Santri Napak Tilas Sejarah Melalui Kitab Kuning

9:18 AM
KUDUS,nukudus.com — Matahari belum nampak begitu jelas, kabut-kabut sisa malampun masih menyelimuti nuansa pagi yang sedikit menusuk tulang. Puluhan santri dengan kibaran sarung kebesarannya membubarkan diri tanpa aturan selepas menunaikan ibadah sholat subuh di masjid Baitussalam Kauman Jekulo.
Ya, mereka (santri) dengan kelihatan sedikit menahan ngantuk berduyun-duyun hendak mengaji atau mencari ilmu. Seraya menenteng  kitab Jalalain yang lumayan besar ukurannya itu, mereka menuju pondok pesantren An-Nur yang tak jauh dari masjid Baitussalam Jekulo kauman untuk mengikuti pengajian bandongan yang diampu oleh KH. Syafiq Nashan .
Pengajian bandongan tersebut tidak hanya diikuti oleh pesantren An-Nur saja, tapi santri-santri dari pondok sekitarnyapun boleh mengikuti, seperti ponpes Darul Falah dan Al-Qoumaniyyah.
Dalam pengajian hari Sabtu pagi (3/3), melanjutkan pengajian sebelumnya, yakni surat Al-Hajj ayat 25-26. Dalam ayat tersebut, Ketua MUI Kudus  menerangkan bahwasanya kekufuran Raja Abrahah yang ingin menguasai kota Makkah dan memindah Ka’bah ke negerinya, yaitu Yaman.
Namun keserakahan tersebut hanyalah keinginan yang belum tercapai. Karena kota Makkah merupakan kota suci yang telah di jamin-Nya dari segala macam bentuk kekisruhan. Dan Allah telah berjanji untuk mencicipkan mereka pada api neraka.
“Terbukti, sebelum keinginan mereka tercapai, terlebih dahulu pasukan burung Ababil dengan batu krikil dari neraka di cengkramannya menghabiskan mereka.”tuturnya.
Lebih lanjut KH.Syafiq menceritakan asal mula berdirinya Ka’bah.  Menurut cerita, katanya, pondasi awal Ka’bah terlebih dahulu dibuat oleh malaikat, yang kemudian digunakan untuk Thowaf di Arsy. Baru kemudian pertama kalinya dibangun oleh Nabi Adam dan berlanjut sampai generasi Nabi Ibrahim dan Ismail.
Konon, saat pembangunan masa Nabi Ibrahim dan Ismail inilah yang masih tersisa hingga kini. Saat pondasi yang dibangun mulai meninggi, nabi Ibrahim menyuruh putranya Ismail untuk mencari batu sebagai pinjakan. Namun tiba-tiba datanglah Jibril dengan membawa batu dari surga.
“Anehnya batu tersebut secara otomatis bisa naik dan turun ketika dijadikan pijakan oleh beliau. Sehingga terdapat dua batu yang berasal dari surga, yaitu Hajar Aswad dan sebuah batu yang digunakan sebagai pijakan tadi, yang kini batu tersebut terdapat di makam Nabi Ibrahim.”cerita KH Syafiq seraya menyimpulkan hasil napak tilas nabi tersebut dijadikan runtutan genda haji yang telah ditetapkan oleh syara’. (ali Mahmud/adb)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »