Pahlawan Masa Kini

11:58 PM
“Demi negeri kau korbankan waktumu, demi bangsa rela kau taruhkan nyawamu. Maut menghadang didepan, kau bilang itu hiburan. Nampak raut wajahmu tak terdapat segelintir rasa takut. Semangat membara dijiwamu taklukkan mereka penghalang negeri. Hari-harimu diwarnai pembunuhan, pembantaian, dihiasi bunga-bunga ‘api’ mengalir sungai darah disekitarmu. Bahkan tak jarang air mata darah itu muncul dari tubuhmu, namun tak dapat runtuhkan tebing semangat juangmu. Bambu runcing yang setia menemanimu, kaki terlanjang tak beralas pakaian dengan seribu wangi basah dibadan kering. Kini menghantarkan Indonesia ke istana kemerdekaan.” –Jeritan Pemuda-
Perjuangan pahlawan dalam usahanya menghantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan tidak dapat dibayar dengan uang ratusan miliyar atau kekayaan Indonesia yang ada. Keringatnya, air matanya, jiwa pantang menyerah dan rasa tanggungjawab yang tinggi dalam memperjuangkan nasib dan martabat bangsalah yang membuat mereka tak gentar meski ratusan senjata berusaha menghunus harta berharga dalam diri mereka (baca: nyawa).
Momentum pertempuran di Surabaya menjadi legitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam satu buah perjuangan melawan agresi militer. Dan juga untuk memobilisasi kepahlawanan dengan cara militersitik, maka dari itu 10 november dijadikan sebagai hari pahlawan
Berorientasi pada Jasa Pahlawan         
Mengenang hari pahlawan tidaklah harus selalu melalui pelaksanaan Upacara seperti yang dilakukan diberbagai instansi. Karena seperti yang terlihat, semisal di sekolah, banyak siswa siswi yang tidak khidmat dalam melaksanakan upacara. Asyik berbicara dengan temannya, kurang memperhatikan pesan yang disampaikan dalam upacara, bahkan untuk menyanyikan lagu kebangsaan saja asal-asalan dan tidak menghayati. Setelah melihat realita ini, apakah upacara tetap efektif dijadikan sarana untuk mengenang jasa pahlawan?
            Selanjutnya, mengenang jasa pahlawan tidak harus dengan mencari banyak buku sejarah tentang perjuangan pahlawan lantas membacanya hingga tuntas. Itu cara yang tidak tepat, karena mengingat minat baca di Indonesia ini amat memprihatinkan. Lalu, bagaimanakah cara yang sebaiknya diterapkan dalam memaknai hari bersejarah ini?
Bambu Runcing= Semangat Patriotisme
            Dikutip dari Imam Nahrawi Pahlawan Olahraga di harian Jawapos rubrik Opini (Selasa, 10 November 2015), mengatakan bahwa situasi  sekarang memang tidak sama lagi dengan era Bung Karno, Bung Hatta, atau Bung Tomo, apalagi zaman Pangeran Diponegoro atau Pattimura. Problem ke-Indonesia-an hari ini bukan lagi Belanda atau Jepang yang datang ke tanah air dengan membawa senjata untuk menaklukkan.
            Problem yang kini sedang berkembang utamanya dikalangan generasi muda adalah penjajahan arus globalisasi dan kapitalisme yang perlahan mulai menghilangkan karakter bangsa. Melihat keadaan generasi muda yang semakin memprihatinkan inilah, maka diperlukan adanya penafsiran baru nilai-nilai kepahlawanan yang harus tetap tertanam sebagai jati diri pemuda Indonesia.
Di era sekarang nilai-nilai kepahlawanan bukan lagi diwujudkan dengan perang fisik, mengangkat senjata (bambu runcing) di medan pertempuran seperti pada jaman dahulu. Tetapi, nilai-nilai kepahlawanan yang dapat dilakukan dalam konteks kekinian adalah dengan menumbuhkan rasa semangat patriotisme dalam diri; mengerahkan dan memaksimalkan segenap potensi serta kemampuan untuk bekerja dan berkarya sebaik-baiknya demi memajukan pelbagai matra kehidupan berbangsa dan bernegara..
Pahlawan Masa Kini
Kita ini manusia unik dengan segala pemikirannya, utamanya generasi muda dengan daya dan pikirannya yang masih fresh. Maka tidak menjadi kesalahan jika negara kita ini menyandarkan harapannya kepada generasi muda untuk meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa dengan segala kemampuan dan kreatifitasnya.
            Dikutip dari Agung, Hari Pahlawan dalam Nasmod, (Selasa, 10 November 2015) mengungkapkan bahwa Indonesia masih membutuhkan sangat banyak pikiran maju untuk inovasi disegala sektor. Ada energi, transportasi, telekomunikasi, pangan, kesehatan, kemaritiman dan sebagainya. Semuanya membutuhkan kecerdikan, terobosan dan risiko. Para inovator layak diwadahi dalam aturan dan birokrasi yang sudah dibasuh dengan prinsip nasionalisme. Dan itu butuh dukungan pemimpin tertinggi secara konkret, tak sekedar slogan berbusa.
            Nasionalisme modern perlu dikuatkan dalam mengalahkan tantangan zaman. Perlu pemihakan negara kepada anak bangsa yang berani mengatasi persoalan konkret dan penuh kecerdikan, terobosan dan berani mengambil risiko. Bukankah sebenarnya itu inti kepahlawanan?



Kudus, 10 November 2015
Aang Riana Dewi, MA NU Ibtidaul Falah.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »