Desakralisasi Pasca Ramadhan

7:10 PM



Oleh : Abdul Rochim
Bagi umat islam ramadhan selalu memiliki tempat tersendiri di hati. Entah itu berwujud ritual yang dijalani selama sebulan lamanya berpuasa ataukah dimensi-dimensi lain yang memiliki hubungan erat.
Tak disadari hal ini memunculkan fenomena yang tak terpisahkan dengan bulan suci ini. Fenomena masyarakat berbondong-bondong pergi ke surau atau ke masjid-masjid sangat jarang sekali ditemui di bulan-bulan lain.
Adapun arti berbondong-bondong di sini adalah dalam jumlah yang banyak. Jika pada bulan-bulan biasa tempat ibadah hanya terisi dua hingga tiga baris saja, di bulan suci ini masjid atau surau bisa penuh.
Dalam bulan suci ini juga kita sering menerima nasehat bahwa kalau puasa kita tidak boleh berbohong, mengumpat, marah dan lain sebagainya. Karena perbuatan itu bisa merusak pahala puasa. Tak semestinya juga jika tak puasa boleh melakukan perbuatan tersebut.
Dalam dunia pendidikan juga ditemukan fenomena unik. Jika dalam bulan-buan biasa murid atau siswa berangkatpukul tujuh, di bulan ini mereka dapat keringan boleh berangkat agak siang dan jam belajar dikurangi.
Karena mungkin logika berpikirnya, puasa itu menahan lapar sehingga wajar jika produktifitas waktu alokasi belajar itu dikurangi. Meskipun sudah jelas hadis Nabi Annaumu shoimi ibadatun, yakni tidurnya orang dalam keadaan puasa itu ibadah.
Jika tidur saja dianggap ibadah dan diganjar pahala bagaimana dengan kerja kita dalam keadaan puasa. Berarti puasa menawarkan produktifitas bukan kontraproduktifitas kerja.
Penutupan tempat-tempat pelacuran dan pemusnahan miras pun tak ditemui di selain bulan Ramdhan.
Sakralisasi
Sebetulnya fenomena ramadhan masih begitu banyak untuk kita bicarakan di sini. Tapi mungkin jika terlalu banyak penulis paparkan akan sangat menjemukan bagi pembaca.
Ada satu poin yang ingin penulis ketengahkan di sini adalah Ramdhan mencapai sakralisasi oleh masyarakat. Ini pula yang menyebabkan semangat spiritual masyarakat dalam bulan suci ini begitu kuat.
Pensakralan ini memang dipengaruhi oleh beberapa dalil-dalil religi sehingga Ramadhan memiiki tempat istimewa di hati umat, sehingga perlakuan pun istimewa.
Biarlah Ramdhan ini tetap istimewa, karena pada hakikatnya Ramadhan memang istimewa baik secara juridi maupun de facto.
Desakralisasi
Namun yang perlu dibenahi di sini adalah desakralisasi di luar waktu-waktu Ramadhan. Pertanyaan kritisnya, apakah artinya kita boleh berzina di tempat pelacuran karena di luar bulan suci ini tempat pelacuran tak ditutup? Apakah kita boleh menenggak miras di luar bulan istimewa ini soalnya di luar bulan ini minuman-minuman tak dimusnahkan?
Jika pahala dalam bulan puasa dilipatgandakan sehingga kita berbondong-bondong menuju masjid atau surau, apakah berarti di bulan lain tak perlu seperti itu.
Sama juga dengan jika saat kita puasa tak boleh mengumpat atau tak boleh berkata bohong, apakah di bulan lain kita boleh berbuat yang demikian.
Ramadhan malah akan menemukan makna sacral yang hakiki manakala mampu menginspirasi di bulan-bulan lain, dengan mencegah desakralisasi di luar bulan Ramdhan. La haula wala quwwata illa billahil aliyil adhim

Penulis adalah Ketua Kader Utama Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU Kudus)

Share this

Related Posts

First

1 komentar:

Write komentar
September 17, 2011 at 7:36 PM delete

Hemmm Semoga Bermanfaat Post-nya .... dirumat ya ...

Reply
avatar