CERPEN : Oktober 2015

6:49 PM
Sesosok jiwa yang mampu memberikan keteduhan di saat sunyi terasa menusuk seramnya malam di saat mata mengantuk di ujung kantuk disaat mentari terlihat merangkak di langit timur disaat semburat awan perak terlihat dari jendela dunia disaat sekawanan manusia sibuk mengembara di alam bebas di saat langit timur tampak ranum dengan gugusan oranye lembayung senja dan di kala itulah sapa terutas pada dataran yang berjauhan.
                                                                        *****
Malam merengkuh sunyi menyisahkan pekat kegelapan di pelupuk mata memunculkan asap kemerahan yang bergerak tak ubahnya arakan. malam ini, tanpa sinar lembut raja malam atau kedipan bintang yang biasa mengintai genit di balik gumpalan awan. Menohokku dikala angin menerpa rambutku sekedar membasuh pipi, udara menyusup halus ke dalam pori-pori. Ketika angin tetap terjaga dalam nafas panjangnya, saat itu pula puluhan dedaunan sampai ratusan dedaunan siap mendongak keatas, apakah mentari yang menatapnya atau segumpalan awan menangis sendu kepadanya. "Semuanya memiliki batas akhir", lirihku dalam keheningan malam pertengahan oktober.
"Ya, hidup itu pilihan kan? Kalo mau maju harus berani membuat pilihan kan? Semua ada resikonya. Kalo gak namanya gak hidup tapi di surga" penjabaran yang terus berputar putar memenuhi otakku, berbagai pertanyaan berlomba lomba meminta penjelasanku, menuntut jawaban qoth.i untuk melerai kerusuhan yang sedang berlangsung dalam benakku. "Tidaklah dikatakan hidup, jika tak memiliki masalah?", Desahku pada angin yang berhembus kencang dalam kesunyian malam pertengahan oktober.
"Ya, meskipun gak mau, tapi misalnya suatu saat itu benar benar terjadi kan sama saja kita gak bisa menghindar" sebuah kesimpulan yang membuat burung burung tertegun dikala menangkap kicauannya, mencoba berulang ulang untuk terus berkicau dan memberhentikannya dikala desir mengepakkan sayapnya untuk terbang tinggi di angkasa bebas. "Akalanya pandangan mata mendinginkan", syukurku dalam tasbih doa yang setia ku kecup pada pencipta desah nafas ini ..
  Sentuhan mulut mungil serangga malam membuyarkan rebah khusuk dalam doa yang sedang kutasbihkan, mengutuk tanganku dalam sentuhan kasar yang mendarat dipipiku, nyeri yang tertinggal meninggalkan bercak merah melukiskan bentuk tangan. "Lengkap sudah malam ini" pikirku menyelami diri untuk permasalahan permasalahan yang sejenak saja terlalui.

                                                            *****
Pagi menjelma mengusir malam dalam pekatnya, raja siang kembali bertahta menyapa dunia sembari mengumbar tatapan tajam. Sapaan yang menimbulkan getaran berbeda dari biasanya, sapaan yang biasa memperkuat jiwa ketika hendak berlayar mengarungi samudera bahtera kehidupan tak ubahnya kedipan sinis yang mampu membakar barisan pepohonan yang berbaris rapi di sahara luas. "Akankah embun menjadi pudar sebelum pagi berlalu", tanyaku penuh keheranan pada rerumputan yang berselimut embun pagi.

            Segala keraguan yang dibisikkan setan nafsu tak henti mendekatiku, tidaklah heran jika dia melakukannya sekedar bercumbu, hanya saja karnanyalah nafsu mampu menghalangi seseorang dalam menyempurnakan ketaatannya. Namun tidaklah lupa nurani membangun tembok kekuatan untuk memisahkan diri darinya, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengusir segala tempat tempat keraguan. "Ketika bayangnya di matamu dan tempat tinggalnya di hatimu, seorang kekasih tak kan hilang dari hati kekasihnya" nasihat nurani mencoba menenangkanku melenyapkan segala keraguan yang berusaha mengikuti di belakang koridorku.
                                                                        *****
            Sekedar riakkan awan yang turun menapakkan diri di bumi kretek mampu menghadirkan kesejukkan melalui debu yang berlalu lalang karna sentuhannya terasa menggoda penciuman belum lagi efek yang ditimbulkan olehnya berupa garis garis warna yang mencakkar kaki kaki langit Benar benar memanjakkan mata, Berbagai macam warna berpadu satu kesatuan. Namun hanya angan yang menarik simpulan indah pada sudut bibirku, karna realita mengabarkan bahwa raja siang sedang berdiri tepat diatas ubun ubun kepalaku ..
Kota kretek tempat dimana ku menghirup dalam dalam kehidupan, nafas yang tak pernah berhenti sedetik pun, Ilmu yang tak pernah lengser setetes pun, dan berbagai persoalan yang mengingatkanku akan pentingnya muhasabah diri untuk semua hal yang belum, akan, atau telah terjadi pada sebuah ajang bergengsi untuk taqorrub karna kesadaran akan muqorrobah.
 Kota kretek tempat sederhana yang terukur jarak dari desa kelahiran yang telah membesarkanku dan mengajarkanku banyak hal sekedar menangis dan tersenyum, menuntunku tuk menginjakkan kaki di datarannya. Sekelompok tim bersarung lengkap dengan kokoh dan peci berlalu lalang mengamati berbagai bentuk huruf tak berharokat terwujud. Serta tim berhijab meng turunkan suara melafalkan huruf huruf bertopi.
 Kota kretek tempat yang memperkenalkanku akan makna tangisan dan senyuman, merasakan kasih yang tersimpan dan tak pernah terucap sejauh hati merasakan kebahagiaan atau kesedihan. Mendewasakan jiwa dikala menemukan hal yang mungkin atau tidak sampai menuntun kemana arah hati harus bersandar ...


                                                                        *****

            Lantunan adzan maghrib yang menggema di dataran jawa bumi kretek membangunkanku dari berbagai analogis yang tak usai menerpaku dari semalam. kegundahan, keraguan terus saja mengakrabiku seperti seorang teman baru yang ingin menjadi sahabat karibku. Seiring bergeraknya detik Terdengar rencana adzan yang dilantunkan, pelan dan semakin pelan sampai benar benar menghilang tak terdengar. menyuruhku untuk segera bergegas merayap khusuk dalam timang ketenangan. Mengagungkan asma illahi robbi merunduk syukur tuk semua cerita yang telah Ia berikan.
             Maghrib telah berlalu, membawaku pada nyanyian nyanyian indah lembaran suci. Seketika kehangatan terasa di jiwaku, menimbulkan ketenangan yang sedang kucari. Lembar demi lembar terus kujelajahi, kucoba lagi mencari energy positif yang ditimbulkannya. Semakin terus ku buka lembar selanjutnya, ketenangan benar benar singgah memenuhi segala penjuru jiwaku sampai tak terasa adzan selanjutnya telah memasuki waktunya, terdiamku tuk mendengar dan merasakan KESYAHDUANNYA.
 Malam ini, lewat lantunan suci sanjungan asma tuhan yang berkumandang kuhapus segala keraguan dan kegundahan yang mencekam diriku, kutitipkan salam rinduku untuknya sesosok jiwa, biar tuhan yang mengobati segala kegundahan dan keraguan yang sempat singgah karnanya. Senyum simpul terbentuk dibibirku, teryata satu malam panjang sampai siang terlalui dan menemukan malam kembali aku dirundung rindu. Pada pertengahan Oktober 2015, mendekati hari pengulangan sesosok jiwa, sungguh aku benar benar tercekam kerinduan. Kepada sesosok jiwa, selamat menelaah perjalanan hidup.
                                         
Nama: Umnia Lailatur Rohimah
Kelas: XI-Keagamaan
Sekolah: MA NU Banat Kudus




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »