajakan temannya untuk beroganisasi lagi.  Awalnya temannya menyetujui alasan itu, namun karena terlalu seringnya ia mengatakan itu sebagai alasan, terdapatlah rasa curiga teman-teman terhadapnya.
            Salah satu teman organisasi memberanikan bertanya padanya, “Kau kenapa sekarang perlahan menghilang dari organisasi? Apakah ada yang melukai hatimu di organisasi ini? Atau kau sedang ada permasalahan dengan salah satu anak organisasi ini?”
            Tanpa melihat yang menanyai dirinya, dan tetap bermain ponsel ia menjawab santai “Malas. Apa gunanya ikut organisasi, jika hanya menghancurkan prestasi? Nggak penting banget!”
            “Apakah sejahat itu organisasi menghancurkan prestasi? Bagiku tidak!”
            “Itu bagimu, bagiku tidak dan sangat menghancurkan. Jangan samakan aku denganmu. Aku akan keluar dengan tidak sopan jika kau katakan itu lagi.” Niken mengancam
            “Bukan menyamakan, itu hanya pendapatku saja.” kata orang itu membela. Niken tetap bersikeras mempertahankan argumennya.
            “Sudah. Jangan banyak omong, dan jangan tanya lagi keberadaanku jika perlahan kumenghilang dari organisasi tak berguna ini!” Niken menghina, dan dengan tanpa merasa bersalah ia melangkah pergi tanpa mengucap salam seperti yang dilakukan biasanya.
            Astagfirullah… Tidak ingatkah dia? Dahulu ia yang amat bersemangat berorganisasi, mengajakku organisasi hingga kini aku sangat paham sejatinya beroganisasi ia justru menjelekkan organisasi itu sendiri. Niken, organisasi tidaklah seburuk yang kau pikirkan. Yang buruk hanyalah persepsimu, pandanganmu terhadap organisasi itu dan kurangnya kesadaranmu dalam mempertahankan prestasimu sendiri. Kau salah, Ken!” orang itu berkata dalam hati melihat setiap langkah Niken meninggalkannya
            “Organisasi? Apa gunanya? Membuang waktu saja, lebih baik aku ikut kata papa agar apa yang aku minta selalu diberikannya.” Kata Niken dalam hati
            Kehidupan Niken tidak lagi bergelut dengan organisasi, bebas. Ya, bebas karena sebelumnya kebanyakan waktunya dihabiskan untuk organisasi. Namun, semenjak tak mengikuti organisasi ada yang berubah dalam dirinya, sifat malas amat memenjarakan hidupnya. Ia mulai malas belajar, dan melakukan kegiatan lainnya padahal dahulu sejak awal mengikuti organisasi ia selalu diajarkan disiplin menyelesaikan tugas. Tetapi, pada akhirnya ia justru menyalahkan organisasi yang begitu baik mendewasakan dirinya?
***
            “Pa, belikan aku laptop keluaran terbaru dong.” Niken dengan sikap manjanya meminta pada papanya. Kali ini papanya tidak langsung menyetuju, diam lumayan lama.
            “Belikan ya, Pa? Mau kan?” Niken menatap papanya penuh harap, berharap jawaban anggukan persetujuan.
            Ingin sekali papanya menuruti, memberi apa yang diinginkan putri kesayangannya itu. Tetapi, keadaan dan waktu tidak memungkinkan. Keadaan ekonomi keluarga ini mulai menurun, pendapatan papanya perbulan makin berkurang, papanya sudah turun jabatan begitu juga dengan pendapatan yang menurun.
            “Tapi, papa sedang tidak ada uang…”
            “Biasanya kan uang papa banyak. Harus belikan!” Niken berkata setengah memaksa, tidak peduli dan tidak mengerti bahwa sulitnya mendapatkan uang. Ia menjadi sosok egois dari kebiasaan permintaanya yang sering disetujui papanya itu.
            Ia lupa satu makna kehidupan; perjuangan.
            “Biasanya kan papa selalu ada uang,”
“Mengertilah, Ken. Pahami keadaan keluarga ini, utamanya ekonomi keluarga kita yang makin merosot ini”
            “Argh, mengerti apa?! Aku pergi saja. Jangan cari aku lagi, kelak aku akan mendapatkan semua yang kuinginkan! Jangan cari aku lagi!” tegas Niken sembari melangkah keras, berlari keluar dari rumahnya. Tangan ibunya segera menarik lengannya, “Jangan pergi, kau mau kemana?”
            “Ah, tidak penting aku dimana. Aku akan baik-baik saja dengan penghasilanku sendiri!” Niken yakin dengan keputusannya, pergi.
            “Tapi kau belum melaksanakan ujian terakhirmu, sebagai persyaratan lulusnya kau dari sekolah itu. Masa depanmu akan hancur karena-”
            Niken dengan cepat memotong perkataan ibunya, “Sudahlah. Aku pergi.”
            Langkah yang salah telah diambilnya, bagaimanakah jadinya nanti? Akankah kebaikan Tuhan berpihak padanya, dan lantas Tuhan memberikan kesadaran padanya?
            Satu tahun berlalu memberikan jawaban
            “Kau, Niken ‘kan?” tanya seorang perempuan berkulit putih yang mengenakan jas menunjukkan identitasnya seorang pekerja kantoran.
            Niken menoleh kearah suara itu, “I-iya. Kau, Fiska teman organisasiku dulu. Nggak kuliah?”
            “Kuliah.”
            “Kok seragammu seperti seorang pekerja kantoran?”
            “Aku kuliah sambil kerja, sebagai editor disalah satu penerbitan yang ada di Jakarta. Kau?” Fiska balik bertanya, menatap sedih temannya itu. hidupnya dahulu jelas bergelimang harta, sekarang ia temukan temannya itu dipinggiran jalan, sebagai pencuci piring.
            “Ya, seperti yang kau lihat sekarang.” Jawabnya malas. Fiska tak menjawab, diam.
            “Kau bagaimana ceritanya bisa menjadi seorang editor? Hebat sekali. Dan bagaimana juga bisa menyambung kuliah?” tanya Niken lagi. Sebuah pertanyaan yang menarik sekali untuk dijawab. Dan semoga jawabannya mampu menyadarkan Niken, bahwa hidup butuh proses dan perjuangan.
            “Aku menjadi seorang editor sebenarnya tidak karena kepandaianku dalam meneliti naskah dan menguasai bahasa. Aku tahu sedikit, bahkan tak cukup menjadi syarat seorang editor. Namun, aku punya relasi dengan teman organisasiku dulu, disana dia jadi manager utama, jadi aku ditariknya untuk masuk kesitu dengan mudah. Lalu ceritanya bagaimana aku bisa kuliah panjang, dan aku akan segera menceritakan padamu, semoga memotivasimu,”
            Fiska menghela nafas, menatap sedih Niken yang mulai menitikkan air matanya, “Aku dari keluarga tidak mampu, miskin. Makan pun tak menentu, membeli buku pun tak mampu, aku sering mengambil buku sisa adikku. Begitulah keadaan ekonomi keluargaku, miris! Sementara aku ingin sekali kuliah. Aku berusaha keras mencari uang kesana kemari, karena aku sadar hidup butuh proses dan perjuangan. Aku pun pernah sama denganmu sebagai pencuci piring, sampai akhirnya aku bertemu dengan Arda teman organisasiku itu, hingga ditariklah aku ke penerbitan itu. Aku mulai bekerja, uangnya untukku biayai kuliah dan kuberikan separuh untuk keluargaku.” Fiska memegang erat tangan Niken, menyemangati.
            Niken tersenyum getir menangis semakin deras, “Aku malu pernah menyalahkanmu dulu, bahwa organisasilah yang menghancurkan prestasiku, padahal sejatinya aku yang menghancurkan prestasiku sendiri dan organisasi justru kujadikan ‘kambing hitam’ menurunnya prestasiku. Maafkan aku, Ka. Aku salah!” Niken menyalahkan dirinya sendiri, memeluk Fiska.
            “Aku menyesal tidak menggunakan waktuku dulu, disaat ekonomi keluargaku sedang berkembang pesat aku justru menghamburkannya untuk kesenanganku sendiri. Aku lupa menyisihkan separuh harta itu untuk masa depanku. Satu tahun yang lalu, aku meminta sesuatu yang amat aku inginkan pada ayahku, tetapi karena ekonomi keluargaku menurun aku memilih pergi dari rumah itu, hingga terdamparlah aku dipinggiran kota sebagai pencuci piring seperti yang kau liat sekarang.” Niken menangis deras, menunduk lemah.
            “Aku tidak mau mendengar penyesalan yang terucap dari mulutmu. Tidak akan ada penyesalan, selama kau mau memperbaiki keadaan ini. Sekarang, pulanglah.” Fiska menasehati, Niken menatap sedih.
            “Tapi-”
            “Tenanglah, papamu amat merindukan putri kesayangannya. Ibumu juga amat merindukan keberadaanmu. Adikmu merindukan kakaknya yang cerdas untuk membantunya menyelesaikan PR-nya. Semua merindukanmu, pulanglah…”
            Niken mengangguk, “Baiklah, Ka.”
            Aku pulang…
            Niken memeluk papanya, “Papa…”
            “Papa amat merindukanmu, Ken. Rindu yang teramat rindu…”
            “Ibu juga Ken…”
            Kebahagiaan itu sudah lengkap. Kembali, setelah sekian lamanya hilang. Setelah merasa tenang, Niken mulai menyampaikan keinginan hatinya untuk melanjutkan kuliah.
            “Pa, bolehkah Niken meminta satu permintaan? Kuharap Papa dapat mengabulkan.”
            Papa takut kehilanganmu ketika papa tak berhasil mengabulkan permintaanmu.’ Bisik papa dalam hati
            “Kok diam, Pa? Ini nggak aneh-aneh kok. Niken ingin kuliah…”
            Wajah ayahnya berbinar namun terdapat separuh guratan sedih “Kuliah?”
            “Iya Pa, Papa mau mengabulkan ‘kan?”
            “Mau, tapi-”
            “Tapi apa?” Butiran bening mulai menetes perlahan dari kedua matanya, papanya menatap sedih putrinya itu.
            “Papa sekarang tidak bekerja di kantor lagi. Papa sekarang jadi padagang sayur.”
            “APA?!  PEDAGANG SAYUR?” Niken bertanya dengan nada keras, kaget, papanya mengangguk perlahan.
            Niken menangis makin deras, memeluk erat papa dan ibunya, “Niken ingin sekali kuliah.”
            Lama berada dalam pelukan kedua orang yang amat berharga dalam hidupnya itu, perlahan ia melepas pelukan itu, tersenyum menatap yakin, “Tidak mengapa, Pa. Tidak mengapa Papa sebagai pedagang sayur. Tidak mengapa jika Papa tidak mampu membiayai biaya kuliahku, aku akan tetap kuliah. Aku yakin mampu, aku akan memulianya dari nol. Hanya restu dari kalian yang kuharapkan, yang restu itu akan memudahkan jalanku.”
***
*Pelajar MA NU Ibtidaul Falah, Dawe.
Cerpen ini pernah termuat di Radar Kudus edisi 18 Oktober 2015

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »